Berikut ini ditampilkan artikel yang ditulis Dr.Rinto Anugraha yang saya 
peroleh dari www.eramuslim.com bahwa jangan lupa besok tanggal 28 Mei 2009 
pukul 16:18 WIB merupakan waktu yang tepat untuk meluruskan arah kiblat. Cara 
melakukan pengukuran arah kiblat dengan metode ini adalah sebagai berikut. 
Cocokkan waktu dengan waktu standar. Pancangkan benda tipis seperti tongkat 
tegaklurus di atas tanah/lantai. Lakukan pengukuran pada saat yang tepat. Maka 
bayangan tongkat tersebut menunjukkan arah kiblat, atau dengan kata lain, arah 
kiblat sama dengan menghadap ke arah matahari saat itu. Semoga bermanfaat.
Artikel selengkapnya sbb :

Hari Meluruskan Arah Kiblat
Diantara tanda-tanda kekuasaan Allah SWT adalah Dia menjalankan matahari di 
lintasan yang teratur. Keteraturan lintasan dan pergerakan matahari dapat 
dipelajari oleh manusia sehingga dapat dimanfaatkan untuk keperluan hidup 
manusia sehari-hari. Demikian pula, keteraturan ini menjadi patokan jelas dalam 
menentukan waktu-waktu shalat setiap hari.
Ternyata, ada hubungan antara Ka'bah sebagai arah kiblat dalam shalat dengan 
pergerakan matahari. Kita tahu, bahwa posisi lintang Ka'bah adalah 21 derajat 
25 menit busur 22 detik busur Lintang Utara (LU) atau 21,42278 derajat. 
Sementara itu, deklinasi matahari sepanjang satu tahun berubah secara periodik, 
berkisar dari sekitar minus 23,5 derajat hingga 23,5 derajat. Ternyata, lintang 
Ka'bah berada di dalam rentang deklinasi matahari. Ada dua kali peristiwa dalam 
setahun, ketika deklinasi matahari sama atau mendekati nilai lintang Ka'bah 
tersebut. Maka, saat itu di siang hari, matahari akan tepat atau hampir tepat 
di atas Ka'bah. Dengan demikian, bayangan setiap benda pasti akan menuju ke 
Ka'bah, sehingga arah kiblat dengan tepat dapat ditentukan saat matahari tepat 
di atas Ka'bah.
Hal ini dapat dibuktikan dengan rumus transformasi koordinat antara koordinat 
ekuator geosentrik dengan koordinat horison (Lihat tulisan tentang Transformasi 
Sistem Koordinat). Salah satu rumusnya adalah
sin(altitude) = sin(deklinasi)*sin(lintang) + 
cos(deklinasi)*cos(lintang)*cos(hour angle).
Pada saat tengah hari, hour angle = 0 derajat. Nilai cos(0) = 1. Karena 
matahari ada di atas kepala, maka altitude = 90 derajat. Nilai sin(90) = 1. 
Rumus di atas menjadi
sin(deklinasi)*sin(lintang) + cos(deklinasi)*cos(lintang) = 1.
Ini hanya mungkin, jika deklinasi = lintang, karena rumus sin*sin + cos*cos = 
1. Sekarang tinggal dicek, kapan deklinasi matahari nilainya sama atau paling 
mendekati lintang tempat tersebut. Deklinasi matahari berubah-ubah sepanjang 
tahun secara periodik (seperti grafik fungsi sinus atau cosinus). Nilai 
rata-rata deklinasi matahari setiap hari selama satu tahun dapat dilihat di
http://www.wsanford.com/~wsanford/exo/sundials/DEC_Sun.html
Untuk tanggal dan bulan yang sama dengan tahun berbeda, tentu saja nilai 
deklinasi matahari ini dapat berbeda sedikit, kira-kira dalam orde beberapa 
menit busur saja. Dari daftar tersebut, nampak bahwa nilai deklinasi matahari 
yang mendekati lintang Ka'bah terjadi pada tanggal 28 Mei dan 16 Juli.
Tugas selanjutnya adalah menentukan pada jam berapakah, matahari berada di atas 
Ka'bah. Saat itu adalah waktu zhuhur, dimana matahari melewati garis meridian 
sehingga memiliki altitude maksimum. Untuk menentukan waktu zhuhur, perlu 
diketahui tiga parameter, yaitu koordinat bujur setempat, koordinat waktu 
referensi, serta Equation of Time.
Ka'bah terletak pada bujur 39 derajat 49 menit busur 34 detik busur Bujur Timur 
(BT) atau 39,8261 derajat. Waktu lokal Ka'bah adalah UT + 3 jam sehingga 
koordinat bujur referensi adalah 3*15 = 45 derajat. Sementara itu Equation of 
Time untuk tanggal 28 Mei dan 16 Juli berturut-turut adalah sekitar 2 menit 56 
detik = 2,93 menit dan minus 5 menit 52 detik = - 5,88 menit. Silakan lihat 
rata-rata nilai Equation of Time sepanjang tahun di
http://freepages.pavilion.net/users/aghelyar/sundat.htm
(Nilai Equation of Time untuk satu tanggal sama dengan tahun berbeda dapat 
berubah, namun hanya dalam orde detik saja)
Jika matahari kita adalah matahari fiktif yang bergerak dengan kecepatan 
konstan, serta koordinat bujur tempat kita tepat sama dengan koordinat bujur 
referensi, maka matahari fiktif tersebut selalu melewati meridian pada pukul 
12.00 tepat waktu setempat. Namun karena matahari kita bergerak dengan 
kecepatan yang tidak sama, maka dibutuhkan faktor koreksi berupa Equation of 
Time (ET). Demikian pula, diperlukan koreksi perbedaan bujur tempat kita dengan 
bujur referensi. Hasilnya adalah pergeseran waktu saat zhuhur dari jam 12.00, 
yang dirumuskan
Pergeseran waktu (dalam jam) = [Bujur referensi - Bujur tempat]/15 - ET/60.
Pada ruas kanan persamaan di atas, selisih bujur dibagi 15 agar satuannya jam 
(15 derajat = 1 jam). Karena ET bersatuan menit, maka dibagi 60 agar bersatuan 
jam. Apabila pergeseran waktu dinyatakan dalam menit, maka rumusnya menjadi
Pergeseran waktu (dalam menit) = 4*[Bujur referensi - Bujur tempat] - ET.
Untuk tanggal 28 Mei, nilai pergeserannya = 4*[45 - 39,8261] - 2,93 = 17,8 
menit atau dibulatkan 18 menit. Berarti waktunya adalah pukul 12.18 waktu 
setempat. Sedangkan untuk tanggal 16 Juli, nilainya = 4*[45 - 39,8261] - 
(-5,88) = 26,6 menit atau dibulatkan 27 menit. Berarti waktunya adalah pukul 
12.27 waktu setempat.
Kesimpulannya, matahari berada di atas Ka'bah pada tanggal 28 Mei pukul 12.18 
waktu setempat, dan tanggal 16 Juli pukul 12.27 waktu setempat. Karena waktu 
referensi antara Waktu Indonesia Barat (WIB, UT + 7 jam) dengan Ka'bah (UT + 3 
jam) berselisih 4 jam, maka waktunya di wilayah Indonesia bagian Barat menjadi 
28 Mei pukul 16.18 WIB dan 16 Juli pukul 16.27 WIB.
Cara melakukan pengukuran arah kiblat dengan metode ini adalah sebagai berikut. 
Cocokkan waktu dengan waktu standar. Pancangkan benda tipis seperti tongkat 
tegaklurus di atas tanah/lantai. Lakukan pengukuran pada saat yang tepat. Maka 
bayangan tongkat tersebut menunjukkan arah kiblat, atau dengan kata lain, arah 
kiblat sama dengan menghadap ke arah matahari saat itu.
Beberapa catatan 
Pertama, tanggal dan waktu di atas adalah rata-rata sepanjang tahun. Jika 
tahunnya adalah tahun kabisat (misalnya tahun 2000, 2008 dan lain-lain), 
tanggalnya dimajukan satu hari menjadi 27 Mei dan 15 Juli. Secara praktis, 
pengamatan dalam rentang satu-dua hari sebelum dan sesudah tanggal tersebut 
masih cukup akurat untuk menentukan arah kiblat. Jadi, pengamatan bisa pula 
dilakukan dalam rentang 26-30 Mei sekitar pukul 16.18 WIB atau 14-18 Juli pukul 
16.27 WIB, meskipun tentu saja yang paling akurat adalah 28 Mei dan 16 Juli. 
Dalam rentang plus-minus dua hari tersebut, nilai Equation of Time hanya 
berubah sekitar 11-15 detik saja sehingga masih cukup akurat.
Kedua, hitungan di atas sudah cukup teliti untuk keperluan praktis. Adapun jika 
ingin diperoleh waktu yang lebih teliti lagi, maka harus digunakan algoritma 
VSOP87 yang berisi komponen longitude, latitude dan distance planet-planet 
terhadap matahari. Dalam hal ini, dipilih algoritma untuk posisi bumi terhadap 
matahari, yang berarti sebaliknya juga, yaitu posisi matahari terhadap bumi. 
Dengan memperhitungkan koordinat Ka'bah seperti tersebut di atas, serta nilai 
Delta_T = 65,2 detik, maka pada tanggal 28 Mei 2009, matahari terletak di atas 
Ka'bah pada pukul 12:17:58 waktu setempat atau 16:17:58 WIB. Saat itu, altitude 
(ketinggian) titik pusat matahari adalah 89:54:47 derajat = 89,913 derajat 
(hampir mendekati 90 derajat) dan posisi titik pusat matahari terletak di 
sebelah utara titik zenith sehingga saat melewati meridian azimuthnya nol. 
Adapun untuk tanggal 16 Juli 2009, waktunya adalah pukul 12:26:46 waktu 
setempat atau 16:26:46 WIB. Saat itu, altitudenya adalah 89:53:17 derajat = 
89,888 derajat dan azimuthnya saat melewati meridian adalah 180 derajat.
Ketiga, metode ini hanya dapat dilakukan pada hari cerah dimana matahari tidak 
terhalangi oleh awan gelap. Selain itu, metode ini hanya berlaku di daerah yang 
waktu lokalnya berselisih maksimum sekitar 5 hingga 5,5 jam dari Ka'bah, baik 
di sebelah timur (Asia) atau barat (Afrika dan Eropa). Atau bisa juga selisih 
waktunya lebih dari itu, namun posisi lintangnya cukup besar di daerah Utara 
sehingga matahari cukup lama di siang hari (seperti Jepang, selisih 6 jam dari 
Ka'bah) atau malah di dekat kutub Utara ketika matahari selalu ada di atas ufuk 
(seperti di Rusia Timur dekat Laut Bering). Jadi, pada tanggal 28 Mei maupun 16 
Juli, tempat-tempat yang bisa melakukan metode ini adalah seluruh Afrika dan 
Eropa, Rusia, serta seluruh Asia kecuali Indonesia Timur (Papua). Di Papua, 
Australia maupun kepulauan di Samudera Pasifik, matahari sudah keburu 
tenggelam. Sebagai ilustrasi, pada tanggal 28 Mei di Jayapura (140 BT, 2 LS, 
ketinggian 0 meter dari permukaan laut, waktu lokal UT +9), matahari terbenam 
pada pukul 17:38 WIT atau pukul 15:38 WIB. Adapun sebaliknya baik di Amerika 
Utara dan Selatan, matahari belum terbit.
Keempat, untuk tempat-tempat yang tidak dapat melakukan metode ini, ada metode 
sebaliknya, yaitu ketika di Ka'bah posisi matahari tepat berada di bawah kaki 
(di titik Nadir). Dengan kata lain, saat itu altitude matahari di Ka'bah 
nilainya minus 90 derajat. Dari rumus
sin(altitude) = sin(deklinasi)*sin(lintang) + 
cos(deklinasi)*cos(lintang)*cos(hour angle)
maka situasi ketika altitude = -90 derajat atau sin(-90) = -1, adalah ketika 
deklinasi = minus lintang, serta cos(hour angle) = -1. Nilai Cos(hour angle) = 
-1 bersesuaian dengan waktu tengah malam (midnight) di Ka'bah. Sementara itu 
deklinasi matahari bernilai sama dengan atau mendekati minus lintang Ka'bah 
terjadi pada 14 Januari dan 29 Nopember.
Dengan menggunakan hitungan mirip seperti di atas, serta memperhitungkan nilai 
ET maka pada tanggal 14 Januari 2009, matahari terletak di bawah Ka'bah pada 
pukul 00:29:36 waktu setempat atau pukul 06:29:36 WIT (Waktu Indonesia Timur). 
Altitude matahari di Ka'bah adalah minus 89:54:49 derajat = -89,9136 derajat. 
Saat itu, di Jayapura matahari ada di atas ufuk karena sudah terbit pada pukul 
05:42 WIT. Pada pukul 06:29:36 WIT di Jayapura, ketinggian matahari adalah 
sekitar 10 derajat dan azimuth matahari adalah sekitar 111,4 derajat. Azimuth 
ini berbeda 180 derajat dengan azimuth arah kiblat dari Jayapura sebesar 291,4 
derajat. Dengan kata lain, dengan metode saat matahari tepat di bawah Ka'bah, 
arah kiblat sesuai dengan bayangan sinar matahari namun arahnya membelakangi 
matahari.
Demikian juga pada tanggal 29 Nopember 2009, matahari di bawah Ka'bah pada 
pukul 00:08:51 waktu setempat atau pukul 06:08:51 WIT dimana altitudenya minus 
89:58:56 derajat = -89,9822 derajat. Di Jayapura saat itu matahari juga sudah 
ada di atas ufuk karena terbit pada pukul 05:21 WIT.
Kelima, prinsip umum dari metode ini adalah menentukan arah kiblat, dimana 
azimuth matahari dari tempat kita sama dengan arah azimuth kiblat. Karena itu 
sebenarnya matahari dapat juga diganti dengan benda langit yang lain, seperti 
bulan. Bulan bergerak dalam bidang orbitnya mengitari bumi yang kemiringannya 
sekitar 5 derajat dari bidang ekliptika. Sementara itu, seperti kita tahu 
bersama kemiringan bidang ekuator bumi dengan bidang ekliptika adalah sekitar 
23,5 derajat. Jadi, maksimum deklinasi bulan bisa mencapai 28,5 derajat dan 
minimum deklinasi bulan bisa mencapai minus 28,5 derajat. Lintang Ka'bah 
terletak di antara dua nilai minimum-maksimum tersebut, sehingga memungkinkan 
bulan untuk berada tepat di atas Ka'bah. Hanya saja deklinasi bulan tidak 
berbentuk periodik sesederhana bentuk periodik deklinasi matahari, karena ada 
faktor lintang ekliptika bulan yang berubah-ubah (karena bidang orbit bulan 
tidak sejajar dengan bidang ekliptika). Akibatnya waktu saat bulan berada di 
atas Ka'bah tidak tetap sebagaimana tetapnya waktu matahari di atas Ka'bah.
Dengan menggunakan algoritma ELP2000, dapat diketahui bahwa untuk tahun ini 
bulan berada di atas Ka'bah pada tanggal 6 Januari 2009 pukul 23:57:40 WIB 
dengan altitude 89,83 derajat, tanggal 24 Juni 2009 pukul 18:03:39 WIB dengan 
altitude 89,81 derajat, serta tanggal 8 Nopember 2009 pukul 08:58:57 WIB dengan 
altitude 89,57 derajat.
Di Jakarta, peristiwa di atas pada tanggal 6 Januari 2009 memungkinkan untuk 
diamati, hanya saja waktunya sudah lewat. Untuk tanggal 24 Juni 2009 juga 
memungkinkan, meskipun saat itu bulan tergolong masih baru. Adapun pada tanggal 
8 Nopember 2009 tidak memungkinkan untuk diamati di Jakarta maupun kota-kota 
lain di Indonesia, karena matahari sudah tinggi di atas ufuk.
Sebagai tambahan, bahasan kali ini juga memungkinkan kita untuk mencari tahu, 
kapankah matahari berada tepat di atas kepala di kota kita masing-masing di 
Indonesia. Ini memungkinkan, karena lintang di seluruh Indonesia (-11 derajat 
hingga +6 derajat) terletak di dalam rentang minimum-maksimum deklinasi 
matahari (-23,5 hingga +23,5 derajat). Untuk ilustrasi, untuk kota Jakarta 
(106:51:0 BT 6:10:0 LS), matahari berada di atas kepala pada 5 Maret 2009 pukul 
12:04:08 WIB dengan altitude 89,835 derajat, dan pada 9 Oktober 2009 pukul 
11:39:55 WIB dengan altitude 89,861 derajat.
Jangan lupa, sebentar lagi hari meluruskan arah kiblat pada tanggal 28 Mei 2009 
pukul 16:18 WIB.
Rinto Anugraha (Dosen Fisika UGM) 


Kirim email ke