wah mantab ni artikel. oia waktu ane ambil makro dosen ane pernah berkata bahwa yang namannya data pengangguran itui harus dilihat dulu dan dianalisis intinya si hati hati dalam membaca data pengangguran, karena ada definisi incourage worker dimana pengangguran ini sudah sekian lama mencari pekerjaan tetapi selalu ditolak dan akhirnya putus asa dan tidak mau mencari pekerjaan lagi dan menjadi incourage worker dan akhirnya tidak tercatat sebagai pengangguran lagi jadi jika pengagguran turun tolong lihat lagi kenyataanya, semoga Ekonomi Islam dapat memperbaiki ini semua
________________________________ From: basil holmes <[email protected]> To: fossei <[email protected]>; [email protected] Sent: Wednesday, April 1, 2009 11:36:40 AM Subject: {FoSSEI} Ekonomi Indonesia Dikuasai Asing Ekonomi Indonesia Dikuasai Asing Rabu, 01 April 2009 , 07:33:00 JAKARTA (RP) - Sendi-sendi perekonomian di Indonesia dinilai telah banyak yang berpindah ke negara lain (asing). Akibatnya, sumbangan sektor industri terhadap PDB (product domestic bruto) cenderung stagnan bahkan menurun. Disisi lain, utang negera terus bertambah. “Indonesia terus mengalami de-industrialisasi, ini adalah salah satu bukti kemunduran,” ujar Direktur International Center for Applied Finance and Economics (Intercafe), Iman Sugema kemarin. Hal itu bisa ditunjukkan dari mampunya menumbuhkan sektor industri sehingga mampu menopang PDB nasional. Jika pada tahun 2004 kontribusinya sebesar 28 persen, tahun 2008 malah berada dibawah angka itu. Akibatnya, indeks kesengsaraan rakyat atau yang biasa dikenal dengan sebutan misery index, saat ini justru meningkat tajam. Jika pada Desember tahun 2004 hanya 16,3 persen, maka pada bulan yang sama tahun lalu sudah melonjak sampai 19,6 persen. Data itu memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang diributkan pemerintah hanya dinikmati sekelompok kecil penduduk negeri ini. “Buktinya, tingkat kesengsaraan rakyat makin tinggi,” cetusnya. Ditambah lagi, dengan beragam kelangkaan bahan bakar dan kebutuhan pokok yang selama ini sering terjadi. Selain itu jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin juga semakin meningkat. Jadi, walau Indonesia diakui sebagai penghasil konglomerat kelas kakap, misalnya lewat indikator majalah Forbes yang tiap tahun selalu menempatkan orang kaya baru dari Indonesia tetapi masyarakat bawahnya tetap miskin. “Itulah kesenjangan,” tukasnya. Sementara itu, di saat pemerintah, melenakan rakyat dengan berteriak bahwa utang sudah lunas, diam-diam bebannya terus bertambah. Saat ini, dari data resmi pemerintah, terbukti bahwa beban utang per kepala penduduk Indonesia telah mencapai 11,8 juta dolar AS. Ini akan menjadi beban bagi anak cucu kita. ”Ini angka tertinggi sepanjang sejarah. Ini memperlihatkan bahwa pemerintahan belum bisa menghilangkan ketergantungan terhadap utang,” lanjutnya. Menurut dia, Indonesia juga telah kehilangan satu fundamental ekonomi terpentingnya, yaitu stabilitas. Ciri-ciri tidak adanya stabilitas itu, tingginya tingkat inflasi seperti pada tahun 2005 yang sebesar 18,3 persen, merupakan tertinggi sepanjang sejarah. Selanjutnya, nilai tukar rupiah yang buruk, cadangan devisa menukik tajam, dan kolaps-nya bursa hingga 60 persen. “Akar kegagalan ekonomi bangsa ini, karena pemerintah memfasilitasi para pemodal asing untuk menguliti Indonesia,” ketusnya.. Ekonom Universitas Gadjah Mada, Revrisond Baswir menyatakan, Indonesia sama sekali sudah tidak berdaulat dalam mengatur perekonomian nasional. Semua sektor vital sudah dikuasai asing secara merajalela. Sektor energi, perbankan, air, dan telekomunikasi mayoritas telah dikuasai oleh asing.(owi/ekk) ________________________________ Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)

