First we make poeple than we make product Demikian
kata direktur Matshuhita Corp. Jepang. Sumber daya
manusia (people) adalah aset penting dalam sebuah
usaha, karenanya sangat bisa dimaklumi, jika setiap
dunia usaha yang telah maju, memiliki sebuah
departemen khusus menangani dan menelaah secara lebih
mendalam tentang sumber daya manusia, yang kita kenal
dengan Human Development. Hal ini, tak lain karena
kemajuan sumber daya manusia atau keberpihakan kepada
people adalah juga pembelaan atas product.
Adalah sangat tepat, apa yang dicontohkan oleh
Napoleon Bonaparte saat menghadapi perang panjang
melawan pasukan Italia dan Austria dalam upaya merebut
kota Milan. Ketika mental parajuritnya yang sedang
jatuh, akibat lamanya pertempuran ditambah lagi
akomodasi yang seadanya -dua potong kentang rebung dan
satu telor mata sapi perperson-, kemudian ia keluar
ketengah parajurit sembari membawa satu potong kentang
dan setengah telor mata sapi. Sikap Napoleon yang
demikianlah akhirnya mampu membangkitkan jiwa
parajuritnya untuk tampil lebih kuat serta terpompa
lebih semangat lagi. Kisah ini, memberi pelajaran
kepada kita, betapa pentingnya upaya menjaga kepuasaan
people yang menjadi subordinate kita, guna menuju
keberhasilan yang lebih besar.
Sumber daya manusia, selain merupakan aset penting, ia
pun merupakan tabungan berharga dan berjangka panjang
untuk kesuksesan di hari kemudian kelak. Jepang dan
Jerman, telah membuktikan pentingnya faktor ini.
Kekalahan dan kehancuran mereka di perang dua kedua,
tidak kemudian membuat negara itu bangkrut dan gulung
tikar. Namun justru sesaat -tidak kurang dari 10
tahun- kedua negara itu, sudah mampu bangkit kembali
dan bahkan justru tampil lebih perkasa dari
negara-negara yang dulu pernah menghancurkannya. Ini
tak lain karena faktor keunggulan sumber daya mereka
yang cukup handal.
Dalam dunia usaha, kita mengenal sebuah keteladanan
dari Aaron Feurstein, cucu pertama pendiri perusahaan
tekstil Malden Mills, di Lawrence, Massachusetts. Pada
tahun 1995, pabrik ini terbakar habis, tidak
menyisakan satu apapun kecuali selusin karyawan yang
terluka parah serta 2.400 karyawan lainnya mengangur
tanpa kerja. Meski demikian, Feurstein memutuskan
tetap menggaji karyawan secara penuh dan membayar
seluruh asurani kesehatan bagi mereka yang berada
dirumah sakit serta membatalkan liburan pribadinya ke
Florida yang sudah ia rancang jauh-jauh hari.
Karenanya ia menghabiskan lebih dari US$ 10 juta
secara cuma-cuma untuk berbagai kepentingan karyawan
dan US$ 15 juta untuk investasi usahanya yang baru.
Terus apa yang terjadi? ternyata uang yang dia
invetasikan itu telah begitu cepat kembali, dan para
karyawan menaruh kepercayaan penuh kepada Malden
Mills. Sehingga angka peningkatan produktivitas dan
kualitasnya lebih baik dari sebelumnya, bahkan angka
kerusakan produk yang awalnya 6-7% dari total prodek
berkurang hanya menjadi 2% saja. Feurstein mengatakan,
bahwa pegawainya telah membayar semua pengeluarannya
hampir sepuluh kali lipat yang telah ia keluarkan
dimasa krisis.
Inilah sebuah kisah yang baik, betapa menjaga
kepuasaan people dalam usaha kita jauh lebih baik
daripada menjaga product bahkan aset kita lainnya.
Jadi, jargon wirausaha Assets only make possiblity,
but people make it happen adalah benar adanya.
Referensi : dari berbagai sumber
~Lele Pele~
peminat teknologi, industri dan ekonomi islam
Machen Sie Yahoo! zu Ihrer Startseite. Los geht's:
http://de.yahoo.com/set