Indonesia, Tirulah Spanyol dan Turki

from: Kompas, Rabu, 2 Juli 2008 | 06:12 WIB

Posturr pemain sepakbola yang tinggi besar, tidak menjamin
kesuksesan. Kesebelasan yang terpuruk di pertandingan awal, bukan
berarti kehancuran. Kesuksesan Spanyol menjuarai Euro 2008 adalah bukti
bahwa sepakbola bukan sekadar fisik, melainkan teknik dan kekompakan.
Kehebatan Turki untuk bangkit dari kekalahan pertama,  adalah bukti
bahwa semangat pantang menyerah bisa menjadi kekuatan yang mematikan.
Lantas apa hubungan kiprah kesebelasan Spanyol dan Turki bagi Indonesia?
Tinggi
badan beberapa bintang  Spanyol ternyata tidak berbeda jauh dengan
pemain tim nasional Indonesia. Tengok saja, pemain terbaik Euro 2008
Xavi Hernandez dan top skor Euro 2008 David Villa cuma setinggi 170
sentimeter, sama dengan dengan Ponaryo Astaman  dan Bambang Pamungkas.
Pemain dunia lain yang berpostur rata-rata pemain Indonesia masih
banyak, sebut saja Fabio Cannavaro, Carlos Tevez dan Roberto Carlos.
Mudah-mudahan fakta ini menjadi pelecut bagi seluruh pemain Indonesia
agar tidak minder jika berhadapan dengan kesebelasan yang memiliki
postur tubuh tinggi.
Spanyol juga bukanlah negara  yang solid.
Latar belakang pendirian negara berbentuk kerajaan ini  penuh dengan
darah. Orang Catalan pernah mengalami penindasan yang dilakukan
Jenderal Franco di masa lalu. Akibatnya hingga sekarang, orang Catalan
menganggap dirinya bukan orang Spanyol. Jangan heran kalau setiap
pertandingan klub asal Catalan Barcelona melawan klub ibukota Spanyol,
Real Madrid, selalu berlangsung panas dan bahkan dikait-kaitkan dengan
dendam masa lalu. Selain orang Catalan, etnis Basque juga menolak
disebut bagian dari Spanyol. Hingga kini ada gerakan separatis Euskadi
Ta Azkatasuna/ETA(Tanah Air dan Kebebasan Basque) yang terus berjuang
untuk memerdekakan Basque. Klub yang berasal dari Basque adalah
Athletic Bilbao.
Hebatnya, selama Piala Eropa 2008 berlangsung,
seluruh rakyat Spanyol bersatu. Tengoklah kerjasama Xavi Hernandez dari
Catalan bekerja sama dengan Fernando Torres berasal dari Madrid, yang
berhasil menghasilkan gol kemenangan Spanyol dalam pertandingan final.
Ya, persatuan dan kekompakan menjadi salah satu kunci kesuksesan
Spanyol meraih gelar yang sudah dinanti sejak 44 tahun. Apa yang
dialami Spanyol ini hampir dengan situasi di Indonesia yang terdiri
dari berbagai etnis. Rasanya, soal persatuan dan kesatuan Indonesia
sedikit lebih baik dari Spanyol. Piala Asia 2007 lalu menunjukkan bahwa
hampir seluruh rakyat Indonesia berada di belakang pemain tim
nasionalnya.
Sementara itu, tidak ada yang mengira Turki lolos ke
semifinal sejak dikalahkan Portugal. "Selama berkarier, saya tak pernah
mengatakan menyerah dalam pertandingan. Berapa pun skor yang terjadi.
Saya adalah orang yang tak pernah kehilangan harapan. Saya sering
melihat banyak kejadian-kejadian dramatis dalam akhir-akhir
pertandingan. Itulah keindahan sepakbola," kata-kata itulah yang selalu
ditanamkan pelatih Fatih Terim kepada para pemainnya. Hasilnya, pemain
Turki selalu tak ada yang mengira Turki menang melawan Swiss, semuanya
mengira pertandingan berakhir 1-1. Beberapa detik jelang wasit meniup
peluit, Arda Turan mengubah keadaan menjadi 2-1. Melawan Ceko, Nihat
dkk sudah ketinggalan 2-0, tapi mampu berbalik menang 3-2. Dan yang
paling dramatis terjadi ketika Turki melawan Kroasia di perempat final.
Satu menit menjelang pertandingan berakhir, gawang Rustu dibobol Ivan
Klasnic. Lagi-lagi, Turki mampu membalas lewat Semih Senturk, hingga
akhirnya menang adu penalti.
Semangat pantang menyerah Turki ini,
mirip dengan semangat bangsa Indonesia ketika berjuang meraih
kemerdekaan atau lebih dikenal dengan Semangat 1945. Kemerdekaan
Indonesia diraih dengan keringat, darah, dan airmata, bukan hadiah.
Kalau cuma mengandalkan senjata yang dimiliki, sudah pasti para pejuang
Indonesia dulu tidak akan mampu menandingi para penjajah. Tapi, karena
Semangat 1945, Indonesia mampu mengusir penjajah, seperti yang
diperlihatkan Arek-arek Suroboyo ketika melawan tentara NICA.
Mudah-mudahan, Semangat 1945 akan selalu berada di darah setiap pemain
Indonesia ketika berada di lapangan.
Tentu saja, bukan seperti
membalikkan telapak tangan untuk menyamai Spanyol dan Turki. Postur
tubuh yang tidak memadai, kalau tidak didukung teknik bermain yang baik
tentu saja bohong besar. Semangat yang menyal-nyala pun membutuhkan
teknik dasar bermain bola yang memadai. Postur pemain Indonesia hampir
sama dengan pemain Spanyol, semangat tidak jauh berbeda dengan Turki.
Yang bagaikan langit dan bumi tentu saja soal skil. Itu tidak masalah,
karena skil bisa dilatih dan mental bisa diasah. Mudah-mudahan Spanyol
dan Turki bisa menjadi inspirasi bagi kesebelasan Indonesia. Jadi,
Indonesia bisa dong berbicara di pentas dunia? Au...ah...gelap


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke