Kontroversi Konspirasi AS dan Fatah
By Republika Newsroom
Kamis, 08 Januari 2009 pukul 15:42:00
Dalam sebuah video yang disaksikan seorang
redaktur Majalah Vanity Vair,
David Rose, sebuah petunjuk terlihat di akhir rekaman. Seorang sandera
bernama Abu Dan-pengikut Hamas, masih terikat dengan mata tertutup
diminta mengulang teriakan penyanderanya, “Dengan darah dan jiwa, kami
korbankan diri untuk Muhammad Dahlan! Panjang Umur Muhammad Dahlan,”.
Video
itu diambil dari kantor Keamanan Fatah Juni lalu oleh seorang pejuang
Hamas. Tidak ada kebencian lain lebih dari yang dirasakan anggota Hamas
daripada kebencian kepada Muhammad Dahlan, seorang petinggi kuat Fatah
yang lama bermukim di Gaza. Posisi terakhir tokoh ini adalah penasihat
keamanan nasional yang telah menghabiskan bertahun-tahun berperang
melawan Hamas.
Bush telah bertemu Dahlan dalam tiga kali
kesempatan. Setelah perbincangan di dalam Gedung Putih pada 2003 silam,
Bush melontarkan pujian terhadap Dahlan pada publik, sebagai “pemimpin
baik, solid, dan penuh dedikasi. Dalam obrolan terbatas dan privat,
beberapa kali pihak Israel dan Amerika Serikat (AS) mengatakan,
presiden AS menyebutnya, “orang kita”.
AS telah terlibat dalam
urusan Palestina sejak Perang Enam Hari 1967, ketika Israel berhasil
merebut Gaza dari Mesir, dan Tepi Barat dari Jordan. Dengan perjanjian
Oslo 1993, teritori tersebut mendapat otonomi terbatas di bawah
pimpinan presiden sebagai pemerintah eksekutif dan parlemen melalui
pemilu. Israel sendiri menetapkan kehadiran sejumlah besar militer di
Tepi Barat, namun menarik dari Gaza pada tahun 2005.
Saat
berkuasa, Presiden Bush secara berulang kali menyatakan ambisi besar
terakhir dalam kepresidenannya ialah mewujudkan negara Palestina yang
sukses dan membawa kedamaian di Tanah Suci Jerusalem. Bush kala itu
melontarkan pernyataan di depan publik Jerusalam 9 Januari 2008 lalu.
Orang-orang pun bertanya “Anda pikir apakah itu mungkin dalam masa
pemerintahan anda?”. Jawaban Bush, “Saya sangat berharap,”
Hari
berikutnya di ibu kota Tepi Barat, Ramallah, Bush menyadari benar jika
ada rintangan besar dalam mencapai tujuannya: Hamas sepenuhnya
menguasai Gaza, rumah bagi sekitar 1,6 juta warga Palestina, setelah
kudeta berdarah pada Juni 2007.
Hampir setiap hari, pejuang
Hamas melontarkan roket dari Gaza menuju kota tetangga Israel, dan
Presiden Mahmoud Abbas tak memiliki daya menghentikan. Kekuasaannya
terbatas hanya di Tepi Barat. “Ini kondisi yang sulit,” aku Bush. “Saya
tidak tahu apakah anda dapat mengatasi ini dalam setahun,” ujarnya. Apa
yang Bush ingkari ialah menyatakan jika ia berperan dalam kekacauan
tersebut.
Menurut Muhammad Dahlan dalam wawancara dengan Vanity Vair,
adalah Bush yang memaksakan pemilu legislatif di teritori Palestina
pada Januari 2006, meski telah mendapat peringatan, jika Fatah belum
siap. Setelah Hamas—yang dalam pernyataan kedaulatannya berkomitmen
pada tujuan menenggelamkan Israel ke laut—memenangkan parlemen, Bush
pun membuat satu lagi kesalahan kalkulasi, yang tak sekedar fatal, tapi
lebih mematikan.
Sebuah dokument rahasia berhasil diperoleh dari
sumber pemerintah AS dan Palestina, dengan telanjang menggambarkan
inisiatif tertutup, disetujui oleh Bush dan dilaksanakan oleh Menteri
Luar Negeri Condoleeza Rice dan Deputi Penasihat Keamanan Negara Elliot
Abrams, untuk memprovokasi perang sipil di Palestina.
Pasukan
perang akan dipimpin oleh Dahlan dan dipersenjatai oleh artileri dan
amunisi baru disuplai oleh komando Amerika, untuk memberi Fatah
kekuatan menyingkirkan Hamas yang telah terpilih secara demokratis.
Bahkan
melalui sumber gedung putih, Bush berencana mengucurkan 86 miliar dolar
kepada Fatah. Jumlah tersebut lebih dari total dana yang pernah
diberikan AS kepada PLO sejak 1994. Sejumlah uang tersebut mungkin tak
akan diberikan bila Fatah tidak kalah dalam pemilu.
Menurut
laporan media-media pada akhir Desember, AS dengan Israel menyetujui
pengiriman 2000 pucuk AK-47 dan dua juta peluru kepada pasukan keamanan
Presiden Mahmoud Abbas, yang loyal kepada Fatah. (Departemen Luar
Negeri AS menolak untuk berkomentar mengenai temuan tersebut meski
tidak mengeluarkan bantahan resmi).
Namun rencana rahasia
tersebut menjadi bumerang, menghasilkan langkah mundur lebih jauh dalam
kebijakan politik luar negeri Bush. Tidak menjadikan musuh kehilangan
kekuatan, dukungan AS terhadap Fatah, justru mendorong Hamaz menguasai
Gaza secara total.
Dalam pemerintahan Bush sendiri kebijakan
Palestina menimbulkan debat runcing. Salah satu pengkritik tajam ialah
David Wurmser, yang menyatakan diri neokonservatif. Ia akhirnya
mengundurkan diri sebagai kepala penasihat Timur Tengah, Wakil Presiden
Dick Cheney, pada Juli 2007, sebulan setelah kudeta Gaza.
Wurmser
menuding pemerintahan Bush “terlibat merencanakan’’perang kotor untuk
menyokong kepemimpinan diktaktor ( Abbas) yang korup. Ia sendiri
meyakini Hamas tidak bermaksud mengambil alih Gaza, sebelum Fatah
memaksakan kekuatan.
“Bagi saya, yang terjadi bukan sepenuhnya
kudeta oleh Hamas, namun upaya kudeta oleh Fatah atas parlemen yang
dipatahkan sebelum itu berlangsung,” ujar Wurmser.
Setelah gagal
mengantisipasi kemenangan Hamas atas Fatah dalam pemilu Palestina 2006,
Gedung Putih memasak skenario skandal tertutup lain. Bagi sejumlah
pengamat politik di AS, skenario itu tak beda dengan Iran-contra,
(skenario bagi Shah Iran yang justru memicu revolusi Islam Iran pada
1979), skenario Bay of Pigs, Kuba (yang membuat Fidel Castro semakin
memiliki dalih untuk memepertahankan dan menguatkan posisinya).
Presiden
Bush, Condoleezza Rice, dan Elliot Abrams menyokong dari belakang
pasukan bersenjata Fatah yang dipimpin Muhammad Dahlan, memicu perang
sipil berdarah di Gaza dan menjadikan Hamas lebih kuat dari
sebelumnya./berbagai sumber/it