Assalam alaikum Wr. Wb.

Gimana dengan yang berkata, "ana", "antum", "wallahi", "wallahua'alam", 
"syafakallah" dsb......?

Bahasa hanya sebagai alat penyampaian, bukan tujuan dari yang dimaksud.
Hanya sebagai tools, he he ada yang kesinggung ga neh?!

Bagaimana dengan mereka yang menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar 
namun korup?

Bagaimana dengan mereka yang disinggung dalam artikel ini namun perilaku mereka 
memberikan sumbangsih pada bangsa Indonesia?

Semantis sematakah?! Atau nasionalisme?!

Yang jelas, bahasa sendiri sebagai media penyampaian berkembang, termasuk 
bahasa Indonesia, bahkan dengan serapan2 yang ada dari bahasa asing itu 
sendiri, termasuk bahasa Inggris dan Arab.

Mungkin hal ini akan menjadi netral dengan mengangkatnya kepada sudut pandang 
yang lebih luas dan menyeluruh.

Sebuah catatan penting dalam tulisan tersebut dapat kita ambil, bahwa bahasa 
Indonesia merupakan suatu identitas bangsa, dan kita harus bangga memakainya.

Namun patut ditambahkan bahwa bahasa lain juga penting untuk dikuasai, 
dikarenakan di dunia ini bukan hanya orang Indonesia.

Maju terus Indonesia.

Wallahu'alam





--- Pada Jum, 8/5/09, Farizal FoSSEI <[email protected]> menulis:

Dari: Farizal FoSSEI <[email protected]>
Topik: {FoSSEI} OOT: Indonesia... tersinggunglah!
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 8 Mei, 2009, 12:19 AM











    
            
            


      
      Sebagai wacana saja, dari fesbuk temen...

Jumat, 8 Mei 2009 | 01:35 WIB



Oleh: Roy Thaniago



Seorang kawan yang baru lulus kuliah ditolak di mana-mana ketika
melamar pekerjaan. Kesalahannya cuma satu, Ia terlalu bangga memakai
bahasa Indonesia.



TIDAK seperti kebanyakan pelamar lain yang berfoya-foya dalam bahasa
Inggris, kawan tadi memakai bahasa Indonesia dalam surat lamarannya.
Jumlah alasannya memakai bahasa Indonesia pun sama dengan kesalahannya
itu, cuma satu, yakni, ia melamar pada perusahaan yang ada di
Indonesia, yang masyarakat, rekan kerja, dan pimpinannya berbahasa
Indonesia. Perusahaan yang pekerjaanya bisa dikerjakan dalam bahasa
Indonesia. Sialnya, kawan tadi lupa, kalau perusahaan di Indonesia
merasa hebat ketika berhasil mengaudisi karyawannya dalam bahasa
Inggris. Biar sedikit intelek, bro!



Dari perusahaan dengan banyak istilah asingnya – meeting, outing,
order, customer, owner, break event point, part time, office boy – mari
beralih ke bidang lain. Dalam pemerintahan, kebanggaan meminjam istilah
Inggris juga amat mengenaskan – kalau tidak mau disebut mengesalkan
atau memuakkan. Tampak sekali kalau para pejabat kewalahan untuk
berkomunikasi dalam bahasa Indonesia sepenuhnya, sehingga merasa perlu
meminjam istilah asing. Tengoklah istilah seperti impeachment, smart
card, voting, sampai yang paling tolol, busway.



Entah, tulah apa yang menelanjangi identitas kebangsaan kita. Kenapa
kata-kata asing bertaburan dalam percakapan sehari-hari? Bahasa
Indonesia seakan tak mampu bersolek dengan anggun bila tidak
menggandeng bahasa Inggris. Orang paling bodoh sekali pun diatur gaya
berbahasanya agar fasih melafal tengkyu, sori, serprais, sekuriti,
syoping sebagai syarat penduduk berwawasan global – walau pengetahuan
dan nalarnya tidak diajak mengglobal.



Tidak ketinggalan – dan ini yang paling menyakitkan – institusi publik
yang seharusnya mendidik masyarakat, malah melayani kekeliruan
berbahasa tersebut. Kita lihat bagaimana sekolah-sekolah berbangga
dengan mengganti namanya dengan bahasa Inggris. Universitas
mengiklankan dirinya di media dengan istilah Inggris seperti admission,
free laptop, the leading university, faculty of management, dan
seterusnya. Padahal target pemasarannya adalah orang-orang yang
sehari-hari berbahasa Indonesia.



Media cetak maupun elektronik juga melayani semua kekenesan ini. Simak
saja kata-kata yang mondar-mandir di halaman mata kita. Ada Today
Dialogues, Woman of the Year, Sport, Headline News, dan sebagainya.
Pada SINDO, sebuah media massa nasional, yang logikanya adalah sebuah
media yang turut bertanggungjawab terhadap budaya berbahasa, pun
bersikap demikian. Coba periksa koran ini pada tiap edisinya. Di
halaman depan, mata pembaca sudah dihadang dengan rubrik ‘news’ dan
‘quote of the day’. Usaha meng-inggris ini belum usai, karena disusul
di lembar-lembar berikutnya: rubrik ‘financial revolution’-nya Tung
Desem Waringin, rubrik ‘people’, rubrik ‘fashion’, rubrik ‘food’,
rubrik ‘rundown’, atau cap ‘special report’ pada artikel tertentu.
Jangan tersenyum geli dulu, karena bukan saja SINDO, koran-koran
lainnya pun tak luput dari gaya-gayaan berbahasa ini.



Mau contoh lain? Tak usah pergi jauh, karena cukup sambil duduk
menggenggam halaman ini, bayangkanlah segala sesuatu di sekitar anda:
merek permen, keterangan dalam bungkus mie instan, nama restoran,
keterangan dalam gedung (exit, toilet, emergency), dan seterusnya, dan
sebagainya, yang kalau dituliskan semua, artikel kali ini hanya akan
memuat daftar ‘dosa’ tersebut. Dan tentunya memanjangkan rasa jengkel.



Lalu, menjadi sehebat Inggris atau Amerika-kah bangsa ini ketika
berhasil mengadopsi bahasa mereka? Apakah dengan serta merta ekonomi
negara menjadi seciamik mereka? Apakah dengan begitu terlihat cerdas
karena berhasil mensejajarkan diri dengan bangsa Barat? Sampai sebegitu
jijiknyakah kita terhadap bahasa Indonesia sehingga pada kata
‘peralatan kantor’ perlu ditemani kata dalam kurung ‘stationery’,
‘nyata’ ditemani kata dalam kurung ‘real’, atau ‘kekuatan’ yang
ditemani ‘power’? Seakan mata kita lebih karib dengan kata di dalam
kurung ketimbang kata dalam bahasa Indonesia-nya.



Masih cukup waraskah kita ketika menertawakan seorang artis muda yang
ber-Inggris ria, “hujan..beychek. .ojhek”, yang padahal adalah cermin
dari ketidakberpribadian diri kita sendiri? Atau celakanya, latah pun
kalau bisa dibuat-buat agar yang keluar secara spontan adalah kata, ‘oh
my god’, ‘monkey’, ‘shit’, ‘fuck you’, atau ‘event organizer’.



Pada kasus lain kita temukan bagaimana sikap sok inggris ini tidak
diimbangi dengan pengetahuan memadai. Contoh paling fatal, juga paling
tolol, ada pada isitilah ‘busway’ yang tidak mengindahkan aturan
bahasa, terlebih logika. Mana ada frase, “ke Blok M naik ‘jalanan bis’
sangat nyaman”.



Coba perhatikan, bagaimana kita melafal ‘AC’ (Air Conditioner) dan’HP’
(Hand Phone). Bukankah kita menyepel a-se untuk ‘AC’ dan ha-pe untuk
‘HP’? – padahal kalau sok Inggris layaklah dieja ei-si dan eitch-pi.
Tapi tidak pada ‘VCD’ (Video Compact Disc) dan ‘PC’ (Personal
Computer), karena kita menyepel vi-si-di dan pi-si. Konyolnya, ‘Media
Nusantara Citra’ (MNC), dieja dengan em-en-si, bukan em-en-ce.



Yang paling menyedihkan, justru yang menghargai budaya (bahasa)
Indonesia adalah orang asing. Mungkin kita sudah bosan mendengar
bagaimana bertaburnya kelompok musik gamelan Jawa di Amerika. Di Eropa,
beberapa konservatori musik malah menyediakan jurusan musik karawitan
atau gamelan bali. Tengoklah yang terdekat, misalnya di Erasmus Huis,
sebuah pusat budaya Belanda di Kuningan, Jakarta Selatan. Dalam program
bulanan kegiatan yang dicetak di atas brosur, bahasa Indonesia-lah yang
didahulukan, kemudian baru disusul dengan bahasa Belanda kemudian
Inggris. Bila ada pementasan pun, buku acara, bahkan kata sambutannya
pun – walau terbata-bata – mendahulukan bahasa Indonesia. Gilanya, hal
ini justru terbalik bila artis Indonesia yang tampil.



Pada konser Nusantara Symphony Orchestra yang berkolaborasi dengan
Tokyo Philharmonie Orchestra di Balai Sarbini, 10 Juni 2008 lalu,
sebagai perwakilan dari Indonesia, Miranda Goeltom yang orang Indonesia
memberi sambutan, tentunya dalam bahasa Inggris. Lalu, sebagai
perwakilan Jepang, kata sambutan dari ‘Duta Besar Luar Biasa dan
Berkuasa Penuh Jepang untuk Republik Indonesia’, Kojiro Shiojiri
menyusul. Shiojiri yang asli Jepang ini, yang tidak ada untungnya
karena memakai bahasa Indonesia, malah dengan pede-nya berpidato dalam
bahasa Indonesia, meski terbata. Sudah cukup muakkah membaca kenorakan
kita di atas?



Memang, bahasa yang hidup adalah bahasa yang dinamis dan terus dirusak.
Tidak seperti bahasa yang sudah mati seperti bahasa Latin. Namun dalam
konteks ini, sama sekali tidak menandakan bahwa masyarakat Indonesia
sedang mengembangkan bahasanya secara sadar. Sebaliknya, masyarakat
kita tidak mempunyai kemampuan untuk mengenali fenomena budaya yang
menggigiti identitas bangsa. Tidak mampu mengatasi kekagokkannya
sendiri terhadap budaya asing. Mirip orang kampung yang merias
berlebihan dengan segala pernak-pernik kota sepulangnya ke kampung
halaman.



Bangsa yang persoalan budaya-nya dianggap sepele bukan Indonesia
sendiri. Tenang saja, kita ada kawan. Bangsa Romawi adalah kawan yang
dimaksud. Secara militer Romawi memang menjajah Yunani, tapi dalam hal
kultural, Yunani-lah yang menjajah. Kalau kita, militer dijajah, budaya
dijajah, ekonomi juga dijajah. Lalu apa yang bisa membuat bangsa ini
tidak terjajah? Ketika tersinggung saat membaca artikel ini, begitu
jawabnya.



Jadi, tersinggunglah!







Roy Thaniago
-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal- alboncelli. blogspot. com/
FS: [email protected]

mobile: 021 950 42948


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Lebih bersih, Lebih baik, Lebih cepat - Yahoo! Mail: Kini tanpa iklan. 
Rasakan bedanya! http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke