Dear Miliser yang budiman,

Pak Subasita benar, kalau ada indikasi bahwa ujung-ujungnya adalah “minta uang” 
maka, apapun modus operandi yang digunakan, hampir bisa dipastikan bahwa itu 
merupakan upaya penipuan dengan mengatasnamakan pejabat di Setditjen/Bagian 
Kepegawaian.  Pada umumnya kasus penipuan untuk mendapatkan uang tersebut 
terjadi tidak lama setelah SK mutasi pejabat/pegawai dilaksanakan.  Sayangnya 
meskipun kejadian tersebut sudah berulangkali terjadi dan bahkan calon korban 
juga sebenarnya sudah mengetahuinya, tetapi selalu saja ada celah dimana calon 
korban merasa terhipnotis sehingga akhirnya ia benar-benar menjadi korban 
penipuan.
   
Sebenarnya kasus penipuan dengan memanfaatkan informasi mutasi pegawai sebagai 
ladang untuk mencari (mencuri) uang sudah sejak lama terjadi dan pernah 
mengalami pasang surut.  Dari dulu solusinya kurang lebih sama, yakni 
menghimbau dan mengingatkan kembali supaya para pejabat/pegawai (terutama di 
daerah) tidak terkena tipu daya mereka yang berusaha mencari/mencuri uang 
dengan cara mendiskreditkan pejabat/pegawai kita di (Bagian Kepegawaian) 
Setditjen. 

Selain menggunakan cara-cara lama (mengingatkan para pegawai kita supaya 
selalu/tetap waspada terhadap praktek-praktek penipuan tersebut), saya 
mengusulkan agar dicari/digunakan cara-cara baru untuk menyelesaikan masalah 
kasus penipuan tersebut.  Salah satu cara/solusi baru yang bisa dipertimbangkan 
adalah kerjasama antara kita dan unit-unit yang berkompeten (KPK, pihak 
perbankan, telkom, kepolisian dll.) dalam melacak para pelaku criminal dalam 
kasus penipuan tersebut.

Bukankah sudah sekian kali KPK telah membuktikan bahwa kasus-kasus korupsi yang 
di atas kertas tidak mungkin dapat dibuktikan tersebut ternyata (dengan 
menggunakan cara-cara yang luar biasa) akhirnya bisa dibuktikan?  Kita memang 
bukan KPK, tetapi saya percaya KPK bisa membantu kita untuk menyelesaikan 
masalah kasus penipuan tersebut.
     
   
Salam,
budisan      


--- On Thu, 2/5/09, suba sita <[email protected]> wrote:
From: suba sita <[email protected]>
Subject: [Forum Prima] awas penipu, lagu lama
To: [email protected]
Date: Thursday, February 5, 2009, 12:35 AM

Hari ini kepala KPPN Buntok, Pangkalan Bun, Sampit, di telpon orang yang
mengaku sebagai Sekretaris DJPBN yang ujung-ujungnya minta di transfer
uang.

Modus ini sebenarnya sudah usang. Yang di tilpun biasanya kepala kantor
yang masih baru. Yang mungkin dianggap masih "disoriented" . Biasanya
diawali dengan basa basi menanyakan keadaan di tempat baru, dilanjutkan
dengan memberi janji-janji manis dan ujung-ujungnya minta duit.

Tahun yang lalu juga, ada telpun dengan modus yang sama. Dan hampir juga makan 
korban, tapi masih di selamatkan YME, sadar.

Modus yang kedua, ketika habis pelantikan dan para Kepala Kantor belum
sampai di tempat tujuan, kantor yang di tuju sudah ada yang telpon
mengaku Ka kantor yg baru minta ditranfer dana talangan untuk pindahan.
Ada yang kena. Kasubag umumnya transfer duit. Ternyata ka yang baru
tidak pernah menghubungi.

Kita perlu waspada, kenali suara pemimpin2 kita, tanya sana tanya sini
sebelum melakukan tindakan. Cek n recek. Kunci yang paling mudah adalah
kl UUD pasti itu tidak benar alias gadungan.

Selamat bertugas di tempat baru, terutama untuk para Ka Kantor dan waspada. 
Mudah-mudahan bermanfaat. Subasita.



Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman ke 
Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger .yahoo.com/ invite/


 

      

    

           
  
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke