On Thu, 27 Apr 2000, Iman S. H. Suyoto wrote:
> > Biasanya teknologi yang memberikan kemampuan pada pengguna untuk melakukan
> > kustomisasi se-"pribadi" mungkin akan memberikan "ikatan" yang lebih kuat
> > bagi si user untuk melakukan eksplorasi.
>
> *mungkin*. sayangnya walaupun orang dengan rambut kepala sama hitam, belum
> tentu gitu. di psikologi eksperimental tuh, orang (atau binatang) tuh
> dikasih stimulan, abis itu diliat efeknya. stimulan yang sama dapat
> menghasilkan yang berbeda.
He..he.eh. itu mah masih pakai pendekatan "Behaviourism"... pendekatan ini
(stimulan approach) sudah tidak dipakai lagi (digagalkan oleh yang namanya
Pavlov experiment).
Kenapa bisa berbeda karena ada "internal process" (makanya sekarang
berkembang dalam psikologi (sayang di Indonesia mungkin belum masuk di
buku jurusan psikologi..he.he.h), yaitu pendekatan ala "Human Information
Processing" (HIP).
Pendekatan ala HIP ini diawali oleh researcher di HCI/AI dalam memandang
proses "reasoning" dari manusia. Nah terus para ilmuwan psikologi yang
banyak terlibat cross discipline melihat pendekatan ini, dan tertarik
untuk memasukkan dalam pendekatan di psikologi.
Ada satu model yang menarik dalamanya PUMA (ini gabungan
psikologi/AI/HCI).
> sama aja ama ini. dikasih teknologi tertentu, belum tentu semua orang
> merasa persuaded buat explore lebih jauh, ada yang malah enggan, atau
> malah kadang-kadang walaupun mau, tpapi malah keadaannya ga memungkinkan.
> contoh pengalaman pribadi saya, saya sempet aga ke-discourage waktu saya
Nah ini dilatar belakangi si pengguna sendiri 8-) Saya tergolong
beruntung tidak memperoleh hal itu.. dari install Linux era sebelum Red
Hat 5.1 8-)
Bad experience memang mempengaruhi penilaian (sama dengan saya pakai
Windows sering hang...) Tetapi bad experience ini bisa juga tumbuh karena
langkah yang kurang tepat dilakukan ketika "mulai mempelajari sesuatu"
> kita mesti maen-maen ama api-nya, tuh. sult juga, dan ga
> semua orang bisa. bukannya ga mungkin, sih. apa jangan-jangan kebanyakan
> orang udah puas kali ya ama user interface windows yang standar?
Nah kustomisasi yang sulit ini yang menyebabkan sebetulnya
- Sulit dibuat "usability untuk tiap orang"
- Sulit menjadikan user "attach" pada personalitas GUI yang dimilikinya
Rata-rata hanya mengambil "bagus" karena biasa dan umum.
> persepsi user juga. saya sedikit ngerti ini, karena saya lagi bantuin
> seseorang, mahasiswi psikologi, mengenai masalah persepsi ini. saya
> bikinin software buat dia, dan respondennya bakal make software itu.
Tingkat persuasive memang bergantung pada user dan pad "persepsi user itu
terhadap world". He..he kalau ini bidan riset saya bisa panjang ntar
ceritanya....
Saran saya ada baiknya baca buku Thimbleby mengenai User Interface Design,
buku ini cukup filosofis. Di antara buku HCI yang saya baca (Don Norman,
J Nielse, Dix, dll saya tetap favorit dg Thimbleby ini, makanya saya
ngerayu dia jadi pembimbing ke 2 saya..he.he.)
> > orang belajar menulis "homepage" dibandingkan sistem HyperText yang
> > lainnya.
>
> wah, kalo saya mah pake html buat nulis homepage karena standar. :-) jadi
> ya, mau ga mau.
Karena standard dan "open"...8-) orang dengan mudah terenkourage untuk
belajar menulis dg TAG ini....
Ini salah satu contoh bahwa "persuasiveness" tidak saja ditentukan oleh
user tapi ditentukan oleh "keterbukaan teknologi itu"
Saya banyak paper soal ginian kalau tertarik...
IMW
------------------------------------------------------------------------
[EMAIL PROTECTED] - Mailing List (milis) MIKRODATA
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
Website : http://mikrodata.co.id
FTPsite : ftp.mikrodata.co.id
Archives : http://www.mail-archive.com/forum%40mikrodata.co.id/
Milis ini menjadi kontribusi rubrik Konsultasi, Klinik Virus, Opini IT,
Klinik Linux, dan Antar Pembaca di MIKRODATA, Info Komputer,
Detikcom (i-Net), KOMPAS Cyber Media (KCM), dan AntiVirus Media.