PELUANG BESAR UNTUK EKONOMI
SYARIAH
Oleh : Ues
Kurnia
(Manajemen
Perbankan Syariah STEI SEBI)
Krisis
keuangan global (global financial crisis) yang di sebabkan oleh adanya
kredit macet sektor perumahan (subprime mortgage) di Amerika telah
membuat gentar negara-negara di dunia,
khususnya negara yang memiliki struktur ekonominya lemah.
Tak
bisa dipungkiri, meskipun krisis keuangan ini bermuara di Amerika, tapi mau
tidak mau negara-negara lain pun harus ikut merasakannya. Tidak memandang mau
itu negara miskin atau kaya, negara maju atau berkembang nampaknya semua harus
ikut menanggungnya. Ini suatu yang wajar
dalam siklus ekonomi, karena masing-masing negara memiliki keterkaitan satu
sama lain. Apalagi untuk negara yang secara ekonomi masih menggantungkan diri
pada Amerika termasuk Indonesia.
Indonesia
secara global mempunyai hubungan erat dengan Amerika khususnya dalam ekspor dan
impor. Ekspor Indonesia ke Amerika terbilang cukup besar dan merupakan salah
satu sumber devisa bagi negaranya. Sehingga ketika krisis itu datang, Indonesia
pun ikut tersibukan karena telah menimbulkan dampak buruk terhadap aktivitas
jual beli saham di bursa dan mengganggu stabilitas usaha dalam negeri.
Tetapi
meskipun demikian, kondisi ekonomi Indonesia terbilang masih stabil karena
didorong
dengan struktur perekonomian cukup kuat, cadangan devisa yang relative cukup
besar,
bila dibandingkan dengan Negara-negara lain di Asia tenggara. Didukung pula
dengan kebijakan (policy) pengendalian krisis oleh pemerintah yang
dinilai cukup efektif dan ampuh dalam mengatasi hal tersebut.
Selain
memiliki cadangan devisa yang cukup, didukung dengan kebijakan yang penuh dari
pemerintah. Dalam hal ini, kita pun bisa melihat sebetulnya terdapat faktor
lain yang turut membuat ekonomi Indonesia
mampu stabil dan mampu mempertahankan pertumbuhan ekonominya kurang lebih di
atas 5%. Yakni adanya kekuatan struktur
ekonomi yang di dukung oleh system
perbankan dengan menggunakan system syariah yaitu Bank Syariah yang fokus
distribusi dananya kepada sektor rill, sehingga mampu menggerakan aktivitas
ekonomi masyarakat Indonesia.
Bank
syariah megalami pertumbuhan yang cukup signifikan meskipun harus menghadapi
situasi yang kurang menentu, dibandingkan dengan Bank-bank syariah di negara
lain di
Asia. walaupun kita ketahui bersama, saat ini dunia perbankan secara umum,
khususnya bank-bank konvensional sedang terganggu dengan adanya krisis keuangan
global. Tetapi bank syariah kembali dapat menunjukan eksistensinya, setelah
berhasil melewati ujian krisis ekonomi tahun 1998 dengan Bank Muamalatnya.
Kenyataan
kita dapat menilai bahwa dalam kondisi krisis keuangan global saat ini,
perbankan
syariah dengan system bagi hasilnya tetap normal tidak terlalu terganggu
meskipun BI rate cenderung meningkat, yang diikuti oleh tingkat bunga pada bank
konvensional yang terus naik. Terlihat dengan pertumbuhan bank syariah yang
terus mengalami peningkatan, dengan likuiditas yang baik, serta kemampuan dalam
mempertahankan konsistensinya dalam menyalurkan pembiayaannya ke sektor riil.
Hal tersebut Nampak dalam laporan sejumlah bank syariah seperti Bank Syariah
Mandiri (BSM) dan Bank Mega Syariah (BMS) mengalami pertumbuhan cukup
signifikan. Hal itu diperkuat data otoritas moneter yang menyebutkan dana pihak
ketiga perbankan syariah per September lalu tumbuh empat persen menjadi sekitar
Rp 33,6 triliun dari sebulan sebelumnya Rp 32,4 triliun.
Adapun kemampuannya dalam mempertahankan core
bisnisnya di sektor riil terlihat dengan pembiayaan bank syariah yang cenderung
terus meningkat. Sebagaimana dalam data Statistik perbankan syariah Bank
Indonesia (BI) per Agustus 2008 menunjukkan sebagian besar komposisi pembiayaan
mengalami peningkatan. Seperti Pembiayaan Musyarakah meningkat 5,9 persen
dibanding Juli 2008. Atau dari Rp6,289 triliun, menjadi Rp6,666 triliun dengan
pangsa pasar 18,23 persen. Pembiayaan Mudharabah meningkat 1,2 persen dari
Rp6,522 triliun dengan pangsa pasar 18,53 persen, menjadi Rp6,602 triliun
dengan pangsa pasar 18,05 persen. Piutang Murabahah naik 3,4 persen dari
Rp20,704 triliun dengan pangsa pasar 58,84 persen menjadi Rp21,424 dengan
pangsa pasar 58,58 persen. Piutang Qard naik 1,62 persen, dari Rp761,322 miliar
dengan pangsa pasar 2,16 persen, menjadi Rp826,332 miliar dengan pangsa pasar
8,5 persen. Ijarah naik 24,5 persen dari Rp543,018 miliar dengan pangsa pasar
1,53 persen menjadi Rp676,544 miliar dengan pangsa pasar 1,85 persen
(Republika, 20 Oktober 2008).
Hal
ini tentu sangat positif dan mendapat respon baik dari para pelaku ekonomi.
Ditengah kondisi perekonomian yang cukup berat dalam permodalan, dengan semakin
meningkatnya suku bunga pinjaman dan kredit pada bank konvensional yang
dipengaruhi oleh adanya kenaikan tingkat suku bunga BI rate.
Bagi
bank konvensioanl adanya krisis keuangan ini, tentu cukup merepotkan. Mereka
mulai khawatir
dengan likuiditas banknya. Khususnya bagi bank yang memiliki kredit investasi
besar di sektor perumahan dan bagi bank yang telah meninvestasikan dananya di
lembaga keuangan luar negeri. Ditambah lagi dengan adanya kekhawatiran potensi
terjadinya penarikan dana besar-besaran (rush) oleh para pemilik dana (kreditur)
mengingat terus merosotnya harga-harga saham di bursa dan kurs rupiah yang
semakin
melemah.
Berbeda
dengan bank syariah, dengan adanya krisis ini justru dapat menjadi peluang baik,
karena hal ini dapat memberikan pelajaran positif dan efektif kepada masyarakat
yang mungkin selama ini masih enggan berinvestasi di bank syariah karena alasan
tidak bisa memberikan keuntungan yang besar atau terbilang mahal dalam setiap
melakukan
pembiayaan. Dengan semakin meningkatnya
tingkat bunga bank pada bank konvensional karena pengaruh adanya kenaikan suku
bunga BI rate di atas 9%. Maka akan membuat nasabah pembiayaan di bank
konvensioanl menjadi tertekan, dan akan semakin sulitnya masyarakat memperoleh
dana untuk kegiatan usahanya, karena bunganya yang relatif tinggi. sehingga
bukan malah membantu mendorong peningkatan ekonomi masyarakat tapi malah
menghambatnya.
kinilah
mungkin saatnya sistem syariah menjadi solusi untuk mengatasi ekonomi
masyarakat yang selama ini terus memburuk. Akibat dari adanya system yang
bobrok yakni system kapitalis dengan prinsip bunganya.
Terkait
dengan hal tersebut sekarang ini banyak Negara-negara di dunia yang mulai
cenderung berpihak pada sistem yang dinilai lebih adil yakni sistem syariah,
termasuk di negara Amerika sekalipun. misalnya saja dalam sebuah diskusi INCEF
Malaysia diskusi oleh seorang praktisi ekonomi syariah Indonesia yang tinggal
di kuala lumpur Malaysia dengan Dekan Harvard Business School Amerika Serikat,
seorang professor terkemuka di perbankan investasi tersebut mengatakan bahwa
Amerika
harus mengambil pelajaran dari krisis kredit perumahan tersebut, apalagi hal
ini bukan krisis yang pertama di AS pada 1930, lebih dari 9.000 bank terpaksa
Harus
ditutup. Selama abad 20 telah terjadi lebih dari 20 kali krisis yang berskala
global termasuk krisis tahun 1998 yang menimpa asia tenggara. Dan beliau
menyetujui bahwa Amerika harus banyak belajar dari konsep Ekonomi Islam untuk
diimplemetasiakn pada perekonomian Amerika kedepan (Republika,24 Nopember
08).
Isu
menarik pun terjadi di eropa, dimana ekonomi syariah telah menjadi perbincangan
yang cukup menarik dalam diskusi-diskusi dan seminar-seminar. Bahkan telah
mempraktekannya
dalam aktivitas ekonomi mereka, Khusus dalam hal ini negara Inggris. Industri
syariah telah berkembang cukup pesat disana. Dengan salah satu bank besarnya
Gatehouse Bank yang telah dikhususkan bergerak dalam pasar bisnis syariah,
Menjadikan
Inggris menjadi pusat likuiditas industry syariah. (Republika,24 Nopember
08)
Ini baru sebagian kecil saja, tentu masih
banyak informasi-informasi hangat lainnya sekilas tentang isu-isu perkembangan
ekonomi syariah saat
ini khususnya di bidang perbankan. Kita berharap Semoga hal ini dapat menjadi
penyemangat bagi kita semua dalam mendakwakan ekonomi syariah ke masyarakat
secara lebih luas. Dan semoga moment baik ini, dapat menjadi waktu yang tepat
untuk lebih mempopulerkan ekonomi syariah di tengah-tengah masyarakat, dan
sekaligus
menunjukan bahwa sistem ini terbukti lebih unggul dibandingkan dengan sistem
ekonomi lainnya. karena dibangun dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip
syariah yang terbebas dari praktek riba, gharar, maysir, dan segala bentuk
keburukan lainnya sehingga mampu memberikan rasa keadilan dan kesejahteraan
kepada
masyarakat. Semoga. Amin…
==========================================
Aku Ingin Menjadi Peluru
Berjuang Menembus Ruang dan Waktu
Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka
dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!
http://id.messenger.yahoo.com/invite/