Saudara2ku sekalian nun jauh disana...kalian adalah bagian FoSSEI. KSEI adalah 
batu bata penyusun bangunan FoSSEI. Kami mengerti betapa inginnya kalian yang 
jauh disana bergabung dalam pesta pembuatan bangunan da'wah . Kami pun 
demikian, ingin kalian datang dan menjadi saksi perdaban dalam membangun 
peradaban Islam. Namun, ikhwah perjuagan ini bth pengorbanan..bukan keluhan. 
Ibu kalian masih terlalu muda dan memiliki banyak kekurangan. Apakah kalian 
masih menginginkan sbuah mobil mercedez mewah, padahal ibu kalian untuk 
menngais 1 butir nasi untuk kelanjutan detak jantungnya pun 
kesusahan?Mengertilah pada ibumu, yang hanya mampu memberikan seteguk ASI untuk 
dirimu.....Ibumu selalu merindukan kehadiranmu....


----- Pesan Asli ----
Dari: Jamaluddin J <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rabu, 9 Januari, 2008 11:47:52
Topik: Re: {FoSSEI Kita} FoSSEI.........? Cape Deh.....@@@#33$$$RpRpRp


Akhi, bagus skali puisi antum, belajar dimana yaa??? ajarin dong'kkk....
bincang-bincang tentang dana(untuk transportasi ke acara2 "ibu kita"), ana 
teringat ketika membahas Risalah Pergerakan subbab "warna apakah yang kita 
pilih?" seorang teman membagikan pengalamannya setelah ia pulang dari sebuah 
kabupaten di sul-sel menangani proyek penyusunan APBD,  kata teman saya itu, 
kita bisa tau arah politik ekonomi daerah, apakah kapitalis, sosialis, ataukah 
islamis, ketika penyusunan APBD atau pada akhir tahun untuk menghabiskan 
anggaran, kemanakah anggaran itu dihabiskan?? setelah bercerita panjang lebar,  
teman saya  ini kemudian melemparkan pertanyaan, seandainya kita duduk di 
deretan orang yang menyusun anggaran, warna  politik ekonomi apa yang kita 
pilih, apakah sosialis, kapitalis ataukah islamis. Semua kita, pasti memilih 
yang terakhir:ISLAMIS. Ia kemudian kembali bertanya, bagaimana cara kita 
mengimplementasikan nya, anggaran2 apa saja yang kita biayai?? lanjut sang 
teman, ustadz kita (ana kurang tau kalo di pusat) yang
 duduk di dewan, sangat pandai mengkritik, pintar, cerdik, sangat pintar, tapi 
tidak ada solusi yang ditawarkan, mereka juga masih awam  anggaran, bahkan 
sangat awam (mungkin kalo fiqh dakwah, ceritanya pasti beda). Saya kemudian 
bertanya pada diri saya (kita semua) jika kita di posisi itu, kemanakah 
anggaran itu berputar, apakah kita pandai membaca anggaran??? teman tersebut 
kemudian memberi saran, mungkin kita juga perlu belajar membedah anggaran,liku- 
likunya dan lain sebagainya, bukan cuma ekonomi Islam, sekarang tahapan dakwah 
kita kian meninggi, sebentar lagi pengelolaan negara, kalo mengelola anggaran, 
kita masih dipermainkan, jangan pernah bermimpi mengelola negara. jadi anggota 
dewan (bukan bermaksud mengejar jabatan ya, tapi profesional, pada saat 
penyusunan anggarankan, KSEI antum-kita-bisa kena cipratannya, dari pada lari 
ke organisasi lain. )
Akhi, biarlah "ibu kita" dengan "pakaian pestanya".mungkin bukan rejeki antum 
ikut "pesta-pestanya ibu", tapi mudah-mudahan adik-adik antum kelak di kemudian 
hari, seperti imam syahid yang "tak pernah merasakan apa yang telah 
dibangunnya" . bekerjalah kamu niscaya Allah, Rasulnya serta orang-orang yang 
beriman akan menjadi saksi

barep_hay <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote:
biarpun kami berada jauh di seberang pulau,
bukankah kami bagian dari FoSSEI?

biarpun kami tak memiliki roda untuk mengantarkan kami ke kota Gudeg,
bukankah kami adalah bagian dari FoSSEI?

jika yang berhak mengikuti acara 2 nasional adalah KSEI yang mampu,
bukankah seyogyanya, forum silaturahim ini dapat membantu anggotanya 
yang kurang bahkan tidak mampu??

tapi kenapa, saya, ah bukan, kami,
tak merasakannya.
tempat kami memang terpencil, ah tidak, kami dekat dengan ibukota
tapi kami tak merasakan ada ibu yang membimbing dan mengembangkan 
diri kami.

Bukankah FoSSEI ada, karena adanya KSEI - KSEI yang berdaya.
lalu mengapa KSEI-KSEI yang belum berdaya, merasa tertinggal jauh.
sementara, acara2 yang ibu kami adakan adalah acara2 nasional yang 
tiap tahunnya berpindah tempat, dan itu memakan biaya besar.

bukankah untuk terbang ke sana, memerlukan senjata.
yang kami tak punya.

ah, mengeluh!
benci aku atas kata ini.
ibu, kami hendak bertanya, apakah kerjamu hanya mengadakan event2 
nasional,,,, yang kami harus datang....?
jika tak datang, maka kami bukanlah anggotamu, bukan anakmu.
jadi engkau hanya bisa dikunjungi oleh orang2 yang kaya, yang punya 
uang, yang bisa terbang ke seluruh indonesia. sementara kami, atau 
rakyat indonesia. tak mengenal apa itu FoSSEI. tak mengenal apa itu 
ekonomi islam.

maaf ibu, mungkin saudara2ku akan memprotes keluhanku ini.
"tidak benar! tidak begitu! kami mempunyai visi membumikan ekonomi 
islam!"
bahkan mungkin, engkau pun berkata begitu, "ibu"

kami ingin merasakan kasih sayang seorang "ibu"
yang tidak hanya ingin didatangi
tapi juga mendatangi kami.

kami rindukan itu
kami rindukan visimu yang mulia,

maafkanlah kami, ibu






Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.



      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

Kirim email ke