Oleh

Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid

Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman.

http://www.almanhaj.or.id/content/2430/slash/0

Jika seseorang menyebut Israil, maka kata ini selalu disandingkan
dengan Yahudi. Ini terjadi di banyak kalangan dari media, forum
diskusi, bahkan majlis-majlis ta’lim, tak urung para pembicara tidak
membedakan antara Yahudi dengan Israil. Seakan dua kata ini memiliki
terminologi yang sama. Yahudi adalah Israil, dan Israil adalah Yahudi.
Padahal penisbatan Yahudi kepada Israil merupakan kekeliruan !. Lantas,
bagaimana kedua hal ini bisa disebut berbeda?

Berikut ini kami sampaikan penjelasan mengenai perbedaan ini,
menurut pandangan Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid dan Syaikh Abu
Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman.
Tersebut di dalam kitab Mu’jam Manahil Lafzhiyah, Darul Ashimah,
Cetakan III, Tahun 1413H halaman 93-94, Syaikh Bakar bin Abdillah Abu
Zaid mengatakan :
Syaikh Abdullah bin Zaid Alu Mahmud memiliki sebuah risalah yang
berjudul Al-Ishlahu wat-Ta’dilu Fiima Thara-a Ala Ismil Yahudi wan
Nashara Minat Tabdil. Di dalam kitab tersebut terdapat tahqiq yang
menyinggung, bahwa Yahudi telah terlepas dari Bani Israil. Yakni
sebagaimana terpisahnya Nabi Ibrahim Alaihissalam dari bapaknya, Azar.
Kekufuran itu telah memutuskan loyalitas antara kaum Muslimin dengan
orang-orang kafir, sebagaimana diceritakan dalam kisah antara Nabi Nuh
Alaihissalam dengan putranya.
Oleh karena itu, keutamaan-keutamaan yang pernah dimiliki Bani
Israil pada zaman dahulu, sedikitpun tidak ada yang dimiliki kaum
Yahudi. Karenanya, justru penyematan nama Bani Israil untuk menyebut
kaum Yahudi, akan menjadikan mereka meraih keutamaan-keutamaan, dan
keburukan mereka pun tertutupi. Demikian ini berakibat hilangnya
perbedaan antara Bani Israil dengan Yahudi sebagai kaum yang dimurkai
Allah Azza wa Jalla dan dihinakan dimanapun mereka berada.

Begitu pula, tidak boleh mengganti nama Nashara menjadi Al-Masihin,
yaitu menisbatkan kepada pengikut Nabi Isa Al-Masih. Ini merupakan nama
baru yang tidak ada dasarnya dalam sejarah, dan tidak juga dalam
perkataan para ulama. Karena orang Nashara telah mengganti dan
menyelewengkan kitab Alla Azza wa Jalla, sebagaimana kaum Yahudi telah
melakukannya terhada din (agama) Nabi Musa Alaihissalam. Memberi nama
kepada mereka dengan Al-Masih, tidak memiliki dasar hujjah. Kepada
mereka Allah Azza wa Jalla hanya memberikan nama Nashara, bukan
Al-Masihin.

Kemudian, kekufuran kaum Yahudi dan Nashara terhadap syari’at
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka menjadi musabab penyebutan
atas diri mereka sebagai kafir. Allah berfirman.
“Orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik,
(mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum
datang kepada mereka bukti yang nyata” [Al-Bayinnah : 1]

Jadi sesungguhnya, Yahudi adalah nama bagi orang-orang yang tidak
beriman kepada Nabi Musa Alaihissalam. Adapun yang beriman, mereka
itulah yang disebut Bani Israil. Karena itu, orang-orang Yahudi
(sendiri) merasa tidak senang (jika) disebut dengan nama Yahudi.
Adapun Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman menuliskan di
catatan kaki kitab beliau, As-Salafiyun wa Qadhiyatu Filasthina, Markaz
Baitul Maqdis, Cetakan I, Tahun 1423H, halaman 12-13, sebagai berikut :
Penamaan ini, -yaitu menamakan Yahudi dengan nama Israil- merupakan
kemungkaran. Telah meluas di tengah masyarakat di negeri Muslim sebuah
perkataan yang berkonotasi celaan “Israil melakukan ini dan itu, dan
akan melakukan tindakan ini dan itu”, padahal Israil itu, merupakan
salah seorang Rasul Allah (utusan Allah), yaitu Nabi Ya’qub
Alaihissalam. Dan beliau Alaihissalam, sama sekali tidak memiliki
hubungan apapun dengan negara yang senang berbuat makar dan keji ini.
Antara para nabi dan rasul, sama sekali tidak ada saling waris-mewarisi
dengan orang-orang kafir, musuh mereka. Yahudi, sama sekali tidak
memiliki hubungan din (agama) dengan Nabi Allah, Israil.

Penamaan seperti ini, memberikan dampak buruk pada pemahaman diri
kita. Allah dan para rasul-Nya tidak akan pernah meridhainya, terutama
Nabi Israil Alaihissalam. Karena Yahudi adalah kaum kafir dan
pembohong. Menyematkan nama ini kepada mereka mengandung pelecehan
terhadap Nabi Israil Alaihissalam. Dan yang wajib adalah mencegah
penamaan itu.

Dalam Shahih Bukhari no. 3533, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,
dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah mengalihkan celaan
dan kutukan orang kafir Quraisy dariku. Mereka hanya mencela orang yang
tercela, dan mengutuk orang yang tercela. Sedangkan aku, tetap Muhammad
(terpuji)”
Dan kewajiban kita –minimal- membuat mereka gusar dengan penyematan
nama Yahudi pada mereka, karena mereka membenci nama ini dan senang
dengan penisbatan palsu kepada Nabi Ya’qub Alaihissalam. Mereka,
sedikitpun tidak mendapatkan keutamaan maupun kemuliaannya.

Syaikh Abdullah bin Zaid Alu Mahmud memiliki sebuah risalah yang
sudah dicetak di Qathar, tahun 1398H, dengan judul Al-Ishlahu
wat-Ta’dilu Fiima Thara-a Ala Ismil Yahudi wan Nashara Minat Tabdil..
Tentang masalah ini juga, coba lihat Muja’mul Manahil Lafzhiyah
(44), karya Syaikh Bakar Abu Zaid, majalah kami Al-Ashalah, Edisi 32,
Tahun ke-6, Tanggal 15 Rabi’ul Awwal 1422H, halaman 54-57, makalah
Syaikh Rabi’ bin Hadi, Hukmu Tasmiyati Daulati Yahuda bi Israil.
Peringatan dalam masalah ini, juga saya temukan dalam kitab Khurafatu
Yahudiyah, karya Ahmad As-Syuqairi, halaman 13-30, dengan judul Lastum
Abna-u Ibrahima, Antum Abna-u Iblisa.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi Khusus 07-08/Tahun
X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl.
Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp.
0271-5891016]



      

Kirim email ke