Para Miliser yang budiman,

Berikut ini adalah kutipan dari tulisan Peter M. Senge (The fifth discipline: 
The art and practice of the learning organization) yang saya terjemahkan secara 
“sangat terlalu bebas”.   Mudah-mudahan pesan pokok yang ingin disampaikannya, 
terutama yang terkait dengan perubahan cara kita berpikir, dapat sampai kepada 
pembaca secara relatif utuh dan selanjutnya dapat membantu kita untuk melihat 
permasalahan organisasi dengan menggunakan cara pandang dan juga cara berpikir 
yang baru.

Tulisan tersebut saya ambil dari Classics of Organization Theory (Editor: Jay 
M. Shafritz dan J. Steven Ott), salah satu buku teks yang merupakan oleh-oleh 
saya dari Kanada sekitar sepuluh tahun yang lalu.

Semoga bermanfaat dan mohon maaf apabila terjemahan tersebut mengganggu 
kenyamanan pembaca ketika membaca(nya).  


Salam,
budisan     


BELAJAR DARI AIR YANG DITUANG KE DALAM GELAS

Realitas sebenarnya bergerak dalam lingkaran-lingkaran, tetapi kita seringkali 
melihatnya bergerak dalam garis-garis linier (lurus).  Salah satu alasan 
mengapa kita cenderung berpikir secara parsial atau terfragmentasi adalah 
karena keterbatasan bahasa yang kita gunakan untuk berkomunikasi.  Bahasa yang 
kita gunakan akan membentuk persepsi/ pemahaman tentang sesuatu yang kita 
ketahui.  Apa yang akan kita ketahui tergantung pada sejauhmana  kondisi kita 
siap untuk mengetahuinya.

Bahasa dengan struktur Subyek-Predikat-Obyek cenderung menghasilkan  pemahaman 
(cara pandang) yang linier.  Apabila kita ingin melihat saling 
hubungan/keterkaitan dalam suatu sistem, kita memerlukan suatu bahasa dengan 
format lingkaran-lingkaran. Tanpa bahasa dengan format baru tersebut, cara dan 
kebiasaan lama kita dalam melihat dunia akan menghasilkan pandangan-pandangan 
yang terfragmentasi dan, oleh karena itu, juga langkah-langkah aksi yang 
kontra-produktif.  Bahasa tersebut sangat penting digunakan dalam menghadapi 
isu-su permasalahan yang sangat kompleks dan dinamis, khususnya ketika 
individu, tim dan organisasi ingin mengetahui sesuatu dibalik 
peristiwa/kejadian dan kekuatan-kekuatan apa yang membentuk perubahan.       

Ilustrasi tentang sebuah sistem yang sangat sederhana berikut ini, yakni 
menuang air ke dalam gelas, mudah-mudahan dapat memberikan gambaran yang lebih 
jelas tentang bahasa (cara berpikir) baru tersebut.

Anda mungkin berkata, “Itu kan bukan sebuah Sistem, karena terlalu sederhana. 
Cuma menuang air ke dalam gelas.”   Tetapi, mari kita pikir sekali lagi.

Dari sudut pandang linier, kita katakan “Saya menuang air ke dalam gelas”.   
Tetapi, dalam kenyataan, ketika kita menuang air ke dalam gelas, kita 
memperhatikan permukaan air di dalam gelas bergerak naik.  Pada saat itu kita 
memonitor selisih antara tingkat permukaan air “saat ini” dan tingkat permukaan 
air “yang kita tuju (our goal)”.  Ketika tingkat permukaan air mendekati “yang 
kita tuju”, maka kita mengatur posisi pegangan tangan kita untuk memperlambat 
aliran air yang masuk ke dalam gelas.  Ketika permukaan air telah mencapai 
tingkat “yang kita tuju”, kita akan mengatur kembali posisi pegangan tangan 
kita untuk menghentikan aliran air yang masuk kedalam gelas.

Dalam kenyataan, ketika kita menuang air ke dalam gelas, kita telah 
mengoperasikan sebuah Sistem “regulasi air” dengan menggunakan lima variabel: 
tingkat permukaan air yang kita tuju (our goal), tingkat permukaan air saat ini 
(current), selisih antara kedua tingkat permukaan air tersebut, posisi pegangan 
tangan, dan aliran air yang masuk ke dalam gelas.  Kelima variabel tersebut 
diatur sedemikian rupa dalam sebuah lingkaran kausalitas (hubungan 
sebab-akibat) yang disebut proses umpan-balik (feedback). Proses umpan-balik 
(dua arah) tersebut terus berlangsung hingga permukaan air di dalam gelas 
mencapai tingkat yang kita inginkan. 

Dalam bahasa sehari-hari, ketika kita katakan “Saya menuang air ke dalam gelas” 
biasanya kita tidak memikirkan secara sangat mendalam tentang arti sesunguhnya  
dari ungkapan kalimat tersebut.  Kita pada umumnya hanya memaknai kalimat 
tersebut sebagai suatu kausalitas (hubungan sebab-akibat) yang sifatnya satu 
arah, yakni “Saya yang menyebabkan tingkat permukaan air di dalam gelas naik”.  
Atau lebih tepat kita katakan, “Tangan saya mengendalikan tingkat aliran air 
yang masuk ke dalam gelas”.  Sayangnya pernyataan tersebut hanya mengungkapkan 
setengah dari suatu proses umpan-balik, yakni proses mulai dari “posisi 
pegangan tangan”, “aliran air ke dalam gelas”, hingga ke “tingkat permukaan air 
di dalam gelas”.

Saya kira pernyataan yang merupakan setengah proses umpan-balik lainnya dan 
mempunyai arah yang berlawanan juga benar, yakni  “Tingkat permukaan air di 
dalam gelas mengendalikan tangan saya”.

Tetapi sebenarnya kedua pernyataan tersebut masih belum lengkap.  Pernyataan 
yang lebih lengkap adalah bahwa “niat saya untuk menuang air ke dalam gelas 
telah menciptakan suatu sistem yang mengakibatkan air mengalir ke dalam gelas 
ketika tingkat permukaan air relatif rendah, lalu berhenti bekerja ketika 
permukaan air telah mencapai tingkat yang kita inginkan”.  Dengan kata lain, 
“struktur” (kondisi realitas) mempengaruhi perilaku kita.   Penjelasan mengenai 
pengaruh timbal-balik antara aksi kita dan kondisi sistem sangat penting karena 
hanya melihat pada aksi individual dan mengabaikan “struktur” (kondisi 
realitas) yang dapat mempengaruhi aksi individual tersebut sesungguhnya 
merupakan sumber utama penyebab ketidakberdayaan kita dalam menghadapi 
permasalahan yang kompleks dan dinamis.      

Hal lain yang ingin “diluruskan” oleh perspektif sistem/umpan-balik adalah 
terkait dengan pandangan antroposentrisme yang melihat diri kita sebagai pusat 
dari kegiatan-kegiatan yang kita lakukan.  Penjelasan sederhana “Saya yang 
menuang air ke dalam gelas” menyiratkan tentang suatu kumpulan manusia (para 
aktor) yang berada pada pusat kendali kegiatan, sedang mengendalikan realitas 
yang nampak tidak bergerak.  Dari sudut pandang sistem, pelaku manusia 
merupakan bagian dari suatu proses umpan-balik dan tidak terlepas dari proses 
tersebut.  Hal tersebut merupakan pergeseran yang cukup signifikan dalam 
kaitannya dengan meningkatnya tingkat kepedulian kita (our awareness) terhadap 
realitas.   Kepedulian tersebut memungkinkan kita untuk menyadari bahwa 
sesungguhnya kita dapat mempengaruhi dan juga dapat dipengaruhi oleh realitas.  
Pandangan demikian sejalan dengan pandangan para ahli lingkungan yang 
seringkali menekankan bahwa kita merupakan bagian
 yang tak terpisahkan dari alam.

Perspektif sistem atau konsep umpan-balik juga terkait dengan masalah etika 
tentang siapa yang bertanggungjawab terhadap suatu masalah.  Dari sudut pandang 
linier kita selalu mencari seseorang atau sesuatu yang harus bertanggungjawab 
terhadap suatu masalah.  Sedangkan dalam perspektif sistem, setiap orang 
mempunyai tanggungjawab masing-masing terhadap permasalahan yang dihasilkan 
oleh suatu sistem.
Tentu hal tersebut bukan berarti setiap orang yang terlibat di dalam sistem 
mampu memberikan kontribusi yang sama untuk melakukan suatu perubahan.  Yang 
jelas, mencari “kambing hitam” merupakan pekerjaan yang sia-sia. 

Akhirnya, sebagaimana telah kita perlihatkan pada bagian awal tulisan ini, 
konsep pemikiran tentang sistem (proses umpan-balik) telah memperjelas tentang 
keterbatasan bahasa yang kita gunakan untuk berkomunikasi.  Apa yang akan kita 
ketahui tergantung pada sejauhmana  kondisi kita siap untuk mengetahuinya.

Tentunya ada banyak situasi dimana, menurut kita, penjelasan linier yang 
sederhana sudah mencukupi dan mencari proses-proses umpan-balik merupakan 
pekerjaan yang sia-sia.  Tetapi tidak ketika kita harus menghadapi 
permasalahan-permasalahan yang sangat kompleks dan dinamis, sebagaimana yang 
telah kita sampaikan pada awal tulisan ini.

      






      

Kirim email ke