InshaAllah tak lama tulisan ni kan publish di buletin LDK Al Iqthishod Tazkia
Kak AzmiFahri , Sayyid Quthub pernah mengatakan "Engkau Mulai menyerah lalu engkau lemparkan senapan dari bahumu lalu siapakah lagi kiranya yang bersedia mengobati luka-luka para tawanan dan korban yang terluka ? " Hari hari ini di antara gempuran hidup yang tak pernah mengenal siaran tunda dan gelombang cabaran serta onak duri di meja ummat belum jua terselesaikan maka kiranya kerinduan apa Ibunda kita tercinta mampu menjadi pemecut dan stimulus untuk kembali bangkit dan berdiri lalu berperang kembali , Nabi Shalallahu alaihi Wasalam pernah mengatakan " Barangsiapa yang menuntut ilmu maka baginya ia tengah merentas jalan menuju ke surga dan dalam riwayat lain mengenai Jihad seorang pelajar yang pergi berjuang dengan meninggalkan keluarga tercintanya nun jauh disana maka baginya tersimpan pahala mujahidin yang tengah ribath dan berjihad apalagi kalau ia berdoa kepada Allah maka mudah bagi Allah untuk segera mencepatkan pengabulan doanya --- Pada Sen, 22/12/08, azmiFahri <[email protected]> menulis: Dari: azmiFahri <[email protected]> Topik: {FoSSEI} Bunda, Rindu Ini Tak Terperikan (Duka Anak Rantau) Kepada: "FoSSEI" <[email protected]> Tanggal: Senin, 22 Desember, 2008, 4:30 PM Bunda, Rindu Ini Tak Terperihkan "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (Al-Ahqaaf : 15) Atmosfer 22 Desember agaknya menjadi catatan duka bagi seseorang yang berada jauh dari sisi ibunya. Bagaimana tidak, dikala setiap insan berlomba-lomba merebut perhatian ibunya, berbagi cerita mengenai sejuta kisah kebersamaannya, mempersembahkan masakan favoritnya,. . di sudut ruangan lain “anak rantau” menyelimuti kesedihan hatinya dengan mengingat-ingat kapan terakhir kali menatap senyuman dari manusia yang telah merasakan jutaan penat dan lelah yang tak terperihkan. Adalah wajar seorang nabipun pernah bersedih mengingat kisah penuh duka pada orang yang ditinggalkan keluarganya. Sesudah Hijrah, Nabi bercerita dihadapan sahabat-sahabatnya mengenai kisah perjalanan pertama beliau menuju Madinah dengan ibunya. Sebulan lamanya mereka tinggal di Madinah. Hingga suatu hari, Siti Aminah (ibunya) bersiap-siap akan pulang. Ia dan rombongan kembali pulang dengan dua ekor unta yang membawa mereka dari Mekah. Tetapi di tengah perjalanan, ketika sampai di Abwa', ibunda Aminah menderita sakit, yang kemudian meninggal dan dikuburkan di tempat itu. Nabi yang masih belia pada waktu itu oleh Umm Aiman dibawa pulang ke Mekah, beliau pulang menangis dengan hati yang pilu, sebatang kara. Ia makin merasa kehilangan; sudah ditakdirkan menjadi anak yatim. Terasa olehnya hidup yang makin sunyi, makin sedih. Baru beberapa hari yang lalu ia mendengar dari Ibunda keluhan duka kehilangan Ayahanda semasa ia masih dalam kandungan. Kini ia melihat sendiri dihadapannya, ibu pergi untuk tidak kembali lagi, seperti ayah dulu. Tubuh yang masih kecil itu kini dibiarkan memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim-piatu. Sejatinya, dengan sedikit saja menyelami shirah ini kita dapat memahami bahwa bunda adalah lautan berjuta kasih, karena itu tak cukup senandung “selamat hari ibu” dan jutaan kata-kata mutiara memaknai kasih-sayangnya. Sampai disini saya yakin tanpa menggunakan riset sekalipun bahwa 100 % anak perantauan menjadikan ibu sebagai satu-satunya alasan mengapa mereka tetap bertahan dari gempuran hidup. Mengapa? karena kesuksesan mereka ditandai dengan ukiran senyum bahagia diwajah ibunya. Bahkan tidak jarang kita temukan seserang yang baru mendapatkan pekerjaan merelakan gaji pertamanya untuk ibunya sebagai wujud terima kasihnya kepada orang yang bersusah payah membesarkannya itu. Tidak percaya? Silahkan buktikan! (Fauzul) Tuhan tolonglah Sampaikan sejuta sayangku untuknya Ku trus berjanji takkan khianati pintanya Bunda dengarlah, Betapa sesungguhnya ku mencintaimu Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu (Ada- Heaven of Love : dengan sedikit gubahan) Referensi : Haikal, Muhammad Husain. 2005. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta : PUSTAKA JAYA ============ ========= ========= ========= === Aku Ingin Menjadi Peluru Berjuang Menembus Ruang dan Waktu Firefox 3: Lebih Cepat, Lebih Aman, Dapat Disesuaikan dan Gratis. Berbagi video sambil chatting dengan teman di Messenger. Sekarang bisa dengan Yahoo! Messenger baru. http://id.messenger.yahoo.com

