--- On Wed, 1/7/09, Arya Endonesya <[email protected]> wrote:

    From: Arya Endonesya <[email protected]>
    Subject: 8 Perspektif atas Permasalahan Palestina
    To: "daykusay" <[email protected]>, "ardiansyah
selo+yudha" <[email protected]>
    Date: Wednesday, January 7, 2009, 10:32 PM



    8 PERSPEKTIF KITA TERHADAP PALESTINA

    Arya Sandhiyudha

               Pertama, Palestina adalah satu-satunya tempat di dunia
kontemporer yang masih terjadi kolonialisasi model kuno. Ia merupakan
pusat dunia, strategis baik secara potensi sumber daya alam, ekonomi,
politik, maupun militer. 

    Kedua, terkait dengan hubungan Indonesia-Palestina. Indonesia
adalah negara konstitusional, yang dalam pembukaan UUD 1945-nya
menegaskan sikap anti-penjajahan. Maka bagi Indonesia, penjajahan
terhadap bangsa manapun, sama dengan penjajahan terhadap bangsa dan
tanah air sendiri. Maka itulah Indonesia di masa lalu memboikot 
Olympic Games, karena Israel berpartisipasi di dalamnya, dan Indonesia
menggelar Ganefo (Games for Neo Emerging Forces). Palestina juga
menjadi negara satu-satunya yang belum merdeka dari daftar perjuangan
kemerdekaan bangsa terjajah di Amanat Konferensi Asia Afrika ~
Bandung, Indonesia. Sejatinya, dalam konteks perlawanan terhadap
penjajahan tanah air Indonesia tidak hanya sebatas dari Sabang hingga
Merauke, namun lebih dari itu, dari Jakarta hingga Jalur Gaza.

    Ketiga, Palestina adalah bangsa yang sangat peduli dengan
penderitaan bangsa orang lain, termasuk terhadap bangsa Indonesia.
Pada masa-masa perjuangan kemerdekaan di Indonesia, M. Ali Taher,
Perdana Menteri Palestina, menyumbangkan seluruh uangnya dari bank
internasional untuk perjuangan muslim Indonesia. Di saat agresi
militer I dan II terjadi, Palestina bersama dengan Mesir, Irak, dan
negara-negara muslim lain, melakukan boikot, demonstrasi anti-Belanda.
Palestina adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan
Indonesia, setelah sebelumnya juga melakukan upaya diplomasi untuk
Indonesia. Di tengah derita mereka, hidup bertahun-tahun di
tenda-tenda dan rumah-rumah darurat, rakyat Palestina masih sempat
mengirimkan sumbangan untuk korban gempa dan tsunami di Aceh.

    Keempat, terkait fenomena Zionis-Israel-Yahudi yang nyata dan
terus ada. Israel tidak memiliki akar sejarah penduduk asli Palestina.
Kedatangan mereka, dari permulaan akhir periode sebelum lahirnya Isa
bin Maryam sampai permulaan Masehi, hanyalah sebagai imigran dari
Mesir. Jauh sebelum masuknya Israel, Palestina telah dihuni oleh
bangsa Kanaan. Hal ini disebutkan dalam Injil dan Al Quran.
Berdasarkan Hukum Internasional yang menyatakan bahwa yang berdaulat
atas suatu wilayah adalah mereka yang pertama lalu mendiami wilayah
tersebut dan menunjukkan bukti eksistensi mereka atas wilayah tersebut
berupa aktivitas dan bukti-bukti fisik yang menunjukkan kedaulatan
mereka atas wilayah tersebut. Karena itu, bangsa Kanaan yang merupakan
nenek moyang Arab Palestina saat ini adalah pemilik sah tanah Palestina.

    Kelima, Israel telah menimbulkan berbagai kerusakan dan kerugian,
dalam berbagai sisi dan bagi banyak pihak. Teroris Israel terus
melakukan okupasi secara biadab di atas tanah sah bangsa Palestina,
mengusir para penduduk asli, dan melakukan teror dan pembantaian
terhadap ibu-ibu, orang tua, pemuda, serta anak-anak yang tidak mau
mengikuti ambisi hewani Israel. Hal ini menimpa seluruh rakyat
Palestina, tanpa pandang bului, praktik bumi hangus Deir Yasin menjadi
saksi 400 masjid dan 400 gereja ternodai.

    Keenam, Israel berdiri di atas ideologi yang rasis, politis, dan
teroris. Itulah kenapa rencana deklarasi mereka di Jerman diboikot dan
diprotes oleh para rabi, sampai kemudian harus mencari tempat yang
lain, Swiss. Itu pula yang melatari adanya kebijakan PBB bahwa gerakan
Zionis-Israel adalah terlarang, sebelum kemudian lobi-lobi mereka
berhasil menghapuskannya.

    Ketujuh, lebih dari itu semua, Palestina bagi umat Islam adalah
masalah utama, ia merupakan tanah waqaf umat Islam, di sana terdapat
Masjid al-Aqsha, kiblat pertama umat Islam, tempat dilahirkannya
nabi-nabi pilihan, tempat Isra' Rasulullah saw. Dan tempat yang sangat
diberkahi. Tidak seperti Masjid al-Haram yang Allah jamin penjagaan
atasnya, Masjid al-Aqsha adalah tanggung jawab umat Islam untuk
menjaganya.

    Kedelapan, Pembebasan! Upaya perjuangan kemerdekaan angsa
Palestina sangat membutuhkan dukungan dari bangsa lain sebagai syarat
de jure, termasuk Indonesia. Atas apa yang terjadi di Palestina,
terdapat beberapa hal yang pelu dilakukan, yaitu : memahami kondisi
dan problematika Palestina, kemudian menyosialisasikannya kepada yang
lain, sehingga segala potensi dapat dikerahkan untuk membantu
perjuangan rakyat Palestina. Menyelamatkan haknya dan membebaskan
Palestina dari penjajahan.


    (Sumber: Arya Sandhiyudha. "Renovasi DK". KAF publisher: 2006)   
       





Kirim email ke