Well, yang jelas
akadnya sudah jelas, minimal ada kejelasan dari satu titik masalah.
Saya setuju untuk tidak menggunakan bunga sebagai benchmark, melainkan syarat
kesepakatan antara kedua belah pihak
yang bermuamalah. Dan juga praktik bunga sebagai benchmark memang menjadi suatu
acuan yang menjadi momok bagi bank
syariah dari prasangka masyarakat yang menyatakan bank syariah sama dengan bank
konvensional. Namun hal tersebut (bunga) tidak lepas juga dalam strategi
perbankan syariah (dalam mengelola likuiditas), sebagai parameter untuk
bertahan.
Dipakainya bunga sebagai benchmark dalam perbankan syariah (begitu juga
dalam penerbitan sukuk oleh negara), memang perlahan seharusnya mulai digeser.
Titik
utama yang menjadi sumber masalah ini adalah bank sebagai lembaga intermediari
yang menghubungkan antara yang kelebihan modal dan kekurangan modal. Lebih
lanjut hal tersebut memunculkan konsekuensi persaingan antara bank syariah
dengan
bank konvensional dalam sistem yang relatif sangat konvensional pula. Hal ini
seperti pertandingan sepak bola dengan melawan 11 orang dengan hanya 1 orang di
kandang lawan pula. Relatif sulit untuk bertahan.
Bank syariah dengan sistem keuangan yang
ada sekarang ini, memiliki dinamika yang lebih kompleks dalam mengelola asset,
likuiditasnya dan kewajibannya melalui sistem pembiayaan dan pooling dananya.
Sistem bunga ditambah
motif masyarakat yang masih sangat material
oriented dan sistem keuangan yang
sangat market oriented menjadi
kombinasi yang “indah” untuk menyerang sistem keuangan syariah yang
terkulminasikan dalam perbankan syariah.
Namun lebih lanjut apakah
pertanyaan-pertanyaan berikut bisa terjawab.
1. Bagaimana jika dibalik, jika ditanyakan:
"Apakah haram jika menggunakan bunga sebagai benchmark (bukan sistem)?"
2. Melihat praktik para lembaga rating yang
memberikan rating "keji" berdasarkan bunga, yang men-judge
tingkat kesehatan lembaga keuangan, dan juga negara, dimana rating tersebut
yang dijadikan dasar penilaian yang menjadi acuan bagi orang yang akan
berinvestasi. Lembaga keuangan yang memiliki rating rendah akan memiliki biaya
besar dalam mencari likuiditas di pasar dengan tingkat bunga tinggi, padahal
belum tentu kapabilitasnya untuk mengembalikan hutang jelek. Sialnya bank
syariah mau tidak mau juga harus
mengikuti sistem rating tersebut. Bagaimana cara lepas dari sistem tersebut?
3 Jika naik ke tataran "radikal", muncul
pertanyaan, apakah memang “mahluk” yang namanya perbankan syariah sebagai
institusi merupakan suatu hal yang harus ada (sine qua non) dalam ekonomi
syariah? Sejak awalnya apakah memang
diperlukan perbankan syariah dalam Ekonomi Islam?
Do please share your mind.
--- Pada Ming, 19/4/09, Ilham Reza <[email protected]> menulis:
Dari: Ilham Reza <[email protected]>
Topik: Re: Bls: {FoSSEI} Memilih KPR Syariah Atau KPR Konvensional?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Minggu, 19 April, 2009, 7:09 PM
Apa itu namanya halal kalau benchmark-nya masih menggunakan interest rate?
---
"Islamic Bank is not only about Halal and Harm area
but also Must give Benefit to the Society"
(Ilham Reza Ferdian)
--- On Sun, 19/4/09, risnandar <risnand...@yahoo. com> wrote:
From: risnandar <risnand...@yahoo. com>
Subject: Bls: {FoSSEI} Memilih KPR Syariah Atau KPR Konvensional?
To: fos...@yahoogroups. com
Date: Sunday, 19 April, 2009, 2:58 PM
Jelas beda donk, satu halal satu lagi haram!
--- Pada Jum, 17/4/09, ali.hozi <ali.h...@yahoo. co.id> menulis:
Dari: ali.hozi <ali.h...@yahoo. co.id>
Topik: {FoSSEI} Memilih KPR Syariah Atau KPR Konvensional?
Kepada: fos...@yahoogroups. com
Tanggal: Jumat, 17 April, 2009, 7:08 PM
Oleh : http://Alihozi77. blogspot. com
Pada kondisi perekonomian Indonesia saat ini dimana tingkat suku bunga Bank
Indonesia sudah turun tapi tingkat suku bunga kredit belum juga turun secara
signifikan termasuk tingkat suku bunga KPR konvensional pun belum turun dan
tidak ada seorangpun yang bisa memperkirakan sampai kapan kondisi ini akan
berakhir karena belum pulihnya krisis financial global. Banyak anggota
masyarakat yang kecewa dengan fluktuasi tingkat suku bunga KPR Konvensional,
karena bisa secara tiba-tiba naik mengikuti suku bunga kredit KPR yang berlaku
di pasar. Hal ini membuat mereka yang mengambil KPR Konvensional harus
menyisihkan lebih besar lagi pendapatan mereka untuk membayar angsuran KPR nya
tsb.
Oleh karena itu KPR syariah menjadi alternatif pilihan lain bagi anggota
masyarakat yang ingin memiliki rumah melalui KPR yang bebas dari fluktuasi
bunga yang mana jumlah angsurannya tidak mengikuti tingkat suku bunga kredit
yang berlaku di pasar atau cenderung tetap. Namun pengamatan penulis di
lapangan masih banyak anggota masyarakat yang belum mengerti bagaimana
membedakan KPR konvensional dengan KPR syariah apalagi untuk mengerti bagaimana
caranya memilih produk KPR syariah bank mana yang paling murah, banyak yang
langsung menanyakan kepada saya berapa persen tingkat bunga yang harus mereka
bayar apabila mengambil KPR syariah ?
Padahal bank syariah sama sekali tidak memungut bunga pada KPR syariah akan
tetapi memungut margin (selisih harga beli dengan harga jual) apabila KPR
syariah tsb memakai skim murabahah(jual beli) atau memungut harga sewa apabila
bank syariah memakai skim musyarakah ijarah (sewa). Pada kesempatan kali ini
saya akan menjelaskan bagaimana memilih KPR Syariah yang paling murah ?
Banyak bank syariah yang mempromosikan produk KPR syariahnya dengan berbagai
cara
dari pelayanan pengajuan KPR syariah yang cepat, iklan di media massa dan
lain-lain, sekarang bagaimana caranya agar kita bisa memilih Bank Syariah yang
produk KPR syariahnya paling murah ? Barikut ini saya akan sedikit memberikan
saran/tips berdasarkan pengamatan praktek di lapangan mengenai hal-hal yang
harus diperhatikan agar mendapatkan produk KPR syariah yang palaing murah
dengan mengesampingkan terlebih dahulu biaya-biaya pengajuan KPR Syariah
seperti biaya administrasi, biaya notaris dll :
1. Apabila memilih KPR Syariah jangan melihat dari tingkat persentase margin
jual beli atau persentase harga sewa misalnya 8%,9%, 10% dst per tahun, karena
hal ini tidak menjamin bahwa produk KPR syariah suatu bank syariah itu lebih
murah, tetapi tanyakan kepada suatu Bank Syariah berapa besar nominal rupiah
angsuran perbulannya lalu bandingkan dengan Bank Syariah lain, yang paling
murah adalah yang angsurannya paling kecil dengan catatan pokok pinjaman
KPR dan periode pinjaman adalah sama.
2. Apabila memilih KPR syariah, tanyakan kepada bank syariah tsb berapa
outstanding (sisa) angsuran pokok apabila akan mempercepat pelunasan KPR
syariah pada tahun tertentu , lalu bandingkan dengan bank syariah lain. Bank
syariah yang paling murah adalah Bank syariah yang sisa outstanding pokok KPR
syariahnya paling kecil apabila dilakukan pelunasan KPR syariah dipercepat.
Mari kita tinggalkan system bunga dan kembali ke system syariah
Salam Pecinta Bank Syariah
http://alihozi77. blogspot. com
Praktisi Hp No : 0813-882-364- 05
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail. com.
Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis.
Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/