Jadilah pelega, bukan beban
Oleh: Anthony Dio Martin
Saat sedang memberikan training kepada para eksekutif bank nasional terkemuka
tentang pemimpin yang peduli dengan pengembangan timnya, saya
menceritakan sebuah kisah menarik. Lewat kisah ini, saya mau mengundang
mereka memahami arti pemimpin sebagai pelega dan bukan beban bagi
timnya.
Kisah ini berawal dengan sosok Johny, seorang penderita down syndrome (cacat
bawaan) yang bekerja sebagai pembungkus kantong di supermarket. Suatu
hari, perusahaan mengirim semua karyawannya untuk mengikuti training
tentang customer service. Dalam training tersebut, Johny terkesiap saat
diberitahu bahwa apa pun posisinya, orang bisa belajar untuk
meringankan beban pelanggan.
Usai pelatihan, Johny terdorong melakukan sesuatu yang mengesankan bagi
pelanggan supermarket di mana dia bekerja. Namun, dia begitu bingung
apa yang bisa dilakukannya. Lagi pula, dia hanyalah seorang pembungkus
belanjaan di supermarket. Namun, setelah berpikir sekian lama, Johny
akhirnya mendapat ide. Dia sendiri suka membaca dan mengumpulkan
kata-kata mutiara. Itulah yang memberinya ide untuk memberikannya pula
kepada para pelanggan supermarket yang belanjaannya dibungkus.
Akhirnya, dia pun mengetik dan memotong kertas-kertas kecil berisi kata-kata
mutiara
yang disukainya. Lantas, kalimat-kalimat pendek itu diberikannya kepada
setiap pembelanja. Ternyata dia mendapat sambutan yang dramatis.
Bahkan, lama kelamaan orang pun rela antre di tempat di mana Johny
menjadi pembungkus belanjaan, meski di konter yang lain lebih kosong.
Hal ini membuat manajer toko kagum. Bahkan, lebih dari itu, setiap kali ada
sisa-sisa bunga dari bagian penjualan bunga, diberikan kepada Johny
sehingga Johny bisa menyematkan bunga tersebut kepada orang yang
berbelanja di sana. Bagitulah, seorang Johny yang hanya seorang
pembungkus kantong belanja, ternyata memberikan dampak yang luar biasa
bagi tokonya. Hal ini dilakukan karena Johny berpikir bagaimana dia
bisa menjadi pelega bagi orang di sekelilingnya.
Semangat Johny yang berusaha menjadi pelega bukannya beban seharusnya menjadi
teladan yang luar biasa bagi kita. Meskipun posisinya kurang terpandang, Johny
berusaha memberikan kelegaan kepada pelanggannya.
2 Jenis manusia Di sekitar kita, kita melihat dua jenis manusia ini. Manusia
yang menjadi pelega, saat orang ini hadir di sekitar kita. Atau, ada satu jenis
yang lain
yang menjadi beban saat orang ini berada di sekitar kita.
Sungguh nikmat berada di sekitar orang yang menjadi pelega. Ibarat air yang
menyejukkan dan permen yang melegakan tenggorokan, mereka membuat hidup
kita lebih menyenangkan. Seperti kisah tadi, mereka yang bermental
pelega justru berusaha bertanya setiap hari, "Apakah yang bisa saya
lakukan saat ini, pada situasi sekarang yang bisa meringankan beban
orang ataupun membuat keadaan menjadi lebih baik?"
Saya pun teringat dengan kisah seorang wanita tua di Inggris penghuni kastil
yang setiap kali menyapu kastil tersebut hingga bersih total. Wanita
itu ditanya bagaimana dia bisa bersemangat melakukannya. Bahkan tidak
merasa bosan. Padahal kastil itu begitu luasnya. Si wanita tua itu
berkata, "Saya tidak ingin menjadi beban. Harga surga pun tidak murah.
Inilah ongkos yang saya bayar untuk orang yang telah memberi saya makan
dan biaya yang saya bayar untuk masuk surga". Sungguh menarik sekali
filosofinya.
Kenyataan menunjukkan banyak orang yang meskipun sudah dalam posisi yang tinggi,
ataupun hidupnya berkelimpahan, justru sering menjadi beban bagi orang
lain. Atasan yang menjadi beban bagi bawahannya. Majikan yang menjadi
beban bagi pembantunya, ataupun orang-orang berduit yang justru
mempersulit dan memeras orang-orang yang lebih kecil. Kenyataan ini
menunjukkan bahwa di mana pun dan apa pun kita, bahkan sudah di puncak
piramida kehidupan sekali pun, orang masih saja bisa menjadi beban,
bukannya pelega.
Pelajaran dari Johny dan si wanita penyapu kastil mengajarkan kepada kita untuk
selalu
berkomitmen menjadi pelega dan bukannya beban bagi orang lain. Bicara
soal beban atau pelega adalah bicara soal kesadaran dan pilihan hidup
kita setiap hari. Seandainya saja pada setiap saat, di mana pun kita
berada kita selalu bertanya, "Apa yang bisa saya bantu dalam situasi
ini", mungkin akan membuat hidup kita begitu menyenangkan bagi orang
lain.
Percayalah orang-orang seperti inilah yang sungguh dicintai dan ditunggu-tunggu
kehadirannya. Tak mengherankan jika Bunda Teresa pernah mengatakan,
"Kebaikan hati kita adalah mukjizat yang luar biasa. Bahkan seorang
buta bisa melihatnya dan seorang tuli bisa mendengarnya. "
Semoga tulisan saya hari ini mengingatkan kita untuk mau menjadi pelega bagi
orang lain bukannya beban.
FARIZAL ALBONCELLI Ajari Aku 'tuk jadi MUJAHID TANGGUH
Friendster : [EMAIL PROTECTED]
Mobile : +62856 9171 4916
Sekolah Tinggi Ekonomi Islam 'SEBI' Ciputat