Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal...

Jumat, 15 Mei 2009 | 10:22 WIB

Oleh Faisal Basri *

Saya pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an lewat buku-bukunya yang 
enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir 1970-an. Kalau tak salah, 
judul-judul bukunya selalu diawali dengan kata ”sinopsis”, ada Sinopsis 
Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, Sinopsis Ekonomi Moneter, dan Sinopsis 
Ekonomi Internasional. Kita mendapatkan saripati ilmu ekonomi dari buku-bukunya 
yang mudah dicerna.

Pada suatu kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya untuk merevisi 
buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih serius sehingga bisa 
menghasilkan buku teks yang lebih utuh. Kala itu saya menangkap keinginan kuat 
Pak Boed untuk kembali ke kampus dan menyisihkan waktu lebih banyak menulis 
buku. Karena itu, ia tak lagi berminat untuk kembali masuk ke pemerintahan 
setelah masa tugasnya selesai sebagai Menteri Keuangan di bawah pemerintahan 
Ibu Megawati.

Pak Boed dan Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko Perekonomian) bekerja 
keras memulihkan stabilitas ekonomi yang “gonjang-ganjing” di bawah 
pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup mengesankan. Pertumbuhan ekonomi mengalami 
peningkatan terus-menerus.

Di tengah ingar bingar masa kampanye seperti dewasa ini, Ibu Mega ditinggalkan 
oleh wapresnya, dua menko, dan seorang menteri (Agum Gumelar). Ternyata 
perekonomian tak mengalami gangguan berarti. Kedua ekonom senior ini bekerja 
keras mengawal perekonomian. Hasilnya cukup menakjubkan, pertumbuhan ekonomi 
pada triwulan keempat 2004 mencapai 6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga 
sekarang.

Selama dua tahun pertama pemerintahan SBY-JK, perekonomian Indonesia mengalami 
kemunduran. Tatkala muncul gelagat Pak SBY hendak merombak kabinet, sejumlah 
kawan mengajak Pak Boed bertemu. Niat para kolega ini adalah membujuk Pak Boed 
agar mau kembali masuk ke pemerintahan seandainya Pak SBY memintanya. Agar 
lebih afdol, kolega-kolega saya ini juga mengajak Ibu Boed. Mungkin di benak 
mereka, Ibu bisa turut luluh dengan pengharapan mereka.

Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko Perekonomian. Mungkin 
sahabat-sahabat saya itu masih terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak Boed 
dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang giliran yang 
muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom muda untuk 
mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib Basri, Mas Bambang 
Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih atau jauh lebih muda dari saya.

Interaksi langsung terjadi ketika Pak Boed menjadi salah seorang anggota Dewan 
Ekonomi Nasional (DEN). Saya ketika itu anggota Tim Asistensi Ekonomi Presiden 
(anggota lainnya adalah Pak Widjojo Nitisastro, Pak Alim Markus, dan Ibu Sri 
Mulyani Indrawati). Ibu Sri Mulyani memiliki jabatan rangkap (jadi bukan 
sekarang saja), selain sebagai anggota Tim Asistensi juga menjadi sekretaris 
DEN. Pak Boed tak pernah mau menonjolkan diri walau ia sempat jadi menteri pada 
masa transisi.

Sikap rendah hati itulah yang paling membekas pada saya. Lebih banyak mendengar 
ketimbang bicara. Kalau ditanya yang “nyerempet-nyerempet,” jawabannya cuma 
dengan tersenyum. Saya tak pernah dengar Pak Boed menjelek-jelekkan orang lain, 
bahkan sekadar mengkritik sekalipun.

Tak berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang membantunya di 
Kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ketegasan Pak Boed ketika hendak 
memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang sampai sekarang 
terkatung-katung.

Suatu waktu menjelang Lebaran, Pak Boed dan sejumlah staf serta, kalau tak 
salah, Menteri Keuangan dipanggil Wapres. Sebelum meluncur bertemu Wapres, Pak 
Boed wanti-wanti kepada seluruh stafnya agar kukuh pada pendirian berdasarkan 
hasil kajian yang telah mereka buat.

Pak Boed sempat bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: “Tak ada yang 
konflik kepentingan, kan? Ayo kita jalan, Bismillah… Keesokan harinya, saya 
membaca di media massa bahwa sekeluarnya dari ruang pertemuan dengan Wapres, 
semua mereka berwajah “cemberut” tanpa komentar satu kata pun kepada wartawan.

Adalah Pak Boed pula yang memulai tradisi tak memberikan “amplop” kalau 
berurusan dengan DPR. Tentang ini, saya dengar sendiri perintahnya kepada Mas 
Anggito.

Ada dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa dengan Pak Boed. 
Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Pak Boed masih Menteri 
Keuangan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed dijemput oleh Ibu. Dari 
kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri mobil tua mereka.

Kedua, saya dan istri sekali waktu bertemu Pak Boed dan Ibu di supermarket 
dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak Boed mendorong keranjang belanja. 
Rasanya, hampir semua orang di sana tak sadar bahwa si pendorong keranjang itu 
adalah seorang Menko.

Banyak lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai kalangan. Kemarin di 
Bandara Soekarno-Hatta setidaknya dua orang (pramugara dan staf ruang tunggu) 
bercerita pada saya pengalaman mengesankan mereka ketika bertemu Pak Boed. 
Seperti kebanyakan yang lain, kesan paling mendalam keduanya adalah sikap 
rendah hati dan kesederhanaannya.

Dua hari lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat tinggi BI. Ia 
mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai fasilitas yang memang 
terkesan serba “wah.” Dengan tak banyak cingcong, ia mencoret banyak item di 
senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed juga menolak mobil dinas baru BI 
sesuai standar yang berlaku sebelumnya. Entah apa yang terjadi, jangan-jangan 
mobil para deputi dan deputi senior lebih mewah dari mobil dinas gubernur.

Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan 
Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan 
Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu tergolong 
sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia menyaksikan sendiri kursi 
di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh.

Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF, simbol 
Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan miring lainnya? 
Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi Pak Boed. Kali 
ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari sosok Pak Boed yang kian terasa 
langka di negeri ini.

Maju terus Pak Boed. Doa kami senantiasa menyertai kiprah Pak Boed ke depan, 
bagi kemajuan Bangsa.

***

Tulisan ini ditayangkan dalam blog pribadi Faisal Basri di Kompasiana 
(http://faisalbasri.kompasiana.com/2009/05/14/pak-boed-yang-saya-kenal/)

Sumber: 
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/05/15/10221414/sisi.lain.pak.boed.yang.saya.kenal


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke