Akibat hujan deras yang mengguyur daerah Ciputat dan sekitarnya selama 6 jam 
sejak pukul 6 petang hingga 01.00 dini hari berikutnya, sekitar pukul 05.00 WIB 
Jumat (27/3) tanggul Situ Gintung yang terletak di Kelurahan Cireundeu, 
Tanggerang Selatan, jebol. Jutaan kubir air yang tumpah memorakporandakan 
ratusan rumah yang terletak di daerah bawah tanggul dan menelan puluhan korban 
jiwa. Sungguh peristiwa yang sangat mengejutkan. Sebelumnya, kita pun 
dikejutkan oleh munculnya fenomena saat ribuan orang yang sudah terdesak di 
sudut batas keputus-asaan akan datangnya kesembuhan dengan air mujarab setelah 
dicelupkan batu Ponari. Musibah jebolnya tanggul Situ Gintung terjadi di saat 
dunia mengampanyekan 60 Earth Hour untuk bersatu selama 60 menit dengan 
mematikan satu lampu per satu jiwa demi menekan laju pemanasan global. Lantas 
apa hubungannya antara musibah Situ Gintung, fenomena Ponari dan kampanye Earth 
Hour?

Lagi-lagi air yang menjadi medium "perenggut" nyawa banyak orang. Masih lekat 
di ruang nalar traumatis kita saat bah besar menerjang daerah Aceh, Nias dan 
bahkan sampai wilayah tetangga Thailand, 26 Desember 2004. Korban nyawa pun 
berjatuhan. Bukan puluhan, apalagi ratusan, tapi saat itu ribuan nyawa 
melayang. Menyusul kejadian serupa terjadi di daerah Parangtristis Yogyakarta, 
Pantai Pangandaran Jawa Barat, dan daerah-daerah lainnya di Indonesia terutama 
yang merupakan daerah di tepi pantai. Mengapa air kembali menjadi "mesin 
pembunuh" banyak nyawa. Padahal sebelumnya air justru diagung-agungkan menjadi 
medium penyembuh banyak penyakit yang diderita oleh sebagian dari ribuan pasien 
Ponari. 

Disinilah Sang Pencipta Air ingin memberikan petunjuk kepada manusia untuk 
kembali menggunakan akal sehat dalam mencari solusi atas permasalahan hidup 
yang dialaminya. Kita diingatkan untuk tidak begitu saja menyerah atas segala 
derita yang menimpa. Kita diajarkan untuk menempatkan sesuatu itu pada 
tempatnya. Air tetaplah air. Obat adalah obat. Setiap penyakit yang diderita 
manusia pasti ada obatnya. Air memang bisa menjadi obat ketika air tersebut 
diniatkan untuk kesembuhan dengan dibacakan beberapa ayat Alquran sebagaimana 
yang disunahkan Nabi. Bahkan seorang professor Jepang mengakui hal ini melalui 
penelitiannya terhadap perubahan molekul air saat diperdengarkan suara-suara 
yang memiliki gelombang suara tertentu. Untuk itu, menganggap air yang telah 
dicelupkan "batu petir" milik Ponari dapat mengobati berbagai penyakit pasien 
yang telah putus asa dengan pengobatan medis, merupakan bentuk pengingkaran 
dari sifat alamiah air itu sendiri. Bahkan anggapan ribuan pasien Ponari 
dikhawatirkan akan menjerumuskan mereka ke dalam sifat kemusyrikan dengan 
menuhankan sebuah benda yang dapat menyembuhkan. 

Musibah Situ Gintung memberikan pelajaran sangat berarti bagi kita. Bagaimana 
pun kita harus dapat mengembalikan fungsi air dan memahami sifat alamiah dari 
air. Air akan menerjang apa saja saat kekuatannya meningkat, bahkan untuk 
menjebol tanggul yang memang sudah sangat tua umurnya. Air akan mengalir 
mencari tempat-tempat yang lebih rendah. Oleh karena itu, jutaan kubik air Situ 
Gintung tidak memorakmorandakan tempat wisata yang selama ini dianggap sebagai 
biang keladi jebolnya tanggul. Karena memang tempat tersebut ada pada posisi 
yang lebih tinggi daripada permukiman warga yang terkena musibah. Bukan saatnya 
kita menyalahkan satu sama lain atas jebolnya tanggul Situ Gintung, namun 
salahkanlah diri kita yang sudah melupakan-Nya dan bahkan menyekutukan-Nya, Zat 
yang Maha Menyembuhkan.

Kampanye 60 Earth Hour tepat dilaksanakan di seluruh dunia tentunya juga di 
Indonesia pada Sabtu (28/3) pukul 20.30 dengan mematikan satu lampu selama satu 
jam. Kampanye diserukan guna menekan laju pemanasan global yang di derita bumi 
ini. Artis, pelaku bisnis, politisi, pemerintah, atau siapapun kita, diharapkan 
untuk bersatu menyukseskan program ini selama 60 menit. Dapat dibayangkan jika 
semua pihak, siapapun kita, mengikuti kampanye ini maka dunia dan juga 
Indonesia akan gelap gulita selama satu jam itu. Namun, tanpa kita sadari bahwa 
ternyata saudara-saudara kita yang menjadi korban musibah Jumat kelabu ini 
sudah menjalankan kampanye ini. Mereka sejak Jumat subuh sudah bergelap gulita 
sampai kini. Gelap gulita akan nyala lampu pada malam hari, juga gelap gulita 
akan masa depan setelah sebagian besar harta benda mereka ludes terbawa air. 
Merekalah pahlawan Earth Hour sesungguhnya. Ironis memang, mereka menjadi 
pahlawan sekaligus korban dari pemanasan global. Mereka bukan hanya tidak 
menyalakan lampu pada 28 Maret antara pukul 20.30-21.30, tapi mereka tidak akan 
pernah lagi menyalakan lampu di tempat tinggalnya yang memang sudah porak 
poranda sampai benar-benar dilakukan rekonstruksi dan rehabilitasi tempat 
tinggalnya. 

Saatnya kita menyadari betapa banyak yang harus disyukuri dengan hanya 
mematikan lampu selama satu jam. Di samping tentunya simpati dan bantuan harus 
tetap dikucurkan kepada saudara-saudara kita di sana, di kawasan musibah Situ 
Gintung.

Rahman: Selayar 29 Maret 2009

tulisan yang sama juga saya posting di :
- www.rahmanjakarta.wordpress.com
- www.berita.kppn.net
- http://finance.groups.yahoo.com/group/budgetof97/

Kirim email ke