Milisers yang budiman,

Rasanya tangan saya sudah terlalu kaku karena lama sekali tidak menulis di 
milis ini. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dan bisa memecah rasa sunyi 
yang telah lama menyelimuti forum diskusi di milis ini.    


Salam,
budisan 


The End of Drama “Cicak dan Buaya”

Sungguh luar biasa. Saya kira drama dengan lakon “Cicak dan Buaya” yang 
belakangan ini ramai diperbincangkan oleh publik tersebut jauh lebih menarik 
dibandingkan dengan drama KPK yang pernah populer sebelumnya, “Urip dan 
Artalyta”. Tadi malam setelah mengikuti expose rekaman “rekayasa kriminalisasi 
KPK” yang ditayangkan dan dibahas di beberapa stasiun TV, badan saya tiba-tiba 
menggigil. Saya kuatir, jangan-jangan tadi malam saya terinfeksi virus “Cicak 
dan Buaya”. Alhamdulillah, pagi ini kondisi badan saya sudah normal kembali.  
Mudah-mudahan virus yang diduga telah menyebabkan badan saya menggigil tadi 
malam tersebut pagi ini tidak menginfeksi komputer di ruangan kerja saya dan 
menyebar ke dalam jaringan komunikasi data di lingkungan Ditjen Perbendaharaan.

Pertanyaan saya, apakah ada hubungan antara kita dan drama “Cicak dan Buaya” 
tersebut?  Lalu, pelajaran apa yang bisa kita petik dari drama “hukum dan 
politik” yang luar biasa tersebut?

Untuk pertanyaan yang pertama, meskipun menurut saya masih sangat spekulatif, 
drama “Cicak dan Buaya” tersebut menurut sinyalemen Gus Dur dan Din Syamsuddin 
terkait dengan kasus Bank Century dimana Menkeu SMI terlibat dalam pengambilan 
keputusan untuk memberikan dana talangan (bailout) kepada Bank Century.  
Meskipun demikian saya percaya bahwa, berdasarkan expose rekaman “rekayasa 
kriminalisasi KPK”, drama C n B tersebut memang melibatkan sejumlah pemain yang 
saat ini menduduki pos-pos penting di pemerintahan.  Saya berpendapat bahwa 
akan banyak pejabat di pemerintahan yang terlibat dalam pentas drama C n B, 
walaupun lagi-lagi menurut saya KPK (tidak punya pilihan lain) harus melakukan 
aksi “tebang pilih”.  Menebang Semua mungkin memang merupakan the Best 
Solution, tetapi menurut saya ada kondisi tertentu yang pada akhirnya akan 
mendorong KPK untuk mengambil the Second Best Solution.  

Apakah itu artinya kalau KPK memilih Tebang Semua maka akan ada “Pohon 
Beringin” di sekitar istana kepresidenan yang akan tumbang?  Sekali lagi, 
sungguh saya sama sekali tidak tertarik untuk berspekulasi, seperti halnya 
Effendi Gazali, bahwa pembuat skenario drama C n B memang berada di lingkungan 
istana kepresidenan.

Lalu, pelajaran apa yang bisa kita petik dari drama “hukum dan politik” yang 
luar biasa tersebut?  Bagi saya, kalau para pejabat kunci kita di lingkungan 
DJPBN tidak bersikap arogan (seperti Buaya) dan tidak memanfaatkan kekuasaan 
dan kewenangannya untuk keuntungan dirinya atau konco-konco dekatnya, maka 
(menurut saya) itu artinya kita telah berhasil memetik pelajaran dari tontonan 
drama C n B.

Lastly, saya sungguh berharap akan ada penulis novel dan sutradara film kita 
yang akan melestarikan kisah C n B yang telah kita saksikan bersama.




      

Kirim email ke