Israel Kian Terancam dan tak Lagi Superior
By Republika Newsroom
Sabtu, 10 Januari 2009 pukul 10:46:00
DAYLIFE.COM
JAKARTA--Belum
pernah Israel seterancam seperti sekarang, apalagi belum genap dua
tahun lalu, superioritas militernya terhadap Arab dipatahkan Hizbullah
di Lebanon.
Kini, tak ada satu pun kota Israel yang aman dari
serangan Arab meski puluhan skuadron pesawat tempur canggih dan wahana
anti rudal menjaga ketat kota-kota Israel.
Bahkan saat tank-tank
canggih Abrams, lusinan heli tempur Apache dan salah satu pasukan
infanteri paling terlatih di dunia menginvasi Gaza sejak 3 Januari
2009, luncuran roket Hamas tetap menghujam bumi Israel.
"Hamas
masih cukup memiliki roket dan mortir untuk terus ditembakkan jauh ke
dalam wilayah Israel sampai beberapa minggu," kata Kepala Litbang
Intelijen Militer (Aman), Jenderal Yossi Beidatz, seperti dilansir AFP
(6/1).
Hamas yang berada di jantung Israel kian mengancam negara
Yahudi itu dan didukung rakyatnya terbukti pemilu Palestina Januari
2006 lalu telah memenangkan Hamas dan membuat Israel serta rezim-rezim
Arab sekutu AS ketakutan.
Israel harus menerima kenyataan, semua
pemenang proses demokrasi di Timur Tengah berubah menentangnya, tak
terkecuali Turki yang sebelumnya menjadi sahabat kentalnya atau Iran
yang kini menjadi musuh paling fanatiknya.
Israel juga
menghadapi Presiden terpilih AS yang bungkam menyikapi ulah usilnya di
Timur Tengah, padahal sebelumnya rezim-rezim baru Washington selalu
berhasil dipancing Israel untuk berkomentar.
Wayne White, mantan
analis Timur Tengah di Departemen Luar Negeri AS, menilai Obama bungkam
karena ia menghadapi kompleksitas konflik Gaza dan melihat Israel
berlaku bodoh di Gaza.
"Jika saya Obama, saya juga akan memilih bungkam," kata Wayne seperti dikutip
Washington Times (30/12).
Sendirian
Ketika
Obama akhirnya berbicara, si hitam beradik keturunan Indonesia itu
tidak mengisyaratkan ia bersetuju dengan Israel, sebaliknya
menyampaikan kalimat yang netral sehingga tak membuat gerah Arab.
"Tegasnya,
saya menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas konflik yang berlaku
di wilayah itu," kata Obama seperti dikutip DPA (7/1), tanpa
mengomentari legalitas agresi Gaza yang justru diinginkan Israel.
Sikap
diam Obama adalah kemunduran bagi Israel yang malah menegaskan fokusnya
pada perbaikan ekonomi dan dengan cerdik membebankan Gaza pada rezim
George Bush yang turut mengarsiteki krisis Gaza.
"Saya kira
pemerintah Bush sangat nyaman mendukung Israel dan tak melibatkan diri
atau mencoba upaya gencatan senjata," kata Scott Lasensky, analis
United States Institute of Peace, mengomentari aransemen Bush di Gaza.
Sejumlah kalangan bahkan meminta Obama tegas dengan tidak menuruti Israel.
"Obama
mesti memulai inisiatif baru karena proses damai Annapolis pada
November 2007 tidak menghasilkan apa-apa," ulas Nathan Brown, analis
Carnegie Endowment for International Peace, menunjuk prakarsa damai
kreasi Bush yang menguntungkan Israel semata itu.
Jelas, Israel sendirian di Timur Tengah, apalagi Bush yang memanjanya segera
raib dari Gedung Putih.
Turki yang lama menjadi sekutunya pun menjaga jarak setelah pemerintahan
pimpinan AKP enggan menyeret Turki merapat ke Israel.
Jangan
tanya sikap Eropa karena banyak negara seperti Prancis dan Jerman,
geram terhadap ulah Israel yang gemar menyepelekan hukum internasional.
"Tuan
Presiden (Shimon Peres), anda menghadapi masalah serius dengan dunia
internasional dan citra Israel tengah hancur," kata anggota Komisi
Hubungan Luar Negeri Uni Eropa Benita Ferrero-Waldner saat menyampaikan
sikap Eropa di Gaza.
Hanya karena ingin memupus perasaan
bersalah atas genosida semasa Perang Dunia Kedua, Eropa ingin terlihat
seimbang di Palestina dengan menyeru Hamas mengakhiri serangan roket ke
Israel.
Sadar
Israel sendiri sadar petualangannya di Gaza
tak akan sepermanen saat mereka merampas Sinai pada Perang 1967,
lagipula ekspedisi kali ini hanya untuk konsumsi pemilu.
Israel
juga tahu Hamas yang menjadi musuhnya sekarang lebih militan dibanding
musuh musuhnya pada masa lalu, diantaranya karena memiliki roket-roket
Iran yang menjangkau semua wilayah Israel.
Oleh karena itu,
agresi Gaza adalah juga pesan Israel pada Iran yang membuatnya menjadi
demikian tidak aman dan tak lagi superior. Iran menodong Israel dengan
roket Grad dan Fajar tanpa menggelarkan seorang pun tentara.
"Iran
cukup memasukkan anasir kimia dan biologi pada rudalnya dan hancurlah
Negara Yahudi. Itu semua dilakukan secara terselubung melalui Hamas dan
Hizbullah sehingga Iran bisa mengklaim diri bersih," kata Profesor
Rabbi Daniel Zucker, ketua Americans for Democracy in the Middle-East
seperti dikutip Jerusalem Post.
Israel juga tak bisa
mengandalkan sekutu Arabnya yang belakangan terlihat rapuh dirongrong
oposisi yang umumnya senafas dengan Hamas.
Keengganan Mesir
untuk tegas di Palestina misalnya, lebih karena dimotivasi oleh
kekhawatiran Hamas menulari kaum oposisi Mesir. Pandangan serupa dianut
rezim Arab moderat lainnya seperti Arab Saudi dan Yordania yang tak
ingin shiah Iran menyemangati kaum oposisi.
Presiden Husni
Mubarak tak saja khawatir Hamas mengancam Presiden Palestina Mahmoud
Abbas dan Fatah, tapi juga karena dia memiliki agenda politiknya
sendiri, menetralisir oposisi muslim militan, khususnya Ikhwanul
Muslimin.
Ikhwanul memang dinyatakan terlarang, namun para
aktivisnya yang kini menjadi anggota parlemen dari garis independen
telah membentuk kaukus oposisi besar di parlemen di mana tokohnya yang
bernama Mohamed Habib menuduh Mubarak bersekongkol dengan Israel.
Habib
juga menyebut Israel telah mengiris wilayah Arab, menjarah kekayaannya
dan menghapus identitas budayanya. Untuk itu, Habib melihat perlawanan
Palestina di Gaza adalah garis depan pertahanan Arab guna menghadapi
rekayasa Israel.
Ekspedisi militer Israel di Gaza adalah memang
rekayasa dan petualangan Partai Kadima dalam menaikkan popularitasnya
menjelang pemilu legislatif 10 Februari 2009.
Kalau dulu PLO
atau Hizbullah di Lebanon yang menjadi pion pendongkrak popularitas
politik Tel Aviv, maka kini mereka memainkan Hamas sebagai bidak
pendongkrak popularitas politik dengan membesar-besarkan ancaman Hamas.
Padahal, militansi Hamas adalah reaksi dari embargo tak manusiawi
Israel di Gaza.
Dengan embargo Gaza, Israel ingin melemahkan
Hamas sehingga tak mampu memerintah dan Gaza pun kacau untuk kemudian
menjadi pintu masuk bagi penggulingan Hamas oleh Israel.
Hamas
berupaya menembus blokade itu, mulanya dengan penyelundupan, namun
frustasi dan terpaksa mengadopsi serangan bersenjata, satu tindakan
yang justru diinginkan Israel karena menjadi pembenar bagi invasi ke
Gaza.
Pengepungan
"Padahal bukan hanya Hamas yang ingin
mengakhiri pengepungan Israel, tapi juga seluruh rakyat Palestina. Itu
keinginan semua manusia dan bangsa yang bercita-cita hidup sebagai
manusia merdeka," kata editor Jerusalem Post, Larry Derfner (31/12).
Dengan
merusak ketertiban Gaza lewat kampanye militer, total sudah kekacauan
di Gaza dan Israel pun percaya Hamas bakal seinferior Fatah.
"Hamas
tak akan seperti Fatah yang lemah, korup dan tidak populer. Hamas
justru akan kian ekstrem karena blokade dan serangan terus menerus
Israel hanya membuatnya berpikir sia-sialah bernegosiasi dengan Tel
Aviv," kata wartawan AS keturunan Iran, Nir Rosen, dalam tulisannya di
laman Aljazeera (30/12).
Lebih dari itu, invasi ke Gaza bukan saja mendegradasi citra Israel, namun juga
memojokkan sekutu Arabnya.
"Damaskus
telah menarik diri dari pembicaraan tripartit dengan Tel Aviv dan
rakyat Arab murka tak hanya pada Israel dan AS, tapi juga pada
pemerintah mereka yang dianggap bersekongkol dengan Washington," tutur
Rosen.
Tidak itu saja, krisis Gaza telah menajamkan militansi
muslim garis keras seluruh dunia sehingga menyulitkan Obama
mengampanyekan perdamaian global, satu situasi yang didesain Israel.
"Saya
telah berbicara dengan para aktivis jihad di Irak, Lebanon,
Afghanistan, Somalia dan banyak lagi. Mereka menyebut Palestinalah yang
memotivasi gerakan jihad mereka," ungkap Rosen.
Tak heran jika
rakyat Israel sendiri mulai mengkritisi pendekatan pemerintahnya di
Gaza. Dari 81 persen warga yang mendukung kampanye militer ke Gaza,
hanya 39 persen yang percaya Hamas bisa digulingkan.
Jika pun
Israel menang maka kemenangan itu malah mengungkap ketidakmampuan
Israel hidup berdampingan dengan bangsa lain dan masyarakat Yahudi pun
bertanya apa yang sebenarnya diinginkan para politisi Israel.
"Inikah
keterbatasan kita sebagai manusia yang dilahirkan kembali dari
holocaust (pembasmian etnis semasa Perang Dunia Kedua)?" tanya Sara
Roy, cendikiawan Yahudi pengarang "Failing Peace: Gaza and the
Palestinian-Israeli Conflict" seperti dikutip Christian Science Monitor
(2/1).
Sara adalah seorang dari kelompok warga Yahudi yang ingin
adil mengkritisi bangsanya, bukan saja demi keadilan universal, namun
melihat fakta betapa Israel sekarang sendirian dan tererosi
superioritasnya.jafar m. sidik/ant/ya