Selamat Pagi Milisers,
 
Sebenarnya saya lebih banyak berduka
daripada bersuka ketika Bu Menteri memutuskan untuk mundur dari jabatannya
sebagai Menkeu RI dan menerima tawaran sebagai salah satu Managing Directors di
Bank Dunia. Saya merasa bagi Bu Menteri hal tersebut bukanlah pilihan yang
paling diinginkannya walaupun dalam kondisi saat ini itu mungkin merupakan
pilihan terbaik. Saya yakin apabila kondisi normal, tanpa ada tekanan-tekanan
dari para politisi yang terhormat yang mengaku sebagai wakil rakyat, Bu Menteri
akan lebih suka memilih untuk tetap bersama dengan kita. Biarpun gaji yang
dijanjikan oleh lembaga keuangan internasional itu berpuluh kali lipat
dibandingkan dengan gaji seorang Menteri di republik ini. Sekali lagi, bukan
gaji selangit yang membuat Bu Menteri memutuskan untuk melepas jabatan Menteri
dan menerima tawaran dari Bank Dunia, melainkan permainan (tawar-menawar
kepentingan) politik yang memanfaatkan kasus Century. Percuma ia bekerja
mati-matian untuk negara kalau mereka yang politically termasuk “orang-orang 
kuat”pun bekerja mati-matian untuk menggagalkannya, dan
negara sama sekali tak mampu berbuat apapun untuk melindunginya.
 
Kadang saya merasa geram ketika
orang mengatakan bahwa, karena terkait kasus Century, Bu Menteri kini sudah
tidak dipercayai lagi oleh publik (rakyat) untuk tetap menjabat sebagai
Menkeu.  Dalam politik, klaim atas nama
publik tersebut sebenarnya sudah sangat biasa dilakukan. Sebuah isu dilempar ke
ruang publik untuk mempengaruhi (dan mendapatkan suara) publik, terlebih saat
menjelang pelaksanaan pemilu. Dan kitapun, melalui angka hasil pemilu,
sebenarnya telah beberapa kali membuktikan kebenaran dari klaim politik 
tersebut.  Lalu, benarkah publik kini tidak lagi
mempercayai dan mendukung Sri Mulyani sebagai Menteri?  Saya kira yang benar 
adalah bahwa dalam
politik sesuatu yang benar bisa menjadi salah, dan demikian pula sebaliknya. 
 
Saya bersyukur karena dalam duka
yang menyelimuti hati saya, dan saya yakin hati Bu Menteri juga, kita telah 
melihat
sebagian kebenaran tentang kepentingan politik dalam kasus Century mulai
terungkap. Kita melihat Wakil Rakyat kita ternyata masih setengah hati untuk
menghentikan proses politik dan, sesuai dengan keputusan Opsi C, menyerahkan
tindak lanjut kasus Century melalui proses hukum. Selanjutnya, kita juga
melihat manuver partai Golkar di bawah Ical yang ingin membekukan proses
politik kasus Century. Lalu, “kebenaran” macam apa sebenarnya yang ingin
diungkap dalam penyelesaian kasus Century?  “Kebenaran” yang dibuktikan melalui 
proses hukum bahwa kebijakan bailout atas Bank Century telah
merugikan negara sebesar Rp 6,7 triliun? Atau “kebenaran” yang dibuktikan
melalui proses (pengadilan) politik yang telah terbukti mampu melengserkan
Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden Habibie, dan juga Presiden
Abdurrahman Wahid?            
 
Saya juga bersyukur dan yakin, Tuhan
pasti memberikan yang terbaik untuk saat ini kepada Bu Menteri.  Oleh karena 
itu, melangkahlah ke depan dengan
pasti, Bu Menteri. Lupakan Century, walau saya tahu Ibu tidak mungkin akan bisa
melupakan selamanya. Paling tidak, jangan sampai Masa Lalu (Century)
menghalangi Ibu untuk melakukan Sesuatu yang Terbaik untuk Dunia. Seperti dulu
ketika Ibu memutuskan untuk mengabdi kepada Indonesia setelah bekerja untuk
IMF, saat inipun saya berharap empat tahun lagi Ibu akan kembali bekerja untuk 
Indonesia.
Saya kira tahun 2014 nanti Indonesia akan membutuhkan Ibu sebagaimana Ibu juga
membutuhkannya. Barangkali bukan lagi sebagai Menteri Keuangan. Semoga.         
     

Kirim email ke