--- Begin Message ---
Selamat Jalan Pemimpin Tua
The
sunset generation! Mereka adalah generasi pertama kepemimpinan nasional
pascareformasi. Hampir 10 tahun terakhir (1998-2007) mereka malang
melintang di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, serta segala
bidang politik dan nonpolitik.
Di
bidang politik nasional dan lokal, kita mengenal Susilo Bambang
Yudhoyono (58), Jusuf Kalla (65), BJ Habibie (71), Megawati
Soekarnoputri (60), Abdurrahman Wahid (67), Amien Rais (63), Akbar
Tandjung (62), Wiranto (60), Sutiyoso (63), Sri Sultan Hamengku Buwono
X (61), dan pemimpin segenerasinya.
Artinya,
pada Pemilu 2009 the sunset generation sudah berusia 60 tahun atau
lebih, usia sosial dan politik yang pantas untuk mengundurkan diri,
seperti Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Tony Blair menjabat pada
usia 44 tahun (1997) dan mundur pada usia 54 tahun (2007). Presiden AS
Bill Clinton menjabat pada usia 47 tahun (1993) dan berakhir pada usia
55 tahun (2001).
Ironisnya,
RI, pada generasi pertama kepemimpinan nasional pascaproklamasi,
dipenuhi para pemimpin muda, energik, dan progresif. Sebut Presiden
Soekarno (44), Wapres Mohammad Hatta (43), dan 10 perdana menteri,
yaitu Sutan Sjahrir (36), Amir Sjarifoeddin (40), Mohammad Hatta (46),
Abdul Halim (39), Muhammad Natsir (42), Sukiman Wirjosandjojo (53),
Wilopo (44), Ali Sastroamidjojo (50), Burhanuddin Harahap (38), dan
Djuanda Kartawidjaja (46). Mereka lebih muda daripada Komite Bangkit
Indonesia (KBI) seperti Rizal Ramli (54) dan Taufik Kiemas (65). Jadi
KBI tidaklah lain the sunset generation juga.
Sayang
proses regenerasi kepemimpinan nasional itu dirusak rezim Soeharto-Orde
Baru. Tiga dekade lebih. Jenderal Besar (Purn) Soeharto merampas hak
atas kepemimpinan nasional. Apakah the sunset generation harus
mengulangi perampasan hak atas kepemimpinan nasional serupa
Soeharto-Orde Baru? Tentu tidak. Apabila mereka negarawan, saatnya bagi
Jusuf Kalla yang berambisi untuk mengundurkan diri. Your time is over!
Krisis 2009, prospek 2014
The
rising generation atau generasi kedua kepemimpinan nasional
pascareformasi kini sudah ada pada lapisan kedua di semua bidang dan
wilayah Indonesia. Mengapa hanya terjadi kemacetan di wilayah politik,
di level kepemimpinan nasional?
Pertama, Soeharto-Orde Baru merampas dan mematikan hak serta proses regenerasi
kepemimpinan nasional;
Kedua, praktik feodalistis membiak di semua partai politik (parpol);
Ketiga, psikologisme ketakutan pada pemimpin muda parpol untuk berbeda prinsip
dengan pemimpin tua parpol;
Keempat,
sikap "tak tahu diri" para pemimpin tua parpol serta oligarki pemimpin
tua parpol, padahal hanya kegagalan yang mereka hasilkan bagi parpol
ataupun bagi rakyat.
Tahun
2009 mendatang adalah tahun amat krusial bagi the rising generation.
Mengapa kampanye merebut kepemimpinan nasional dimulai tahun 2007?
Jawabannya,
tidak lain adalah karena, pertama, menegaskan kehadiran generasi kedua
kepemimpinan nasional pascareformasi atau the rising generation.
Kedua, mendorong motivasi baru agar berprestasi lebih baik daripada the sunset
generation.
Ketiga,
menyiapkan diri menghadapi friksi keras (perebutan, konflik, negosiasi,
dan lainnya) pada tahun 2009 untuk mencapai konsensus win-win solution,
cukupkah 85 persen kepemimpinan nasional untuk the rising generation
dan 15 persen untuk the sunset generation?
Keempat,
menyiapkan diri untuk mengambil alih 100 persen kepemimpinan nasional
pada tahun 2014, di semua level (nasional, provinsi, dan
kabupaten/kota) dan di semua bidang, tanpa kecuali.
Kelima,
menyiapkan kerja sama pemimpin muda nonparpol dan parpol untuk
amandemen presiden-wakil presiden dan legislatif (DPR/DPD) serta
persyaratan mudah pilkada, 1-3 persen tanpa deposit untuk calon
perseorangan.
Pemimpin muda
Apakah
jalan yang akan ditempuh pemimpin muda demokratis dan progresif ini?
Jalan Republik! Itulah jalan yang dirintis bapak dan ibu pendiri
Republik Indonesia. Terang dan jelas, cita-cita luhur dan misi itu
termaktub pada Pembukaan UUD 1945. Jalan Republik berbunyi, "melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial".
Tugas
pemimpin muda sudah di depan mata, cepat atau lambat tak bisa
dihindari. Menyelamatkan Indonesia dari penyelewengan cita-citanya
sepanjang 10 tahun reformasi oleh pemimpin tua reaksioner, konservatif,
dan antidemokrasi. Nasib republik ada di pundak pemimpin muda
demokratis-progresif, dengan kesadaran sepenuh Bung Karno, "Berikan aku
sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia."
Indonesia
akan kembali ke Jalan Republik seperti cita-cita kemerdekaan Indonesia
di tangan para pemimpin mudanya, dan akan mengguncang dunia!
M Fadjroel Rachman Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan
(Pedoman Indonesia)
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
--- End Message ---