Bunda, Rindu Ini Tak Terperihkan

"Ya
Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan
kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh
yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada
anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku
termasuk orang-orang yang berserah diri." 
(Al-Ahqaaf : 15)

Atmosfer 22 Desember agaknya menjadi
catatan duka bagi seseorang yang berada jauh dari sisi ibunya. Bagaimana tidak,
dikala setiap insan berlomba-lomba merebut perhatian ibunya, berbagi cerita
mengenai sejuta kisah kebersamaannya, mempersembahkan masakan favoritnya,.. di
sudut ruangan lain  “anak rantau”
menyelimuti kesedihan hatinya dengan mengingat-ingat kapan terakhir kali
menatap senyuman dari manusia yang telah merasakan jutaan penat dan lelah yang 
tak
terperihkan. 

Adalah wajar seorang nabipun pernah
bersedih mengingat kisah penuh duka pada orang yang ditinggalkan keluarganya.
Sesudah Hijrah, Nabi bercerita dihadapan sahabat-sahabatnya mengenai kisah
perjalanan pertama beliau menuju Madinah dengan ibunya. Sebulan lamanya mereka
tinggal di Madinah. Hingga suatu hari, Siti Aminah (ibunya) bersiap-siap  akan 
pulang.  Ia  dan 
rombongan kembali pulang dengan dua ekor unta yang membawa mereka dari
Mekah. Tetapi di tengah  perjalanan,  ketika 
sampai  di Abwa', ibunda Aminah
menderita sakit, yang kemudian meninggal dan dikuburkan di tempat itu.

Nabi yang masih belia pada waktu itu  oleh Umm 
Aiman  dibawa  pulang 
ke  Mekah, beliau pulang menangis
dengan hati yang pilu, sebatang kara. Ia makin merasa kehilangan;  sudah 
ditakdirkan menjadi anak yatim.  Terasa olehnya hidup yang makin sunyi,  makin 
sedih. Baru  beberapa hari yang
lalu ia mendengar dari Ibunda  keluhan  duka kehilangan Ayahanda semasa ia masih
dalam kandungan.  Kini  ia melihat sendiri  dihadapannya, 
ibu pergi untuk tidak kembali lagi, seperti ayah dulu.  Tubuh 
yang  masih  kecil 
itu  kini dibiarkan memikul beban
hidup yang berat, sebagai yatim-piatu.

Sejatinya, dengan sedikit saja menyelami shirah ini kita dapat memahami  bahwa 
bunda adalah lautan berjuta kasih,
karena itu tak cukup senandung “selamat hari ibu” dan jutaan kata-kata mutiara 
memaknai
kasih-sayangnya. Sampai disini saya yakin tanpa menggunakan riset sekalipun 
bahwa  100 % anak perantauan menjadikan ibu sebagai satu-satunya
alasan mengapa mereka tetap bertahan dari gempuran hidup. Mengapa? karena 
kesuksesan
mereka ditandai dengan ukiran senyum bahagia diwajah ibunya. Bahkan tidak
jarang kita temukan seserang yang baru mendapatkan pekerjaan merelakan gaji
pertamanya untuk ibunya sebagai wujud terima kasihnya kepada orang yang bersusah
payah membesarkannya itu. Tidak percaya? Silahkan buktikan! (Fauzul)

Tuhan tolonglah

Sampaikan sejuta sayangku untuknya

Ku trus berjanji takkan khianati pintanya

 

Bunda dengarlah,

Betapa sesungguhnya ku mencintaimu

Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

(Ada- Heaven
of Love : dengan sedikit gubahan)

 

Referensi :

Haikal,
Muhammad Husain. 2005. Sejarah Hidup Muhammad.
Jakarta : PUSTAKA JAYA


 ========================================== 
Aku Ingin Menjadi Peluru
Berjuang Menembus Ruang dan Waktu




      Pemanasan global? Apa sih itu? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! 
http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke