Saya tadi malam nonton diskusi mengenai perekonomian Indonesia pasca BI ditinggal Boediono yg menjadi cawapres mendampingi SBY pd Pilpres 2009.
Dalam diskusi tsb, seorang panelis (Zulkiflimansyah, anggota komisi XI dari FPKS) mengatakan bahwa sebenarnya Pak Boed dan istri sudah ingin kembali ke Jogja dan menjadi pengajar saja, sudah tidak ingin masuk di pemerintahan apalagi menjalani politik praktis. Saya kemudian bicara pada istri menanggapi diskusi tsb, "Ya iyalah, sudah 65 tahun ngapain pusing2 mikir negara, apalagi harta sudah 22 milyar cukuplah buat bekal hari tua dan bekal anak cucu, tinggal di rumah sambil momong cucu udah nyaman itu". Istri saya cuma menjawab dengan senyuman. Tp dalam hati saya mengatakan mungkin panggilan untuk mengabdi kepada Negara daripada keinginan pribadi untuk hidup tenang. Yang menarik dari diskusi tsb adalah mengenai siapa pengganti Pak Boed di BI. Seorang panelis (saya lupa namanya) mengatakan bahwa yg bisa menggantikan Pak Boed bisa dari internal BI spt Pak hartadi dlsb, atau dari eksternal BI spt Sri Mulyani yg mampu mendobrak Depkeu dgn reformasi birokrasi. Namun pendapat itu disanggah oleh Zulkiflimansyah, dia mengatakan bahwa banyak sekali doktor bidang moneter di indonesia yg mampu menjadi Gubernur BI, bisa dari internal BI ataupun dari eksternal. tapi kalau Sri Mulyani kemungkinan akan dipertahankan dalam kabinet Indonesia bersatu apabila SBY kembali terpilih kembali menjadi Presiden RI. Saya setuju dengan pendapat Pak Zul, menurut analisa saya, Gubernur BI akan diisi oleh internal BI (bisa Miranda Gultom naik menjadi Gubernur BI karena jabatan lamanya akan diisi oleh Pak Darmin Nasution) sedangkan Bu Sri akan tetap menjadi Menkeu untuk melanjutkan reformasi birokrasi yg baru seumur jagung, bila ditinggal Bu Sri, reformasi birokrasi di depkeu bisa spt anak ayam kehilangan induknya. Sedangkan Menko Perekonomian dijabat oleh Pak Boediono merangkap sebagai wapres. saya pribadi berharap semoga Bu Sri tetap menjadi Menkeu, karena ada kekhawatiran dari internal Depkeu bila ditinggal Bu Sri, ketika Bu Sri diusulkan menjadi cawapres banyak teman2 saya yg berharap hal tsb tidak menjadi kenyataan. Bahkan di democrazy Mama Lorengs ketika dimintai pendapat mengenai peluang Bu Sri menjadi Cawapres SBY mengatakan bahwa Bu Sri masih dibutuhkan di Keuangan jd kecil kemungkinan dipilih SBY menjadi Wapres. Akhirnya hal tsb tjd ketika Pak SBY lebih memilih Pak Boed menjadi cawaprenya. Itu saja pendapat saya Wassalam --- In [email protected], ryu amakusa <ryulizm_band...@...> wrote: > > Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal... > > > Jumat, 15 Mei 2009 | 10:22 WIB > > Oleh Faisal Basri * > > Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan > Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan > Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu tergolong > sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia menyaksikan sendiri > kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh. > > Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF, simbol > Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan miring > lainnya? Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi Pak > Boed. Kali ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari sosok Pak Boed > yang kian terasa langka di negeri ini. > > Maju terus Pak Boed. Doa kami senantiasa menyertai kiprah Pak Boed ke depan, > bagi kemajuan Bangsa. > > *** > > Tulisan ini ditayangkan dalam blog pribadi Faisal Basri di Kompasiana > (http://faisalbasri.kompasiana.com/2009/05/14/pak-boed-yang-saya-kenal/) > > Sumber: > http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/05/15/10221414/sisi.lain.pak.boed.yang.saya.kenal > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >

