Milisers yang budiman,

Pak Hari yang saya kenal, meskipun pernah marah, tetapi setahu saya beliau 
termasuk pejabat/pegawai yang jarang marah. Kalau semua kalimat Pak Hari 
ditulis dengan huruf KAPITAL (biasanya moderator sensitif tentang hal ini), 
saya lebih melihatnya bukan sebagai seseorang yang sedang meluapkan perasaan 
marah besarnya melainkan sebagai seseorang yang sedang mengungkapkan perasaan 
keprihatinannya yang sangat mendalam. Tentu saja hanya Pak Hari yang tahu 
apakah waktu menulis email tersebut beliau sedang mengungkapkan kemarahannya 
atau keprihatinnya yang sangat mendalam.  Yang jelas, jangan sekali-kali 
berspekulasi “jangan2 Pak Hari prihatin kalau2 dengan kejadian itu remun kita 
dicabut”. 

Sebenarnya kalau hanya 2 KPPN saja yang belum bebas (terima) suap/amplop di 
antara 178 KPPN, menurut saya, kondisi itu sudah lumayan bagus (walaupun target 
kita sebenarnya nihil). Sayang sekali hingga kini kita belum mempunyai data 
tentang berapa KPPN saat ini yang belum bebas terima suap/amplop dari mitra 
kerjanya. Kalau jumlahnya masih lumayan banyak, mungkin 2 KPPN tersebut sedang 
bernasib sial karena di antara sekian banyak KPPN yang masih melakukan “sesuatu 
yang memalukan” hanya 2 KPPN yang terdeteksi dan dipublikasikan. Dalam kondisi 
demikian biasanya mereka, atau yang ingin membela mereka, mengajukan wacana 
atau kemungkinan skenario ‘tebang-pilih’ :  “Mengapa hanya mereka, mengapa 
tidak yang lain?”  Pertanyaan tersebut, menurut saya, perlu kita jawab dengan 
tindakan. Tetapi kalau saat ini jumlah KPPN yang masih bermain/menerima 
‘amplop’ ternyata memang sudah nyaris punah, maka rasanya ruang untuk 
membela-diri sudah semakin sempit. 
  

Tentunya isu ‘tebang-pilih’ untuk kepentingan pembelaan-diri bisa juga 
diarahkan ke Kanwil atau bahkan ke Kantor Pusat (Mengapa hanya KPPN? Apakah 
yang lain, misal di Kantor Pusat, tidak lagi ‘ngoyo’ untuk mendapatkan amplop 
atau penghasilan tambahan?).  Demikian pula, “Mengapa yang dibidik hanya 
Pelaksana, mengapa bukan Pejabat/Pimpinan?”

Saya melihat sebagian besar di antara kita sangat menyesalkan adanya kasus 
terima suap/amplop tersebut, mengutuk dan mengusulkan kepada pimpinan untuk 
menindak mereka secara tegas (apabila perlu dilakukan pemecatan), tanpa pandang 
bulu. Kita cenderung memberikan resep “KPPN Percontohan” ketika kasus 
suap/amplop tersebut terjadi di KPPN non-Percontohan.  Tetapi ketika kasus 
suap/amplop tersebut (suatu saat nanti) ternyata juga terjadi di KPPN 
Percontohan, maka harus ada cara lain untuk mencegah dan menghentikannya. Cara 
lain itu bukan membubarkan KPPN Percontohan, melainkan memperbaikinya.  

Ketika pendekatan Kiai/Pesantren di Indonesia belum mampu mencegah dan 
menghentikan praktek korupsi dan aksi kekerasan di Indonesia, pilihan terbaik 
bukanlah meninggalkan atau menanggalkannya. Ketika pendekatan kemanusiaan yang 
dicoba diimplementasikan pada Lembaga Pemasyarakatan (jaman dulu, LP disebut 
Penjara) belum membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan, keputusan terbaik 
bukanlah meninggalkannya.  Demikian pula pendekatan-pendekatan lainnya yang 
pernah kita upayakan sebelumnya (poleksosbud, reward and punishment, manajemen 
kalbu, dll.).

Kita semua prihatin dengan terjadinya kasus suap/pungli yang dilakukan oleh 
beberapa teman kita di KPPN belum lama ini.  Kita juga semestinya merasa 
prihatin seandainya mereka nanti terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman 
pemberhentian sebagai PNS, menyusul teman-teman kita di Depkeu lainnya yang 
juga “tersandung” kasus yang sama. Namun, terlepas dari rasa keprihatinan kita 
tersebut, hukum memang harus ditegakkan. Ucapan dan janji Bu Menteri untuk 
menghukum (baca: memberi pelajaran) PNS Depkeu yang “nakal” (baca: tersandung) 
harus dibuktikan.  

Mudah-mudahan rasa keprihatinan kita yang sangat mendalam saat ini mampu 
memberikan motivasi yang kuat kepada kita semua untuk berusaha secara maksimal 
mencegah dan menghentikan terjadinya kasus yang sama di instansi kita di 
kemudian hari. Amin.
 
 
Salam,
budisan

= = = = = = = = = = = = = = = = = =
Kami mengucapkan :

SELAMAT IDUL FITRI 1 Syawal 1430 H   
     Minal Aidin Wal Faizin
   Mohon Maaf Lahir dan Batin          

= = = = = = = = = = = = = = = = = = 
--- On Sun, 9/13/09, Hari Ribowo <[email protected]> wrote:
From: Hari Ribowo <[email protected]>
SAYA SECARA PRIBADI 
MENYAMPAIKAN PERASAAN TURUT PRIHATIN ATAS KEADAAN INI. 

BUKANKAH PEGAWAI DITJEN PERBENDAHARAAN SUDAH MENERIMA REMUNERASI, TAPI KENAPA 
MASIH MERASA KURANG.

JANGAN CUMA MELIHAT KEATAS.. 
LIHATLAH KESAMPING KIRI KANAN 
BANYAK TEMAN2 PEG SWASTA YANG PENDAPATANNYA SAMA DGN KITA, MEREKA AKAN DIPECAT 
BILA DIKETAHUI BERBUAT SPT ITU. . 
LIHAT JUGA KEBAWAH.. 
MASIH BANYAK WN YANG PENDAPATANNYA LEBIH KECIL. 
WALAUPUN DEMIKIAN, TOKH TIDAK NGOYO MENCARI LEBIH..



      

Kirim email ke