Menguatkan pendapat...


Mengutip pernyataan Fauzi Barhum juru bicara Hamas dibawah ini: 



“Kami
katakan kepada siapa saja yang tidak menghendaki pembebasan Gaza atau
pihak-pihak yang tidak menginginkan Hamas menang, jika kalian tidak
bisa berbuat sesuatu untuk rakyat Palestina, maka diamlah!!. karena
kami mampu melindungi rakyat kami dan membela tanah air kami!"

--- On Fri, 1/9/09, ACHMAD SOEDIRO <[email protected]> wrote:
From: ACHMAD SOEDIRO <[email protected]>
Subject: Re: {FoSSEI} Mengoreksi Pemerintah dengan Demonstrasi, Bolehkah??? 
Basi-basi
To: [email protected]
Date: Friday, January 9, 2009, 12:54 PM










    
            Maaf Mas, sudah basi, cari saja di Google, kami sedang sibuk 
berbuat untuk saudara kami di Palestina. selain itu jangan buat kami curiga: 
Kenapa ente2 sekalian malah buat ruwet saat kami sedang sibuk untuk Gaza. gak 
perlu dijawab, karena waktu kami berharga bagi Gaza. sekali lagi kalo mau 
diskusi, sono diskusi saja sama Syiekh Surfing bin Searching Al Google, 
insyaAllah bakal membuat ente nyaman berdiskusi.
Terima kasih



--- On Thu, 8/1/09, pencari_ilmu2008 <pencari_ilmu2008@ yahoo.com> wrote:
From: pencari_ilmu2008 <pencari_ilmu2008@ yahoo.com>
Subject: {FoSSEI} Mengoreksi Pemerintah
 dengan Demonstrasi, Bolehkah???
To: fos...@yahoogroups. com
Date: Thursday, 8 January, 2009, 6:24 AM







    
            Pengantar: Ana hanya ingin sharing ilmu aja...jadi apabila ada yang

ingin mengoreksi posting ana ini, ya...silahakan, TAPI Harus pakai

ilmu lho ya, jangan pakai perasaan. Ingat Dakwah harus berlandaskan

Ilmu bukan sekedar semangat tanpa ilmu.Baarakallaahu fiikum



Al Ustadz Abu Khaulah Zainal Abidin

 

Sungguh tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih sayang kepada

orang beriman selain Muhammad shalallahu `alaihi wasallam. Penderitaan

orang-orang beriman adalah penderitaannya. Bahkan kesusahan

orang-orang beriman ia rasakan lebih perih, seakan ia  pusat saraf

paling peka dari sebuah tubuh.

 

Tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih bersungguh-sungguh ingin

memberikan petunjuk dan bimbingan serta ingin memberikan jalan keluar

terbaik bagi orang-orang beriman, selain Muhammad shalallahu `alaihi

wasallam. Keselamatan dan kebahagiaan orang-orang beriman adalah

kebahagiaannya.

 

Tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih sayang dan tulus kepada

orang-orang beriman selain Muhammad shalallahu `alaihi wasallam. Apa

yang ia beri tak pernah ia harap kembali. Dialah yang tak pernah

menjual nasihat demi sekedar mereguk ni'mat, syahwat atau pangkat,

juga tidak pernah gila hormat.

 

Sungguh pribadi agung ini telah ALLAH SUBAHANAHU WA TA'ALA gambarkan

akan sifatnya (yang artinya): Telah datang kepada kalian seorang rasul

dari kaummu sendiri. Berat baginya penderitaanmu, sangat mengingingkan

–keimanan dan keselamatan- atas kalian, dan amat penuh belas kasih

sayang terhadap orang-orang beriman. (At-Taubah: 128)

 

Ya, dialah orang paling jujur nan amanah serta tulus  menasihati

ummah. Lisannya terjaga penuh, bukan mengikuti hawa nafsu melainkan di

bawah bimbingan wahyu. Dan sebagaimana yakinnya kita akan kelengkapan

dan kesempurnaan Islam, yakin pula kita akan lengkap dan sempurnanya

bimbingan Nabi shalallahu `alaihi wasallam.

 

Dan tentu saja bimbingan itu -melalui nasihatnya- meliputi  ragam

macam masalah yang bakal kita hadapi, sepanjang masa..Dalam urusan

diri, keluarga, atau masyarakat. Yang bahkan sahabatnyapun –Abu Dzar-

bersaksi: Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam telah meninggalkan

kami. Dan tidaklah burung yang terbang di udara dengan kedua sayapnya

kecuali telah sampai kepada kami ilmu tentangnya.

 

Lebih dari itu. Amalan dan perkara yang dapat mendekatkan kita ke

surga dan menyelamatkan kita dari neraka pun telah dia jelaskan !

 

"Tidak tertinggal sedikitpun perkara yang dapat mendekatkan ke surga

dan menjauhkan dari neraka, kecuali telah aku jelaskan bagi kalian."

 

Di dalam kehidupan masyarakat, di sana ada pihak yang mengatur, ada

pula yang diatur. Islam bukan hanya membimbing  para pengatur,

bagaimana cara mengatur orang banyak. Islam juga membimbing pihak yang

diatur, bagaimana cara bertutur kepada pengatur.

 

Ya, kekasih ALLAH yang paling mengerti urusan umatnya dan paling

sayang kepada mereka menasihati dan membimbing  agar mereka menyadari,

bahwa para pengatur mereka itu juga manusia yang tak luput dari

kekeliruan atau kesalahan.  Karena itu mereka harus saling menasihati.

 

Barangsiapa memiliki nasihat bagi penguasa, hendaknya tidak ia

sampaikan secara terang-terangan. Pegang tangannya dan bicarakan

berdua. Seandainya penguasa itu mau menerima, itulah yang diharapkan.

Jika tidak, yang menasihati itu telah menunaikan kewajibannya, sedang

penguasa itu bertanggung jawab atas kewajibannya. (Dikeluarkan oleh

Ibnu Abi `Ashim :As-Sunnah , Al Baihaqi: As-Sunnan Al Kubro, Al Hakim:

Al Mustadrak, dan Ahmad: Al Musnad)

 

Ya, menasihati penguasa bukan dengan cara membuat orasi-orasi di

mimbar-mimbar bebas, yang kata mereka -dengan gagahnya-:

"Seutama-utama jihad adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa

yang jahat."

 

Hendaknya mereka memperhatikan betul kata "di hadapan penguasa", yakni

hendaknya –sejalan dengan hadits di atas- menyampaikan nasihat itu

tidak di hadapan orang banyak.

 

Bagaimana akan menerima nasihat, jika telah lebih dahulu dipermalukan,

dibeberkan aib, dan dilukai hatinya. Membeberkan kesalahan dengan cara

semacam ini justru akan membuat mereka semakin sulit menerima nasihat.

Ingatlah pesan Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam: Jangan kalian

bantu syaithan menguasai saudaramu.

 

Ya, gara-gara salah di dalam cara menasihati, hasilnya bahkan semakin

parah. Syaithan semakin kuat memeluk dan menguasainya. Tidak sedikit

datangnya kebrutalan kaki tangan penguasa justru diundang oleh

cara-cara mereka yang -katanya- ingin menasihati penguasa. Ya, keadaan

semacam di atas, sungguh sangat mungkin terjadi disebabkan ulah

penasihat yang tidak hikmah. Memaksakan kehendak agar semua nasihat

didengar, diterima, dan dijalankan saat itu juga. Apalagi jika telah

terang-terangan melanggar rambu-rambu nasihat.

 

Kita lupa mungkin, masing-masing kita -ketika ingin mengubah

kemungkaran- harus tetap berada di atas posisi yang benar. Keluar dari

posisi berarti juga telah berbuat kemungkaran. Bagaimana mungkin

kemungkaran bisa diubah dengan cara yang juga mungkar?

 

Para penguasa mengubah kemungkaran dengan kekuasaan dan kekuatannya,

di situlah posisinya. Para ulama, da'i, atau guru mengubah kemungkaran

lewat nasihat-nasihatnya, di situlah posisinya.  Orang awam semacam

kita, yang tidak berilmu juga tak memiliki kekuasaan mengubah

kemungkaran dengan hati, berupa do'a dan pengingkaran hati, di situlah

posisinya.  Inilah yang dimaksud dari sabda Nabi shalallahu `alaihi

wasallam (yang artinya): Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaknya ia

ubah dengan tangannya. Jika tak sanggup, dengan lisannya. Jika tak

anggup, dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman. (HR: Muslim dari

Abi Sa'id Al Khudri)

 

Dan hendaknya kita sadar, bahwa syaithan menggoda siapa saja. Ahli

ma'shiyat digoda, sehingga semakin tenggelam di dalam

kema'shiyatannya. Ahli ibadah juga digoda, sehingga semakin tenggelam

di dalam keasyikan beribadah yang bercampur dengan kesyirikan dan

kebid'ahan, tanpa mereka sadari. Mereka yang ber-amar ma'ruf dan nahi

mungkar juga tak luput dari godaannya. Digoda dengan semangat dan

sikap berlebih-lebihan  sehingga keluar dari posisinya. Manakala telah

keluar dari posisi serta mengambil yang bukan porsinya, tinggalah

menunggu saatnya mereka terjerumus ke dalam sikap selalu  beroposisi

kepada penguasa, yang berujung kepada pengkafiran dan pemberontakan.

Dan bukan ini yang dikehendaki dari mencegah kemungkaran.

 

Betul, kita diperintahkan untuk mencegah kemungkaran: Dari Anas bi

Malik, dari Nabi shalallahu `alaihi wasallam, berkata,"Tolonglah

saudaramu yang berbuat dzalim dan yang didzalimi." Beliau ditanya,"

Ya, Rasulullah. Kami mengerti tentang menolong yang didzalimi. Akan

tetapi, bagaimana cara menolong yang berbuat dzalim?" Nabi shalallahu

`alaihi wasallam menjawab,"Cegahlah dia dari perbuatan dzalim

tersebut. Demikianlah cara kalian menolong mereka." (HR: Al Bukhari /

At-Tirmidzi.  Dan ini lafadz At-Tirmidzi)

 

Namun, ketika orang yang paling mengerti urusan umat dan paling sayang

kepada mereka ini mengungkapkan kata "cegah" dengan "tolong" , itu

artinya perbuatan tersebut haruslah dilandasi kasih sayang, bukan

kebencian!!!

 

Ya, orang yang paling mengerti urusan umat dan paling sayang kepada

mereka ini telah menasihati kita agar tulus dan tidak berjual-beli di

dalam nasihat: Dari Anas bin Malik, bahwasanya Nabi shalallahu `alaihi

wasallam telah bersabda: "Sesungguhnya kelak akan kalian dapati

penguasa yang hanya mementingkan dirinya." Para sahabat bertanya:"Apa

yang harus kami perbuat (-jika mendapati hal itu-), wahai Rasulullah?"

Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam menjawab:" Tunaikan kewajiban

kalian kepada mereka, dan mintalah hak-hak kalian kepada ALLAH!" (HR:

Al Bukhari)

 

Ya, kekasih ALLAH yang paling mengerti urusan umatnya dan paling

sayang kepada mereka menasihati dan membimbing  agar mereka senatiasa

ta'at kepada orang-orang yang diserahi tanggung jawab mengurus umat,

tanpa pamrih dan tawar-menawar keta'atan, selama bukan dalam urusan

ma'shiyat.  Beliau tidak mengajari kita mengatakan: Kami ta'ati kalian

kalau kalian memenuhi tuntutan kami. Bahkan meskipun orang-orang

tersebut memakan harta atau memukul punggung mereka.

 

Dari Ubadah bin Shaamit, berkata: Rasulullah shalallahu `alaihi

wasallam telah memanggil kami, maka kamipun berbai'at dan ia mengambil

janji dari kami untuk mendengar dan ta'at dalam senang atau terpaksa,

dalam kelapangan atau kesempitan. Dan tidak mencabut ketaatan.

Kemudian Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam berkata: "Kecuali jika

kalian melihat kekufuran yang nyata yang menjadi bukti bagimu di

hadapan ALLAH." (HR: Al Bukhari)

 

Pada riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban ada tambahan: "Meskipun mereka

memakan hartamu dan memukuli punggungmu."

 

Perhatikanlah, wahai orang yang mengaku pengikut Muhammad shalallahu

`alaihi wasallam (Meskipun mereka memakan hartamu dan memukuli

punggungmu) !!!. Jangan lupa, bahwa yang mengatakan ini adalah yang

tidak berkata-kata kecuali di bawah bimbingan wahyu.

 

Begitu pula, ketika umat ditimpa paceklik, barang langka harga

melambung, sebagaimana kejadian semacam ini -di mana saja dan kapan

saja- dijadikan momentum untuk "menyadarkan" umat akan haknya, Sang

Kekasih ALLAH ini justru mengingatkan kita untuk kembali kepada ALLAH:

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Pernah di zaman Nabi shalallahu

`alaihi wasallam harga-harga melambung. Maka para sahabat berkata,"Ya

Rasulullah, turunkan harga!" Maka Rasulullah shalallahu `alaihi

wasallam pun menjawab," Sesungguhnya ALLAH-lah yang menetapkan harga.

Dia-lah yang Menaikkan, Menurunkan,  dan Memberi Rezeki. Sungguh aku

berharap dapat berjumpa dengan rabb-ku dalam keadaan tak seorangpun di

antara  kalian menuntutku karena ketidakadilanku dalam urusan  darah

dan harta." (HR: At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

 

Beliau tidak pernah menyuruh umatnya -apalagi kaum ibu- untuk turun ke

jalan membawa alat dapur, memukul-mukulnya agar riuh kedengarannya,

menarik perhatian orang banyak seraya berteriak-teriak menuntut

turunnya harga Sebagian lagi bertindak anarkis asyik bermain-main

dengan api di jalan tempat orang berlalu lalang, membikin semua orang

kegerahan karena macet. Sungguh sulit untuk percaya bahwa mereka

sedang membela nasib orang-orang susah. Ya, pribadi yang paling

mengerti urusan umat dan paling sayang kepada mereka tak pernah

mengajari kita melakukan  tindakan sia-sia -yang merendahkan martabat-

semacam ini!!!

 

Akankah kita katakan bahwa Muhammad shalallahu `alaihi wasallam tidak

mengerti penderitaan umatnya? Alangkah kejamnya Beliau Sholallahu

`Alaihi Wasallam, membiarkan umatnya didzalimi ??? Apakah para

provokator  -yang senantiasa memanas-manasi umat ini-   lebih tulus

nasihatnya dan lebih arif pertimbangannya dibanding Muhammad

shalallahu `alaihi wasallam ?

 

Tentu saja, sangat dimaklumi, bahwa nasihat-nasihat Nabi shalallahu

`alaihi wasallam di atas sangat tidak menguntungkan bagi mereka yang

suka menjadikan kedzaliman penguasa sebagai komoditi politik. Dan

sungguh Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam tidak pernah mengajari

kita demikian, menjual nasihat demi syahwat atau pangkat. Maka tidak

ada tempat untuk bertanya: "Bagaimana jika pemerintah tidak mau

menerima nasihat dan teguran kita?" Juga tak ada tempat untuk

mencurigai ulama, bahwa mereka tidak pernah menasihati penguasa. Apa

dasar kecurigaan ini dan dari mana mereka tahu bahwa para ulama diam

saja melihat kemungkaran? Apakah para ulama, da'i, ustadz-ustadz itu

harus melaporkan kepada masyarakat bahwa mereka telah berkata ini dan

itu kepada penguasa ???

 

Merekalah yang lebih layak untuk dicurigai -kalau memang boleh kita

berburuk sangka kepada mereka- ketimbang para ulama. Mereka yang

sering -di atas mimbar- menasihati orang banyak dengan kemasan agama.

Ya, cukup kepada mereka, dan kita tak punya urusan kepada  yang jahil,

yang hanya jadi kaki tangan, operator lapangan yang tak mengerti

sedikitpun agama ini. Tanyakan kepada mereka,: "Mengapa kalian -yang

mengaku tahu dan peduli terhadap urusan umat-  tak pernah menyampaikan

hadits-hadits di atas? Dikemanakan hadits-hadits ini? Dikemanakan? "



Buletin Jum'at Risalah Tauhid -Depok- edisi 81

Judul Asli: Dikemanakan Hadits-Hadits Ini?

Sumber:www.mimbaris lami.or.id 




      


         
        
        




      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke