Krisis Ekonomi Dunia Belum Berakhir

[Al-Islam 461] Akhir-akhir ini media Barat memberitakan
prakiraan sejumlah perusahaan yang mengatakan, bahwa tahap paling
kritis dari krisis keuangan telah berlalu; juga bahwa perekonomian
beberapa negara Barat telah mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan
ekonomi. Berbagai laporan media itu menyebutkan pendapat beberapa ahli
ekonomi, para politisi dan pelaku bursa. Mereka menyatakan, naiknya
kembali harga minyak menandakan bahwa perekonomian global telah sampai
pada titik terendahnya dan mulai pulih, yang mendorong harga minyak
terus merangkak naik.

Benarkah perekonomian sudah mulai pulih? Tentu salah jika pulihnya
perekonomian hanya dilihat dengan memperhatikan sinyal-sinyal keuangan,
seperti naiknya harga minyak dan harga komoditi di pasar global. Tentu
kita harus memperhatikan tingkat produksi perusahaan-perusaha an, total
GDP, angka pengangguran, harga barang-barang konsumsi, besaran belanja
rumah tangga dan perusahaan, jumlah kredit perumahan dan pengumuman
kebangkrutan yang terus terjadi pada perusahaan raksasa seperti General
Motors dll; juga gejala-gejala perekonomian lainnya. 

Dengan memperhatikan semua itu akan tampak jelas bahwa di
seluruh dunia belum ada tanda-tanda pemulihan ekonomi! Kami akan
menyebutkan beberapa buktinya:
1. Kondisi perekonomian Amerika.
Angka pengangguran di AS mencapai 8,9%, tertinggi sejak 26 tahun
lalu. Tingkat pendapatan nasional menurun 6,1% pada kuartal pertama
tahun ini. Supaya tingkat penjualan sebanding dengan jumlah barang,
perusahaan mengurangi penawaran barang ke pasar sampai pada angka
terendah sejak Perang Dunia II. Penurunan penawaran itu setara dengan
103,7 miliar dolar AS pada kuartal pertama tahun 2009. Sebelumnya, pada
kuartal terakhir tahun 2008, penawaran itu telah menurun senilai 25,8
miliar dolar AS. Investasi di AS juga menurun 38% dalam satu tahun.
Ekspor barang dan jasa pada kuartal pertama tahun 2009 menurun 30%.
Sebelumnya, pada kuartal terakhir 2008 ekspor AS telah menurun 23,6%.
Angka kegagalan kredit akibat ketidakmampuan melunasi kredit pada bulan
Maret 2009 meningkat hingga 341.180. Angka itu naik 17% dari bulan
Februari 2009, dan naik 46% dari bulan Maret 2008.
Selain itu, Pemerintah AS telah menyuntikkan uang miliaran
dolar pada bank-bank yang ambruk dan perusahaan-perusaha an yang
terlilit utang. 

2. Kondisi perekonomian Jerman.
Angka pengangguran di Jerman mencapai 8,2%, tertinggi sejak
Perang Dunia II. Kantor Perburuhan Federal pada tanggal 28 Mei 2009
menyatakan, bahwa rata-rata pemutusan hubungan kerja (PHK) bertambah.
Hal itu di luar pengurangan jam kerja harian untuk mengurangi tingkat
pengangguran. Pengamat ketenagakerjaan Anders Reese telah mencatat
bahwa statistik pengangguran telah dimanipulasi supaya tampak
sebaliknya dan supaya kelihatan membaik pada bulan Juni. Sektor manufaktur 
Jerman juga mengalami penurunan sekitar 58%
pada bulan April dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun lalu.
Angka itu merupakan penurunan terbesar sektor ini sejak didirikan.
Organisasi industri-industri berat mengatakan bahwa telah terjadi
penurunan permintaan global sebesar 60% dan permintaan lokal sebesar
52%. Sebagian pengamat ekonomi malah lebih pesimis daripada pemerintah. 

3. Kondisi perekonomian Eropa secara umum.
Penjualan eceran menurun drastis pada bulan April 2009 karena
tingginya angka pengangguran. Artinya, konsumen secara bersama-sama
mengurangi belanja mereka. Nik Kounis, kepala ekonom Eropa di Fortis
Bank Netherland mengatakan di Amsterdam, “Menurut Komisariat Eropa,
angka pengangguran di Eropa pada bulan Maret 2009 naik sampai 8,9%,
tertinggi sejak tiga tahun. Angka pengangguran tahun depan akan terus
naik sampai 9,9% dan mencapai 11,5% pada tahun 2010. Menurut Komisariat
Eropa, perekonomian kawasan Eropa akan mengalami penurunan sebesar 4%
pada tahun ini. Hal itu disebabkan oleh turunnya ekspor dan pemutusan
hubungan kerja oleh sejumlah perusahaan.” 

4. Kondisi perekonomian Jepang.
Angka pengangguran di Jepang pada bulan April 2009 mencapai 5%,
tertinggi sejak lima tahun terakhir. Dalam laporan bulanan Departemen
Dalam Negeri dan Komunikasi dinyatakan bahwa terdapat 3,46 juta
pengangguran. Jumlah itu naik 25,8% dibandingkan dengan April tahun
lalu. Dinyatakan juga bahwa hanya ada 46 pekerjaan bagi setiap 100
orang pencari kerja. Ini adalah angka terburuk sejak tahun 1999. 

Rata-rata belanja rumah tangga pada bulan April menurun 1,3%
dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. Produk domestik bruto
Jepang mengalami penurunan 10%. Penurunan total PDB Jepang sejak bulan
Januari sampai bulan Maret menciptakan perlambatan ekonomi terburuk
sejak tahun 1947. Glenn Maguire, kepala ekonom di Societe Generale Asia
Pasifik mengatakan, bahwa secara umum perlambatan 10% pertumbuhan
dinilai sebagai resesi. Jepang hampir sampai pada batas itu dengan
menurunnya perekonomian Jepang sebesar 9,7% pada tahun ini. 

5. Kondisi perekonomian global.
Menurut New York Times, perekonomian negara-negara
berkembang telah melalui kuartal paling buruk sejak satu dekade lalu.
Kondisi yang lebih buruk akan datang. Total produk domestik bruto tiga
puluh negara yang tergabung di dalam OECD mengalami penurunan 2,1% pada
kuartal pertama tahun ini dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
Produk domestik bruto negara-negara anggota OECD mengalami penurunan 2%
pada kuartal terakhir tahun 2008.
Menurut Bank Dunia, perekonomian negara-negara anggota OECD
mencakup 71% dari total produksi nasional secara global. Perekonomian
negara-negara OECD pada kuartal pertama tahun 2008 menurun 4,2%. Dari
angka itu, Amerika turut andil 0,9%, Jepang 1%, 13 negara terbesar
kawasan Euro sebesar 1,3% dan negara-negara lainnya 1%. 

Semua itu menunjukkan fakta sebenarnya bahwa kondisi
perekonomian global belum pulih dari krisis, bahkan masih akan terus
didera krisis.
Lalu mengapa terjadi kenaikan di pasar saham dan pasar barang dan jasa? 
Jawabannya, kenaikan itu disebabkan hal-hal berikut: Pertama,
suntikan dana yang dilakukan pemerintah AS kepada perusahaan asuransi
AIG sebesar US$ 173 miliar yang diambil dari uang para pembayar pajak
AS. Dari jumlah itu, 90 miliar dibelanjakan untuk membayar utangnya ke
perbankan Amerika dan Eropa. Pada tanggal 15 Maret 2009, AIG telah
mendistribusikan uang ke sejumlah bank dan institusi: Bank Goldman
mendapatkan US$ 12,9 miliar; Bank Merrill Lynch US$ 6,8 miliar; Bank of
America US$ 5,2 miliar; Citigroup US$ 2,3 miliar; Bank Wachovia US$ 1,5
miliar; Bank Barclays US$ 8,5 miliar; dan UBS Swiss mendapat US$ 5
miliar. 

Supaya pemerintah AS tidak terkesan membantu perusahaan AIG
secara langsung karena khawatir akan menimbulkan kemarahan masyarakat,
AIG mentransfer dana itu ke berbagai bank. Berikutnya bank-bank itu
mengumumkan keuntungannya. Misalnya, Bank of America mengumumkan
keuntungannya sebesar US$ 4,2 miliar, Citigroup US$ 1,6 miliar dan
Goldman Sachs US$ 1,8 miliar. Di Eropa Barclays Bank mengumumkan
keuntungannya sebesar 5,28 miliar pounsterling. Akhirnya, harga-harga
saham pun terkerek naik. Sebenarnya kenaikan harga-harga saham itu
bukan karena aktivitas ekonomi yang menghasilkan keuntungan, tetapi
karena suntikan dana yang pengaruhnya hanya sebentar. 

Kedua, pada awal tahun ini, pemerintah AS mengumumkan
programnya untuk menopang bank-bank Amerika. Tujuan pengumuman itu
adalah untuk menyebarkan kepercayaan para investor bank-bank Amerika
untuk memberikan sugesti bahwa bank-bank itu dalam kondisi baik dan
tidak sedang mengalami kesulitan besar. Program itu, sebagaimana
sebelumnya telah dijelaskan oleh Menteri Keuangan AS Timothy Geitner,
adalah untuk memberikan kesan bahwa mayoritas aset bank yang mengamali
kesulitan bisa dikeluarkan dari daftar neraca. 

Kondisi-kondisi dan berbagai pernyataan itu menyebabkan
naiknya harga-harga saham perbankan Amerika. Harga saham Bank Wells
Fargo naik 8,5%, Morgan Stanley naik 0,9%, Bank of America naik 4% dan
Citigroup naik 7%. Jelas, apa yang terjadi ini mirip dengan dukungan
propaganda opini untuk menaikkan saham tertentu seperti yang dilakukan
oleh para spekulan yang sengaja menyebarkan berita tentang kemajuan
kondisi ekonomi suatu perusahaan, atau peluang kemajuan perusahaan itu.
Lalu berita itu menyebabkan bertambahnya kepercayaan dan menaikkan
harga saham perusahaan tersebut. Kemudian setelah tujuan para spekulan
itu tercapai, harga saham itu pun turun kembali dan bahkan ambruk. Hal
itu seperti yang terjadi pada sebab-sebab munculnya krisis saat ini. 

Ketiga, pada awal tahun ini The Fed (Bank Sentral AS)
dan Bank of England (Bank Sentral Inggris) masing-masing mengumumkan
rencana untuk mulai membeli aset-aset beracun milik berbagai bank,
surat-surat utang dan aset-aset lembaga keuangan yang ambruk.
Pertambahan jumlah uang yang dipompakan ke pasar secara alami pasti
menyebabkan inflasi dan naiknya harga-harga barang dan jasa. Sebab,
bertambahnya uang yang ditawarkan akan melemahkan daya belinya dan
berikutnya terjadi inflasi, yaitu kenaikan harga-harga barang dan jasa.
Bank of England mulai menampakkan keterkejutannya atas naiknya angka
inflasi yang menyebabkan penderitaan ekonomi; perekonomian Inggris
sendiri berada pada titik terendah sejak tahun 1930. Angka inflasi
mencapai 2,9% jauh lebih tinggi daripada angka yang diperkirakan
sebelumnya, yaitu 2%. Inilah yang bias menjelaskan mengapa harga minyak
naik dari US$ 36 perbarel menjadi US$ 58 perbarel. Artinya, kenaikan
harga minyak tidak menunjukkan bahwa permintaannya bertambah. Konsumsi
energi pada tahun 2009 justru menurun untuk pertama kalinya sejak PD
II. Hal itu menunjukkan dengan jelas bahwa perekonomian global masih
jauh dari pulih. 

Dengan demikian, pembicaraan tentang pulihnya perekonomian
Barat adalah terlalu dini. Pemerintah Barat mengadopsi kebijakan
menurunkan tingkat suku bunga dan membeli aset-aset beracun hanya untuk
menunda ambruknya perekonomian. Bisa jadi pemerintah Barat justru akan
menenggelamkan pasar uang ke kubangan inflasi. Ambruknya pasar barang
dan munculnya gelembung mata uang yang bisa meletus menyebabkan
penderitaan terbesar yang disaksikan oleh dunia saat ini.
 Khatimah
Seluruh paparan di atas semakin membuktikan bahwa bangunan
ekonomi Kapitalisme selama ini memang rapuh. Hal ini semakin meneguhkan
bahwa bangunan apapun—termasuk ‘bangunan’ sistem ekonomi—yang tidak
didasarkan pada takwa (baca: syariah Islam), pastilah rapuh dan pasti
suatu saat akan runtuh. Mahabenar Allah SWT Yang berfirman:

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ
اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا
جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لا يَهْدِي
الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (١٠٩)
Apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar
takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah
orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh,
lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam Neraka
Jahanam? Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim (QS 
at-Taubah [9]: 109). []


      Jatuh cinta itu seperti apa ya rasanya? Temukan jawabannya di Yahoo! 
Answers! http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke