Pengantar: Ana hanya ingin Sharing Ilmu. Semoga bermanfaat...

Buletin Jum'at Risalah Tauhid -Depok- edisi 81
Judul Asli: Dikemanakan Hadits-Hadits Ini?
Sumber:www.mimbarislami.or.id 

Al Ustadz Abu Khaulah Zainal Abidin
 
Sungguh tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih sayang kepada
orang beriman selain Muhammad shalallahu `alaihi wasallam. Penderitaan
orang-orang beriman adalah penderitaannya. Bahkan kesusahan
orang-orang beriman ia rasakan lebih perih, seakan ia  pusat saraf
paling peka dari sebuah tubuh.
 
Tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih bersungguh-sungguh ingin
memberikan petunjuk dan bimbingan serta ingin memberikan jalan keluar
terbaik bagi orang-orang beriman, selain Muhammad shalallahu `alaihi
wasallam. Keselamatan dan kebahagiaan orang-orang beriman adalah
kebahagiaannya.
 
Tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih sayang dan tulus kepada
orang-orang beriman selain Muhammad shalallahu `alaihi wasallam. Apa
yang ia beri tak pernah ia harap kembali. Dialah yang tak pernah
menjual nasihat demi sekedar mereguk ni'mat, syahwat atau pangkat,
juga tidak pernah gila hormat.
 
Sungguh pribadi agung ini telah ALLAH SUBAHANAHU WA TA'ALA gambarkan
akan sifatnya (yang artinya): Telah datang kepada kalian seorang rasul
dari kaummu sendiri. Berat baginya penderitaanmu, sangat mengingingkan
–keimanan dan keselamatan- atas kalian, dan amat penuh belas kasih
sayang terhadap orang-orang beriman. (At-Taubah: 128)
 
Ya, dialah orang paling jujur nan amanah serta tulus  menasihati
ummah. Lisannya terjaga penuh, bukan mengikuti hawa nafsu melainkan di
bawah bimbingan wahyu. Dan sebagaimana yakinnya kita akan kelengkapan
dan kesempurnaan Islam, yakin pula kita akan lengkap dan sempurnanya
bimbingan Nabi shalallahu `alaihi wasallam.
 
Dan tentu saja bimbingan itu -melalui nasihatnya- meliputi  ragam
macam masalah yang bakal kita hadapi, sepanjang masa..Dalam urusan
diri, keluarga, atau masyarakat. Yang bahkan sahabatnyapun –Abu Dzar-
bersaksi: Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam telah meninggalkan
kami. Dan tidaklah burung yang terbang di udara dengan kedua sayapnya
kecuali telah sampai kepada kami ilmu tentangnya.
 
Lebih dari itu. Amalan dan perkara yang dapat mendekatkan kita ke
surga dan menyelamatkan kita dari neraka pun telah dia jelaskan !
 
"Tidak tertinggal sedikitpun perkara yang dapat mendekatkan ke surga
dan menjauhkan dari neraka, kecuali telah aku jelaskan bagi kalian."
 
Di dalam kehidupan masyarakat, di sana ada pihak yang mengatur, ada
pula yang diatur. Islam bukan hanya membimbing  para pengatur,
bagaimana cara mengatur orang banyak. Islam juga membimbing pihak yang
diatur, bagaimana cara bertutur kepada pengatur.
 
Ya, kekasih ALLAH yang paling mengerti urusan umatnya dan paling
sayang kepada mereka menasihati dan membimbing  agar mereka menyadari,
bahwa para pengatur mereka itu juga manusia yang tak luput dari
kekeliruan atau kesalahan.  Karena itu mereka harus saling menasihati.
 
Barangsiapa memiliki nasihat bagi penguasa, hendaknya tidak ia
sampaikan secara terang-terangan. Pegang tangannya dan bicarakan
berdua. Seandainya penguasa itu mau menerima, itulah yang diharapkan.
Jika tidak, yang menasihati itu telah menunaikan kewajibannya, sedang
penguasa itu bertanggung jawab atas kewajibannya. (Dikeluarkan oleh
Ibnu Abi `Ashim :As-Sunnah , Al Baihaqi: As-Sunnan Al Kubro, Al Hakim:
Al Mustadrak, dan Ahmad: Al Musnad)
 
Ya, menasihati penguasa bukan dengan cara membuat orasi-orasi di
mimbar-mimbar bebas, yang kata mereka -dengan gagahnya-:
"Seutama-utama jihad adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa
yang jahat."
 
Hendaknya mereka memperhatikan betul kata "di hadapan penguasa", yakni
hendaknya –sejalan dengan hadits di atas- menyampaikan nasihat itu
tidak di hadapan orang banyak.
 
Bagaimana akan menerima nasihat, jika telah lebih dahulu dipermalukan,
dibeberkan aib, dan dilukai hatinya. Membeberkan kesalahan dengan cara
semacam ini justru akan membuat mereka semakin sulit menerima nasihat.
Ingatlah pesan Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam: Jangan kalian
bantu syaithan menguasai saudaramu.
 
Ya, gara-gara salah di dalam cara menasihati, hasilnya bahkan semakin
parah. Syaithan semakin kuat memeluk dan menguasainya. Tidak sedikit
datangnya kebrutalan kaki tangan penguasa justru diundang oleh
cara-cara mereka yang -katanya- ingin menasihati penguasa. Ya, keadaan
semacam di atas, sungguh sangat mungkin terjadi disebabkan ulah
penasihat yang tidak hikmah. Memaksakan kehendak agar semua nasihat
didengar, diterima, dan dijalankan saat itu juga. Apalagi jika telah
terang-terangan melanggar rambu-rambu nasihat.
 
Kita lupa mungkin, masing-masing kita -ketika ingin mengubah
kemungkaran- harus tetap berada di atas posisi yang benar. Keluar dari
posisi berarti juga telah berbuat kemungkaran. Bagaimana mungkin
kemungkaran bisa diubah dengan cara yang juga mungkar?
 
Para penguasa mengubah kemungkaran dengan kekuasaan dan kekuatannya,
di situlah posisinya. Para ulama, da'i, atau guru mengubah kemungkaran
lewat nasihat-nasihatnya, di situlah posisinya.  Orang awam semacam
kita, yang tidak berilmu juga tak memiliki kekuasaan mengubah
kemungkaran dengan hati, berupa do'a dan pengingkaran hati, di situlah
posisinya.  Inilah yang dimaksud dari sabda Nabi shalallahu `alaihi
wasallam (yang artinya): Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaknya ia
ubah dengan tangannya. Jika tak sanggup, dengan lisannya. Jika tak
anggup, dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman. (HR: Muslim dari
Abi Sa'id Al Khudri)
 
Dan hendaknya kita sadar, bahwa syaithan menggoda siapa saja. Ahli
ma'shiyat digoda, sehingga semakin tenggelam di dalam
kema'shiyatannya. Ahli ibadah juga digoda, sehingga semakin tenggelam
di dalam keasyikan beribadah yang bercampur dengan kesyirikan dan
kebid'ahan, tanpa mereka sadari. Mereka yang ber-amar ma'ruf dan nahi
mungkar juga tak luput dari godaannya. Digoda dengan semangat dan
sikap berlebih-lebihan  sehingga keluar dari posisinya. Manakala telah
keluar dari posisi serta mengambil yang bukan porsinya, tinggalah
menunggu saatnya mereka terjerumus ke dalam sikap selalu  beroposisi
kepada penguasa, yang berujung kepada pengkafiran dan pemberontakan.
Dan bukan ini yang dikehendaki dari mencegah kemungkaran.
 
Betul, kita diperintahkan untuk mencegah kemungkaran: Dari Anas bi
Malik, dari Nabi shalallahu `alaihi wasallam, berkata,"Tolonglah
saudaramu yang berbuat dzalim dan yang didzalimi." Beliau ditanya,"
Ya, Rasulullah. Kami mengerti tentang menolong yang didzalimi. Akan
tetapi, bagaimana cara menolong yang berbuat dzalim?" Nabi shalallahu
`alaihi wasallam menjawab,"Cegahlah dia dari perbuatan dzalim
tersebut. Demikianlah cara kalian menolong mereka." (HR: Al Bukhari /
At-Tirmidzi.  Dan ini lafadz At-Tirmidzi)
 
Namun, ketika orang yang paling mengerti urusan umat dan paling sayang
kepada mereka ini mengungkapkan kata "cegah" dengan "tolong" , itu
artinya perbuatan tersebut haruslah dilandasi kasih sayang, bukan
kebencian!!!
 
Ya, orang yang paling mengerti urusan umat dan paling sayang kepada
mereka ini telah menasihati kita agar tulus dan tidak berjual-beli di
dalam nasihat: Dari Anas bin Malik, bahwasanya Nabi shalallahu `alaihi
wasallam telah bersabda: "Sesungguhnya kelak akan kalian dapati
penguasa yang hanya mementingkan dirinya." Para sahabat bertanya:"Apa
yang harus kami perbuat (-jika mendapati hal itu-), wahai Rasulullah?"
Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam menjawab:" Tunaikan kewajiban
kalian kepada mereka, dan mintalah hak-hak kalian kepada ALLAH!" (HR:
Al Bukhari)
 
Ya, kekasih ALLAH yang paling mengerti urusan umatnya dan paling
sayang kepada mereka menasihati dan membimbing  agar mereka senatiasa
ta'at kepada orang-orang yang diserahi tanggung jawab mengurus umat,
tanpa pamrih dan tawar-menawar keta'atan, selama bukan dalam urusan
ma'shiyat.  Beliau tidak mengajari kita mengatakan: Kami ta'ati kalian
kalau kalian memenuhi tuntutan kami. Bahkan meskipun orang-orang
tersebut memakan harta atau memukul punggung mereka.
 
Dari Ubadah bin Shaamit, berkata: Rasulullah shalallahu `alaihi
wasallam telah memanggil kami, maka kamipun berbai'at dan ia mengambil
janji dari kami untuk mendengar dan ta'at dalam senang atau terpaksa,
dalam kelapangan atau kesempitan. Dan tidak mencabut ketaatan.
Kemudian Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam berkata: "Kecuali jika
kalian melihat kekufuran yang nyata yang menjadi bukti bagimu di
hadapan ALLAH." (HR: Al Bukhari)
 
Pada riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban ada tambahan: "Meskipun mereka
memakan hartamu dan memukuli punggungmu."
 
Perhatikanlah, wahai orang yang mengaku pengikut Muhammad shalallahu
`alaihi wasallam (Meskipun mereka memakan hartamu dan memukuli
punggungmu) !!!. Jangan lupa, bahwa yang mengatakan ini adalah yang
tidak berkata-kata kecuali di bawah bimbingan wahyu.
 
Begitu pula, ketika umat ditimpa paceklik, barang langka harga
melambung, sebagaimana kejadian semacam ini -di mana saja dan kapan
saja- dijadikan momentum untuk "menyadarkan" umat akan haknya, Sang
Kekasih ALLAH ini justru mengingatkan kita untuk kembali kepada ALLAH:
Dari Anas bin Malik, ia berkata: Pernah di zaman Nabi shalallahu
`alaihi wasallam harga-harga melambung. Maka para sahabat berkata,"Ya
Rasulullah, turunkan harga!" Maka Rasulullah shalallahu `alaihi
wasallam pun menjawab," Sesungguhnya ALLAH-lah yang menetapkan harga.
Dia-lah yang Menaikkan, Menurunkan,  dan Memberi Rezeki. Sungguh aku
berharap dapat berjumpa dengan rabb-ku dalam keadaan tak seorangpun di
antara  kalian menuntutku karena ketidakadilanku dalam urusan  darah
dan harta." (HR: At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
 
Beliau tidak pernah menyuruh umatnya -apalagi kaum ibu- untuk turun ke
jalan membawa alat dapur, memukul-mukulnya agar riuh kedengarannya,
menarik perhatian orang banyak seraya berteriak-teriak menuntut
turunnya harga Sebagian lagi bertindak anarkis asyik bermain-main
dengan api di jalan tempat orang berlalu lalang, membikin semua orang
kegerahan karena macet. Sungguh sulit untuk percaya bahwa mereka
sedang membela nasib orang-orang susah. Ya, pribadi yang paling
mengerti urusan umat dan paling sayang kepada mereka tak pernah
mengajari kita melakukan  tindakan sia-sia -yang merendahkan martabat-
semacam ini!!!
 
Akankah kita katakan bahwa Muhammad shalallahu `alaihi wasallam tidak
mengerti penderitaan umatnya? Alangkah kejamnya Beliau Sholallahu
`Alaihi Wasallam, membiarkan umatnya didzalimi ??? Apakah para
provokator  -yang senantiasa memanas-manasi umat ini-   lebih tulus
nasihatnya dan lebih arif pertimbangannya dibanding Muhammad
shalallahu `alaihi wasallam ?
 
Tentu saja, sangat dimaklumi, bahwa nasihat-nasihat Nabi shalallahu
`alaihi wasallam di atas sangat tidak menguntungkan bagi mereka yang
suka menjadikan kedzaliman penguasa sebagai komoditi politik. Dan
sungguh Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam tidak pernah mengajari
kita demikian, menjual nasihat demi syahwat atau pangkat. Maka tidak
ada tempat untuk bertanya: "Bagaimana jika pemerintah tidak mau
menerima nasihat dan teguran kita?" Juga tak ada tempat untuk
mencurigai ulama, bahwa mereka tidak pernah menasihati penguasa. Apa
dasar kecurigaan ini dan dari mana mereka tahu bahwa para ulama diam
saja melihat kemungkaran? Apakah para ulama, da'i, ustadz-ustadz itu
harus melaporkan kepada masyarakat bahwa mereka telah berkata ini dan
itu kepada penguasa ???
 
Merekalah yang lebih layak untuk dicurigai -kalau memang boleh kita
berburuk sangka kepada mereka- ketimbang para ulama. Mereka yang
sering -di atas mimbar- menasihati orang banyak dengan kemasan agama.
Ya, cukup kepada mereka, dan kita tak punya urusan kepada  yang jahil,
yang hanya jadi kaki tangan, operator lapangan yang tak mengerti
sedikitpun agama ini. Tanyakan kepada mereka,: "Mengapa kalian -yang
mengaku tahu dan peduli terhadap urusan umat-  tak pernah menyampaikan
hadits-hadits di atas? Dikemanakan hadits-hadits ini? Dikemanakan?"
Sekian.Wallahua'lam

Pencari_ilmu2008: Untuk Para Akhwat..Apakah Antunna tidak merasa
tereksploitasi klo melaksanakan "AKSI"? Apakah Antunna rela ada oknum
yang tidak bertanggungjawab "take your pictures much time", Apa 
Antunna tidak merasa????,  tolong hargai ikhwan yang lalu-lalang di
jalan yang ga bisa menahan hati klo udah liat Antunna (klo menahan
mata aja bisa!)!!!!  Ana anjurkan kita belajar ilmu syar'i dulu ya...
Baarakallaahu fiikum

Kirim email ke