Allahumma Rabbanaa… Tsabbit
quluubanaa ‘alad diinik
Tsabbit aqdaamanaa ‘alath thoo‘atik
Tak ada satupun ketaatan yang tidak diiringi dengan ujian, tak ada satupun
kekuatan yang tidak diiringi dengan kesakitan. Begitu pula dalam hidup, dengan
aktivitas dan pemaknaannya, yang senantiasa dibayar mahal oleh Allah dengan
janji-Nya yang indah bagi siapa saja yang mampu melewatinya.
Berlari demi mengejar ketertinggalan, terengah dengan keadaan yang membuat
kita jengah, kebingungan yang datang hingga membuat kita tak tentu arah. Ketika
kita dalam kesendirian menghadapi itu semua, dan tak ada satupun yang tahu
bagaimana akhir dari sebuah penyelesaian selain kita yang mengetahuinya,
terlebih Allah. Keterbatasan dan ketidakmampuan yang tak sanggup kita
hindarkan, sikap menarik diri dari lingkungan yang dikhawatirkan akan
mengurangi kebaikan yang menjadi sebuah pilihan. Ya…semua itu adalah pilihan
yang telah melalui proses perhitungan.
Lalu, apa yang semestinya dilakukan?
Dalam QS. Ali Imran: 200, Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan
tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah,
supaya kamu beruntung."
Sabar. Ya…sabar. Memang, meniti sebuah kesabaran itu tidaklah mudah. Di dalam
sebuah nasihatnya seorang sahabat pun menuturkan, bahkan dalam menuliskan kata
sabar pun kita memerlukan sebuah kesabaran yang amat sangat.
Dalam QS. Al Baqarah: 45, Allah berfirman:
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang
demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'"
Shalat. Dengan shalat, kita bangun komunikasi dengan Sang Pemilik Jiwa, Allah.
Tiada satu pun makhluk-Nya yang dapat menentramkan hati seperti-Nya. Adukan
semua yang kita rasakan pada-Nya, jika perlu sampai tetes terakhir dari airmata
yang tertumpah. Sama halnya yang dilakukan oleh Abu Bakar ra, seorang sahabat
yang memiliki perangai yang keras namun lembut hatinya.
Dalam QS. Asy Syuura: 28, Allah berfirman:
"dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan
menyebarkan rahmat-Nya. dan Dialah yang Maha pelindung lagi Maha Terpuji."
Lalu…lihatlah di luar sana, Allah sedang menebarkan rahmat-Nya. Keteduhan di
tengah hiruk pikuk, kesejukan di tengah kekeringan, kelapangan di tengah
kesempitan, dan Allah tunjukkan jalan keluar.
Dalam QS. Alam Nasyrah: 5
"karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan"
Dan…jangan pernah kita menghentikan langkah. Menghentikan langkah, berarti
kita telah memilih sebuah kematian sebagai sebuah penyelesaian. Layaknya orang
mati, tiada lagi kita mempunyai kesempatan untuk lebih bermanfaat bagi diri dan
orang lain. Ya…tetap saja, semua memerlukan waktu. Wallahu a’lam. Antum ar
ruuhul jadiid, fii jasaadil ummah.
Mujahidah Tangguh Pantang Mengeluh
Putri Salsabil <www.putrisalsabil.blogspot.com>
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!