iklan dulu :
Alkisah ada seorang guru yang menanyakan sebuah pertanyaan kepada muridnya.
Kenapa ketika 2 orang sedang bertengkar dan saling membenci, mereka
menggunakan nada bicara yang keras dalam berkomunikasi sekalipun jarak diantara
mereka hanya beberapa meter?? Padahal tanpa harus berteriak atau menggunakan
nada yang keras pun mereka bisa saling mendengar apa yang mereka katakan. Sang
murid terdiam sampai guru tersebut memberikan jawaban Kedua hati orang yang
sedang bertengkar dan saling membenci itu sedang terpisah jauh melebihi jarak
antara dimana mereka berada, sehingga membutuhkan suara yang keras atau bahkan
teriakkan untuk bisa sampai terdengar oleh hati. Guru tersebut kemudian
kembali bertanya Kenapa bisa ada 2 orang yang walaupun terpisah oleh jarak
ratusan kilometer, mereka tetap bisa merasakan seolah-olah berada dalam jarak
yang sangat dekat sehingga tidak memerlukan nada yang keras untuk
berkomunikasi?? Sang murid menjawab Karena hati mereka sedng tidak
berjauhan sambil tersenyum sang guru menambahkan Dua orang yang sudah
memiliki kedekatan hati tidak akan terpengaruh oleh jarak yang memisahkan
keduanya, mereka seolah bisa berkomunikasi tanpa harus berteriak atau
menggunakan nada yang keras seperti orang yang sedang bertengkar
*****
Mungkin bagi sebagian dari kita sudah pernah mendengar atau membaca ilustrasi
guru dan murid seperti di atas. Saya sendiri pertama kali membaca cerita
tersebut saat duduk di bangku SMA (itu juga kalau tidak salah..hehehe). Dan
entah kenapa tiba-tiba teringat dengan cerita itu walaupun saya lupa dimana
saya pertama kali membacanya. Cerita yang sangat sederhana namun sangat dalam
makna di baliknya. Kali ini saya tidak hanya akan menceritakan kembali namun
coba menelusuri lebih jauh makna yang terkandung di dalamnya. Halah Bahasanya.
Hehehehe
.
Secara garis besar, cerita tersebut bertemakan komunikasi antara sesama
manusia. Dan tak bisa dipungkiri komunikasi adalah kunci untuk memelihara
kualitas hubungan antar manusia. Seperti gambaran yang diberikan oleh sang guru
pada cerita diatas, komunikasi yang salah bisa membuat kualitas hubungan
antarmanusia tersebut berkurang. Bahkan sering terjadi ada seseorang yang
sungkan untuk membuka komunikasi dengan sahabatnya sendiri selama berhari-hari
ketika diantara keduanya sedang terjadi pertengkaran.
Bicara soal komunikasi dan kaitannya dengan perkembangan teknologi saat ini,
tak bisa dipungkiri bahwa pesatnya perkembangan teknologi sudah mampu membuat
komunikasi menjadi sangat mudah dan murah. Bahkan ada sebuah kalimat yang
mengatakan bahwa Dengan Teknologi Jarak Semakin Tak Berarti. Sayangnya tidak
selamanya teknologi tersebut mampu menjaga kualitas hubungan antar manusia
sekalipun sudah sangat membantu dalam hal komunikasi. Alasannya sederhana,
karena komunikasi tersebut belum menggunakan hati. Yap, komunikasi dengan hati
mampu menjaga kualitas hubungan dan keharmonisan antarmanusia jauh lebih unggul
melampaui komunikasi yang hanya dengan teknologi.
Orang yang sedang bertengkar atau saling membenci sedang terpisah oleh jarak
hatinya, sebuah alasan yang mampu menyebabkan tidak ada suatu ikatan yang
menghubungkan hatinya itu. Mereka memang mampu berkomunikasi namun bukan dengan
hati, nada yang tinggi dan teriakkan dalam upaya komunikasi mereka menandakan
bahwa ada sesuatu dari mereka yang berjarak, dan tidak lain adalah hati. Sama
halnya dengan orang yang tidak saling menyapa sampai berhari-hari, hatinya
seolah enggan untuk menyapa atau bisa saja orang tersebut lah yang belum
membiarkan hatinya untuk menyapa.
Begitu bermakna kah hati yang menyapa itu?? Jawabannya tentu saja iya.
Bayangkan jika kita mendapat sebuah SMS dari orang yang paling kita cintai,
tentu hal tersebut membuat kita sangat senang. Lalu bagaimana juga jika kita
langsung mendengar suara orang yang kita cintai itu?? Saya rasa walaupun yang
kita dengar itu hanyalah sebuah sapaan sekalipun just say hello, akan lebih
bermakna daripada hanya mendapat SMS. Hal tersebut tidak akan terjadi ketika
kita tidak memiliki kedekatan hati. Hati yang enggan menyapa tidak akan
menciptakan komunikasi yang baik, jangankan mendengar suara sapaannya menerima
SMS pun sangat kecil kemungkinannya.
Lebih jauh tentang hati yang menyapa, seorang Aa Gym pun pernah berkata dalam
bukunya yang berjudul Jagalah Hati,
Sebelum berkomunikasi dan bergaul,
persiapkan hati kita yang bersih dan tulus. Kalau hati masih kotor dan dipenuhi
unsur negatif, lebih baik kita urungkan niat untuk berkomunikasi karena bisa
fatal akibatnya. Jadi, biarkanlah hati menyapa. Bersihkan hati terlebih
dahulu karena hati yang bersihlah yang mampu untuk menyapa, dan
berkomunikasilah dengan kedekatan hati karena itulah yang mampu menjamin
kualitas hubungan antar manusia.
*Terinspirasi dari buku Setengah Isi Setengah Kosong
(Berli, 13-01-2008)