--- Pada Jum, 8/5/09, ariadi mansur <[email protected]> menulis:

Dari: ariadi mansur <[email protected]>
Topik: Dan berbahagialah 'Ukasyah
Kepada: [email protected], "[email protected]" 
<[email protected]>, "[email protected]" <[email protected]>, 
"[email protected]" <[email protected]>, "[email protected]" 
<[email protected]>, "Dayat Andi" <[email protected]>, "[email protected]" 
<[email protected]>, "dedy setiawan" <[email protected]>, 
[email protected], "[email protected]" 
<[email protected]>, [email protected], "Eka, Tubagus" 
<[email protected]>, "Fahmi Arnez" <[email protected]>, 
"[email protected]" <[email protected]>, "[email protected]" 
<[email protected]>, "risnandar" <[email protected]>, "Rizky 
Hermansyah" <[email protected]>, "Rudy Hadianto" <[email protected]>
Tanggal: Jumat, 8 Mei, 2009, 2:47 AM

Dan berbahagialah 'Ukasyah

Kisah Sahabat Madinah muram. Di setiap sudut rumah wajah-wajah
tertunduk terpekur menatap tanah. Tak ada senyuman yang mengembang,
atau senandung cinta yang dilantunkan para ibunda untuk membuai buah
hatinya.

----------

Aku pernah melihat Al-Musthafa pada sebuah malam
Langit cerah tanpa banyak awan
Ku pandangi wajah Rasulullah
Lalu mataku beralih menatap rembulan
Ternyata menurut penglihatanku
Beliau lebih cemerlang dibanding pendar rembulan
(Jabir Bin Samurah, Sahabat Rasulullah)

eramuslim - Madinah muram. Di setiap sudut rumah wajah-wajah tertunduk
terpekur menatap tanah. Tak ada senyuman yang mengembang, atau
senandung cinta yang dilantunkan para ibunda untuk membuai buah
hatinya. Sebutir hari terus bergulir, namun semua tetap sama, kelabu.
Ujung waktu selalu saja hening, padahal biasanya kegembiraan mewarnai
keseharian mereka. Padahal semangat selalu saja menjelma. Namun kali
ini, semuanya luruh. Tatapan-tatapan kosong, desah nafas berat yang
terhembus bahkan titik-titik bening air mata keluar begitu mudah.
Sahara menetaskan kesenyapan, lembah-lembah mengalunkan untaian
keheningan. Kabar sakitnya manusia yang dicinta, itulah muasalnya.

Setelah peristiwa Haji Wada' kesehatan nabi Muhammad Saw memang
menurun. Islam telah sempurna, tak akan ada lagi wahyu yang turun.
Semula, kaum muslimin bergembira dengan hal ini. Hingga Abu Bakar
mendesirkan angin kematian Rasulullah. Sahabat terdekat ini menyatakan
bahwa kepergian kekasih Allah akan segera tiba dan saat itu adalah
saat-saat perpisahan dengan purnama Madinah telah menjelang.
Selanjutnya bayang-bayang akan kepergian sosok yang selalu dirindu
sepanjang masa terus saja membayang, menjelma tirai penghalang dari
banyak kegembiraan.

Dan masa pun berselang.
Mesjid penuh sesak, kaum Muhajirin beserta Anshar. Semua berkumpul
setelah Bilal memanggil mereka dengan suara adzan. Ada sosok cinta di
sana, kekasih yang baru saja sembuh, yang membuat semua sahabat tak
melewatkan kesempatan ini. Setelah mengimami shalat, nabi berdiri
dengan anggun di atas mimbar. Suaranya basah, menyenandungkan puji dan
kesyukuran kepada Allah yang Maha Pengasih. Senyap segera saja datang,
mulut para sahabat tertutup rapat, semua menajamkan pendengaran
menuntaskan kerinduan pada suara sang Nabi yang baru berada lagi.
Semua menyiapkan hati, untuk disentuh serangkai hikmah. Selanjutnya
Nabi bertanya.

"Duhai sahabat, kalian tahu umurku tak akan lagi panjang, Siapakah
diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini,
bangkitlah sekarang untuk mengambil kisas, jangan kau tunggu hingga
kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik".

Semua yang hadir terdiam, semua mata menatap lekat Nabi yang terlihat
lemah. Tak akan pernah ada dalam benak mereka perilaku Nabi yang
terlihat janggal. Apapun yang dilakukan Nabi, selalu saja indah.
Segala hal yang diperintahkannya, selalu membuihkan bening sari pati
cinta. Tak akan rela sampai kapanpun, ada yang menyentuhnya meski
hanya secuil jari kaki. Apapun akan digadaikan untuk membela
Al-Musthafa.

Melihat semua yang terdiam, nabi mengulangi lagi ucapannya, kali ini
suaranya terdengar lebih keras. Masih saja para sahabat duduk tenang.
Hingga ucapan yang ketiga kali, seorang laki-laki berdiri menuju Nabi.
Dialah 'Ukasyah Ibnu Muhsin.

"Ya Rasul Allah, Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan
untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu,
duhai kekasih Allah, Saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu
agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul
lambung samping ku" ucap 'Ukasyah.

Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putri
kesayangannya, Fatimah. Tampak keengganan menggelayuti Bilal,
langkahnya terayun begitu berat, ingin sekali ia menolak perintah
tersebut. Ia tidak ingin, cambuk yang dibawanya melecut tubuh kekasih
yang baru saja sembuh. Namun ia juga tidak mau mengecewakan
Rasulullah. Segera setelah sampai, cambuk diserahkannya kepada Rasul
mulia. Dengan cepat cambuk berpindah ke tangan 'Ukasyah. Masjid
seketika mendengung seperti sarang lebah.

Sekonyong-konyong melompatlah dua sosok dari barisan terdepan, melesat
maju. Yang pertama berwajah sendu, janggutnya basah oleh air mata yang
menderas sejak dari tadi, dia lah Abu Bakar. Dan yang kedua, sosok
pemberani, yang ditakuti para musuhnya di medan pertempuran, Nabi
menyapanya sebagai Umar Ibn Khattab. Gemetar mereka berkata:

"Hai 'Ukasyah, pukullah kami berdua, sesuka yang kau dera. Pilihlah
bagian manapun yang paling kau ingin, kisaslah kami, jangan
sekali-kali engkau pukul Rasul"

"Duduklah kalian sahabatku, Allah telah mengetahui kedudukan kalian",
Nabi memberi perintah secara tegas. Ke dua sahabat itu lemah sangsai,
langkahnya surut menuju tempat semula. Mereka pandangi sosok 'Ukasyah
dengan pandangan memohon. 'Ukasyah tidak bergeming.

Melihat Umar dan Abu Bakar duduk kembali, Ali bin Abi thalib tak
tinggal diam. Berdirilah ia di depan 'Ukasyah dengan berani.

"Hai hamba Allah, inilah aku yang masih hidup siap menggantikan kisas
Rasul, inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah
aku"

"Allah Swt sesungguhnya tahu kedudukan dan niat mu duhai Ali, duduklah
kembali" Tukas Nabi.

"Hai 'Ukasyah, engkau tahu, aku ini kakak-beradik, kami adalah cucu
Rasulullah, kami darah dagingnya, bukankah ketika engkau mencambuk
kami, itu artinya mengkisas Rasul juga", kini yang tampil di depan
U'kasyah adalah Hasan dan Husain. Tetapi sama seperti sebelumnya Nabi
menegur mereka. "Duhai penyejuk mata, aku tahu kecintaan kalian
kepadaku. Duduklah".

Masjid kembali ditelan senyap. Banyak jantung yang berdegup kian
cepat. Tak terhitung yang menahan nafas. 'Ukasyah tetap tegap
menghadap Nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri ingin menghalangi
'Ukasyah mengambil kisas. "Wahai 'Ukasyah, jika kau tetap berhasrat
mengambil kisas, inilah Ragaku," Nabi selangkah maju mendekatinya.

"Ya Rasul Allah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang
menghalangi lecutan cambuk itu". Tanpa berbicara, Nabi langsung
melepaskan ghamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh suci
Rasulullah. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis
pedih.

Melihat tegap badan manusia yang di maksum itu, 'Ukasyah langsung
menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta
direngkuhnya Nabi, sepuas keinginannya ia ciumi punggung Nabi begitu
mesra. Gumpalan kerinduan yang mengkristal kepada beliau, dia
tumpahkan saat itu. 'Ukasyah menangis gembira, 'Ukasyah bertasbih
memuji Allah, 'Ukasyah berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu,
"Tebusanmu, jiwaku ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengkisas
manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan
tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan
api neraka".

Dengan tersenyum, Nabi berkata: "Ketahuilah duhai manusia, sesiapa
yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini".
'Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah. Sedangkan yang
lain berebut mencium 'Ukasyah. Pekikan takbir menggema kembali.
"Duhai, 'Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian
pasti, bergembiralah engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu
yang menemani Rasul di surga". Itulah yang kemudian dihembuskan
semilir angin ke seluruh penjuru Madinah.

***



      Lebih bersih, Lebih baik, Lebih cepat - Yahoo! Mail: Kini tanpa iklan. 
Rasakan bedanya! http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke