Assalamu'alaikum

Ijul....unconciusnya bermain sudah sangat dalam ya...!your story brings me 
inspiration for communication metaphora...
"Communication lies on respons you get"
NLP Presuposition.

Rahmadsyah
www.trainer-tcc.blogspot.com

----- Original Message ----
From: ijul mumtaz <[EMAIL PROTECTED]>
To: FoSSEI <[email protected]>
Sent: Sunday, 8 June 2008 3:22:56
Subject: {FoSSEI Kita} Biarkan Hati yang Menyapa


iklan dulu :




Alkisah ada seorang guru yang menanyakan sebuah pertanyaan kepada muridnya. 
“Kenapa ketika 2 orang sedang bertengkar dan saling membenci, mereka 
menggunakan nada bicara yang keras dalam berkomunikasi sekalipun jarak diantara 
mereka hanya beberapa meter?? Padahal tanpa harus berteriak atau menggunakan 
nada yang keras pun mereka bisa saling mendengar apa yang mereka katakan”. Sang 
murid terdiam sampai guru tersebut memberikan jawaban “Kedua hati orang yang 
sedang bertengkar dan saling membenci itu sedang terpisah jauh melebihi jarak 
antara dimana mereka berada, sehingga membutuhkan suara yang keras atau bahkan 
teriakkan untuk bisa sampai terdengar oleh hati”.  Guru tersebut kemudian 
kembali bertanya “Kenapa bisa ada 2 orang yang walaupun terpisah oleh jarak 
ratusan kilometer, mereka tetap bisa merasakan seolah-olah berada dalam jarak 
yang sangat dekat sehingga tidak memerlukan nada yang keras untuk 
berkomunikasi? ?” Sang murid menjawab
 “Karena hati mereka sedng tidak berjauhan”  sambil tersenyum sang guru 
menambahkan “Dua orang  yang sudah memiliki kedekatan hati tidak akan 
terpengaruh oleh jarak yang memisahkan keduanya, mereka seolah bisa 
berkomunikasi tanpa harus berteriak atau menggunakan nada yang keras seperti 
orang yang sedang bertengkar”
***** 
Mungkin bagi sebagian dari kita sudah pernah mendengar atau membaca ilustrasi 
guru dan murid seperti di atas. Saya sendiri pertama kali membaca cerita 
tersebut saat duduk di bangku SMA (itu juga kalau tidak salah..hehehe) . Dan 
entah kenapa tiba-tiba teringat dengan cerita itu walaupun saya lupa dimana 
saya pertama kali membacanya. Cerita yang sangat sederhana namun sangat dalam 
makna di baliknya. Kali ini saya tidak hanya akan menceritakan kembali namun 
coba menelusuri lebih jauh makna yang terkandung di dalamnya. Halah Bahasanya. 
Hehehehe….
Secara garis besar, cerita tersebut bertemakan komunikasi antara sesama 
manusia. Dan tak bisa dipungkiri komunikasi adalah kunci untuk memelihara 
kualitas hubungan antar manusia. Seperti gambaran yang diberikan oleh sang guru 
pada cerita diatas, komunikasi yang salah bisa membuat kualitas hubungan 
antarmanusia tersebut berkurang. Bahkan sering terjadi ada seseorang yang 
sungkan untuk membuka komunikasi dengan sahabatnya sendiri selama berhari-hari 
ketika diantara keduanya sedang terjadi pertengkaran.
Bicara soal komunikasi dan kaitannya dengan perkembangan teknologi saat ini, 
tak bisa dipungkiri bahwa pesatnya perkembangan teknologi sudah mampu membuat 
komunikasi menjadi sangat mudah dan murah. Bahkan ada sebuah kalimat yang 
mengatakan bahwa “Dengan Teknologi Jarak Semakin Tak Berarti”. Sayangnya tidak 
selamanya teknologi tersebut mampu menjaga kualitas hubungan antar manusia 
sekalipun sudah sangat membantu dalam hal komunikasi. Alasannya sederhana, 
karena komunikasi tersebut belum menggunakan hati. Yap, komunikasi dengan hati 
mampu menjaga kualitas hubungan dan keharmonisan antarmanusia jauh lebih unggul 
melampaui komunikasi yang hanya dengan teknologi. 
Orang yang sedang bertengkar atau saling membenci sedang terpisah oleh jarak 
hatinya, sebuah alasan yang mampu menyebabkan tidak ada suatu ikatan yang 
menghubungkan hatinya itu. Mereka memang mampu berkomunikasi namun bukan dengan 
hati, nada yang tinggi dan teriakkan dalam upaya komunikasi mereka menandakan 
bahwa ada sesuatu dari mereka yang berjarak, dan tidak lain adalah hati. Sama 
halnya dengan orang yang tidak saling menyapa sampai berhari-hari, hatinya 
seolah enggan untuk menyapa atau bisa saja orang tersebut lah yang belum 
membiarkan hatinya untuk menyapa.
Begitu bermakna kah hati yang menyapa itu?? Jawabannya tentu saja iya. 
Bayangkan jika kita mendapat sebuah SMS dari orang yang paling kita cintai, 
tentu hal tersebut membuat kita sangat senang. Lalu bagaimana juga jika kita 
langsung mendengar suara orang yang kita cintai itu?? Saya rasa walaupun yang 
kita dengar itu hanyalah sebuah sapaan sekalipun ‘just say hello’, akan lebih 
bermakna daripada hanya mendapat SMS. Hal tersebut tidak akan terjadi ketika 
kita tidak memiliki kedekatan hati. Hati yang enggan menyapa tidak akan 
menciptakan komunikasi yang baik, jangankan mendengar suara sapaannya menerima 
SMS pun sangat kecil kemungkinannya.
Lebih jauh tentang hati yang menyapa, seorang Aa Gym pun pernah berkata dalam 
bukunya yang berjudul ‘Jagalah Hati’, “…Sebelum berkomunikasi dan bergaul, 
persiapkan hati kita yang bersih dan tulus. Kalau hati masih kotor dan dipenuhi 
unsur negatif, lebih baik kita urungkan niat untuk berkomunikasi karena bisa 
fatal akibatnya”.  Jadi, biarkanlah hati menyapa. Bersihkan hati terlebih 
dahulu karena hati yang bersihlah yang mampu untuk menyapa, dan 
berkomunikasilah dengan kedekatan hati karena itulah yang mampu menjamin 
kualitas hubungan antar manusia.
 
*Terinspirasi dari buku ‘Setengah Isi Setengah Kosong’
(Berli, 13-01-2008)    


      Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist.Download it now!
http://sg.toolbar.yahoo.com/

Kirim email ke