Assalamu 'alaikum

Sekedar ingin menyapa milisers yang saya cintai, saya ingin ungkapkan
gejolak hati (kayak kasmaran aja!) yang selama ini terpendam.

Suatu kali saya beradu argumen dengan salah seorang teman yang juga
panutan saya tentang istilah "komitmen" yang sering didengungkan oleh
para penggerak reformasi di organisasi kita. Saya mempertanyakan apa
esensi "komitmen" bagi kemajuan Ditjen Perbendaharaan dalam era
reformasi seperti sekarang. Argumen saya terpatahkan ketika beberapa
hari setelah kejadian itu, muncul sebuah artikel di Kompas tentang
pentingnya "komitmen terhadap organisasi", kongruen dengan konsepsi
para penggerak perubahan di organisasi kita.

Sebagai seseorang yang memiliki karakter gak mau kalah (kalo di
assessment,penilaiannya positif atau negatif,ya?), saya berargumen
bawha dalam tradisi bermaysrakat dan berorganisasi, kita mengenal tiga
tipe "komitmen": "komitmen terhadap individu","komitmen terhadap
institusi (organisasi)", dan "komitmen terhadap nilai (kebaikan)"

"komitmen terhadap individu" didasari oleh hubungan leaderships dan
followerships. orang yang di-komitmen-i memiliki daya magnet yang
mampu mendapatkan jawaban "ya" kala ia menginginkan "ya", dan jawaban
"tidak" kala ia menginginkan "tidak" dari orang yang memberikan
komitmen. Konsepsi ini dapat dilihat pada fenomena sekelompok orang
yang membela dan membeo habis-habisan atas pernyataan dan haluan
pemimpinnya,walaupun mayoritas orang yang lain menggap pemimpin mereka
kontroversial. komitmen jenis ini cenderung berkarakter sempit dan
kurang mendapat tempat dalam praktek keorganisasian,walaupun dalam
praktek kemasyarakatan,orang-orang dengan komitmen jenis ini bisa jadi
kelompok mayoritas dalam masyarakat kita.

"komitmen terhadap institusi (organisasi)" didasari oleh hubungan
historis antara orang yang berkomitmen dengan organisasi yang
di-komitmen-i. Fenomena polarisasi keberagamaan sebagian masyarakat
Indonesia berdasarkan organisasi massa yang besar dan mengakar
sehingga menjadikan organisasi tersebut sebagai label dari
keberagamaan mereka. Suatu kali salah seorang teman saya mendapat
tawaran untuk mengisi suatu jabatan, namun dengan kerendahan hati dia
mengatakan "saya akan tetap di organisasi yang telah membesarkan saya". 

"komitmen terhadap nilai (kebenaran)" didasari oleh pemahaman orang
yang berkomitmen tentang suatu nilai yang diyakini kebenarannya.
Komitmennya hanya diberikan kepada nilai-nilai tersebut, siapapun dan
institusi apapun yang mengusungnya. Suatu kali Khalifah Umar ra
memberikan khutbah, sesaat setelah segenap kaum muslimin membai'atnya
sebagai pemimpin. Di bagian akhir khutbahnya ia mengajak segenap kaum
muslimin untuk mengingatkan dan meluruskannya apabila ia melakukan
kesalahan,dan salah seorang dari yang hadir berteriak "sekiranya
engkau tidak lurus dalam memimpin kaum ini, maka akan aku luruskan
dengan pedangku ini" seraya mengacungkan pedangnya.

Saya secara pribadi melihat bahwa kebutuhan organisasi terhadap
orang-orang yang memiliki komitmen tinggi terhadap oganisasi adalah
sebuah keniscayaan mengingat tugas reformasi kita belum selesai dan
kita tidak ingin direcoki dengan orang-orang yang mencari "comfort
zone" belaka. Namun, pada satu momen ketika kita harus memilih antara
"komitmen terhadap organisasi" atau "komitmen terhadap nilai-nilai
reformasi", mana yang harus kita menangkan? Ini yang terjadi ketika
kita harus memberi penilaian terhadap orang-orang yang mengatakan
"Saya memang pernah mengajukan pindah ke unit eselon satu lain, tapi
setelah saya melihat bahwa reformasi birokrasi banyak membawa
perubahan nilai-nilai yang positif yang tidak terbayangkan sebelumnya
saya memilih untuk tetap bersama Ditjen Perbendaharaan".

Jadi, memang ada orang-orang yang berkomitmen terhadap organisasi
karena dilandasi komitmennya terhadap nilai-nilai. Mereka siap
meluruskan bila reformasi berjalan tidak lurus dengan mengangkat
"suara" dan/atau "pena". Mereka cinta kepada Ditjen Perbendaharaan,
tapi lebih cinta kepada kebenaran.

Wallohu a'lam



Kirim email ke