kayaknya my mother di rumah nggak lebay banget kayak gitu dech.. hehe...
Pada 17 Februari 2009 04:22, Azhary Husni <[email protected]> menulis:
> Assalaamu'alaikum wr. wb...
>
> Teman2 sekalian, buat renungan doang nih, Insya Allah bermanfaat, amien...
>
>
> " Seumur hidup kita menggendong orangtua di pundak kita, tidak akan bisa
> membalas jasa-jasa orang tua kita "
>
>
> Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya
>
> Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan
> membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini
> justru sebaliknya.
>
> Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru
> dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi
> yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
>
> Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak
> laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja,
> seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya
> untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
>
> "Makanlah nak, aku tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
>
>
> Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu
> senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari
> ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk
> petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan
> mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping gw
> dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan
> bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati
> juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku.
> Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata :
>
> "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG
> KEDUA
>
>
> Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu
> pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan
> hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan
> hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat
> ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan
> pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah
> malam, besok pagi ibu masih harus kerja.
>
> " Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek"
> ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
>
>
> Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi
> ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang
> tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam.
> Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan
> segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang
> dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih
> sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera
> memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum.
>
> Ibu berkata :"Minumlah nak, aku tidak haus!" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG
> KEEMPAT
>
>
> Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
> sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia
> harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin
> susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang
> semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat
> rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga
> yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara,
> seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras
> kepala tidak mengindahkan nasehat mereka,
>
> Ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ----------KEBOHONGA N IBU YANG
> KELIMA
>
>
> Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
> bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia
> rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk
> memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota
> sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu,
> tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim
> balik uang tersebut.
>
> Ibu berkata : "Saya punya duit" ----------KEBOHONGA N IBU YANG KEENAM
>
>
> Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian
> memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat
> sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan
> itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk
> menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau
> merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku :
>
> "Aku tidak terbiasa" ----------KEBOHONGA N IBU YANG KETUJUH
>
>
> Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung,
> harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra
> atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat
> ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang
> keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum
> yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya.
> Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga
> ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil
> berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi
> seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata :
>
> "Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan" ----------KEBOHONGA N IBU
> YANG KEDELAPAN.
>
>
> Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup
> matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya
> teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : "
> Terima kasih Ibu ! "
> Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah
> ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk
> berbincang dengan ayah ibu kita?
>
> Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai
> beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita
> selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan
> pacar ('afwan yah nyindir yg pacaran), kita pasti lebih peduli dengan pacar.
> Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar, cemas apakah dia sudah makan
> atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita...??
>
> Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas
> apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah
> bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali
> lagi...
>
> Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita,
> lakukanlah yang terbaik.
> Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.
>
>
> Semoga bermanfaat
>
> Wassalaamu'alaikum wr. wb.
>
>
> ------------------------------
> Dapatkan alamat Email baru Anda!
> <http://sg.rd.yahoo.com/id/mail/domainchoice/mail/signature/*http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/>
> Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
>
>
--
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/
FS: [email protected]
mobile: 021 950 42948