--- Pada Ming, 28/6/09, Farizal FoSSEI <[email protected]> menulis:


Dari: Farizal FoSSEI <[email protected]>
Topik: {FoSSEI} Ismail Yusanto: Meski Dukung Perbankan Syariah , Boediono Tetap 
Neo Liberal
Kepada: [email protected], [email protected]
Tanggal: Minggu, 28 Juni, 2009, 1:45 PM








Tim Sukses SBY Berboedi berkali-kali menyatakan bahwa Boediono itu bukan ekonom 
neoliberal dengan alasan dia membolehkan perbankan syariah. Benarkah, bila 
welcome terhadap perbankan syariah bisa disebut ekonom yang tidak neolib? Umat 
jangan mau dibohongi. Untuk itulah wartawan mediaumat.com Joko Prasetyo 
mewawancarai Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto, 
Selasa (23/6) sore di Jakarta. Berikut petikannya.
Apa benar UU perbankan syariah atau kebijakan yang terkait dengan bank syariah 
itu merupakan peran besar Boediono?
Kalaulah umpamanya benar bahwa Boediono berperan besar dalam hal itu tetap saja 
itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menangkis bahwa Boediono itu bukan 
neolib. 
Keberadaan bank syariah mencerminkan bahwa Indonesia tidak menerapkan ekonomi 
neolib?
Perbankan syariah adalah salah satu instrument dari sistem moneter yang berlaku 
di Indonesia yang menerapkan sistem ekonomi neolib ini. Sehingga keberadaan 
perbankan syariah itu tidak mempengaruhi apa-apa terhadap kebijakan moneter 
secara umum. 
Apalagi, volume bisnis bank syariah di Indonesia itu masih di bawah 3%. Jadi 
masih sangat kecil bila dibanding dengan skala usaha perbankan konvensional 
yang 97%. Sehingga perbankan syariah itu tidak mempengaruhi postur terhadap 
perbankan Indonesia. 
Nah, itu kalau mau dibilang Boediono berperan besara dalam keberadaan perbankan 
syariah. Tapi kan faktanya tidak begitu. Sesungguhnya orang-orang yang berperan 
besar adalah inisiator dan pelaku perbankan syariah sendiri yang menginginkan 
UU semacam itu, yakni Asosiasi Bank Syariah Indonesia atau Asbsindo.
Dalam hal ini Boediono berposisi sebagai orang yang mau tidak mau harus 
meng-endors atau mengesahkannya. Karena kalau Boediono menolak itu akan menjadi 
sesuatu yang sangat tidak mengenakan posisinya. Siapapun yang ada di posisinya 
akan melakukan hal yang sama. Lantaran perbankan syariah sudah menjadi fakta 
bukan baru gagasan saja. Dan fakta itu makin lama makin membesar dan 
membutuhkan UU terpisah dari UU perbankan konvensional. 
Jadi saya melihat tidak ada yang istimewa dari keberadaan Boediono terkait hal 
ini. Kecuali kalau Boediono itu dari dulu dikenal sebagai orang yang mengagas 
bank syariah. Itu baru melawan arus. Nah baru bolehlah diacungi jempol! 
Faktanyakan tidak. 
Bukankah ia juga mengatakan perbankan syariah itu bagus. Apakah ungkapan itu 
basa-basi?
Mungkin. Tapi dia juga paham dong, secara intelektual bahwa bank syariah itu 
memang bagus. Jadi siapa pun yang menyatakan bank syariah itu bagus sebenarnya 
itu pernyataan yang biasa. Tidak ada yang istimewa. Karena memang secara 
intelektual, secara empirik itu memang bagus!
Justru kalau ada orang yang mengatakan bank syariah jelek itu bodoh. Kalau 
ekonom ya ekonom bodoh. Keblinger! Sebenarnya yang aneh itu ketika Boediono 
mengatakan bank syariah itu bagus. Itu dijadikan kredit point buat dia. Padahal 
itu kan sangat biasa-biasa saja. 
Baru sekarang-sekarang ini, saat menjelang pilpres 2009, Boediono dikatakan 
sebagai orang yang paling berjasa dalam menelurkan UU perbankan syariah. 
Sebelumnya dia tidak pernah sama sekali dikait-kaitkan dengan perbankan syariah 
atau satu gagasan ekonomi Islam lainnya. Hatta di UGM sekalipun ia tidak pernah 
mengajukan gagasan itu.
Lain halnya kalau Boediono mengatakan, “bank syariah itu bagus harus 
dikembangkan. Bank konvensional jelek harus ditutup”. Nah itu baru kredit poin 
buat Boediono. Kalau Boediono berani ngomong begitu baru itu namanya berita. 
Saya yakin dia tidak akan berani ngomong begitu! Karena pernyataan itu hanya 
akan muncul dari seorang ekonom yang bermotif keimanan bukan neolib.
Jadi motif dalam membangun perbankan syariah itu…? 
Ya..motif ya… setidaknya ada dua.mengapa perbankan syariah itu dibangun. 
Pertama, ada yang mendirikan bank syariah karena motif keyakinan, keimanan 
bahwa bank syariah ini solusi yang terbaik dan islami yang menjauhkan unsur 
riba dalam setiap transaksinya. Alasannya, dalam Islam riba atau bunga bank itu 
haram dan harus dijauhi. Nah, sehingga orang-orang seperti ini lebih memilih 
bank syariah dan secara tegas menolak bank konvensional. 
Kedua, ya motif bisnis an sich. Dalam kacamata ini memang bank syariah tidak 
terlalu beresiko bahkan dalam hitung-hitungan mereka bank syariah memilik 
marjin keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan skema bank 
konvensional. Sehingga bank konvensional pun membuka unit syariah. 
Dengan alasan yang sama pula hal ini terjadi bukan hanya di Indonesia, yang 
mayoritas penduduknya Muslim. Di negara-negara lain, seperti Inggris, 
Singapura, Australia, Amerika juga bank konvensional membuka cabang syariah. 
Bahkan City Bank, itu bank konvensional pertama yang membuka unit syariah. 
Sekarang ini kan HSBC pun membuka unit syariah. 
Agak sedikit menyimpang, namun menarik untuk diungkap. Dalam dialog di Bandung 
baru-baru ini, Boediono mengatakan butuh mata uang internasional yang baru 
pengganti dollar karena dollar didominasi oleh satu negara. Tapi ketika 
disodorkan bahwa uang pengganti itu emas ia menolak juga, dengan alasan mata 
uang emas itu tetap menimbulkan ketergantungan karena hanya negara-negara 
tertentu saja yang mempunyai emas. 
Apa benar seperti itu, jadi di mana letak keadilan mata uang emas itu, 
mengingat Islam mewajibkan mata uang itu haruslah emas atau berbasis emas?
Justru kalau tujuannya agar menjadi mata uang internasional emaslah yang paling 
unggul. Karena ketika emas dijadikan mata uang dengan sendirinya uang emas 
tersebut menjadi mata uang internasional. Sama sekali tanpa memerlukan adanya 
political agreement. Lihat mata uang Euro, sekedar untuk berlaku di Eropa saja 
kan harus ada dulu kesepakatan politik oleh setiap negara yang tergabung dalam 
Masyarakat Ekonomi Eropa untuk menjadikan itu sebagai mata uang bersama. 
Emas tidak perlu begitu. Jadi siapa saja bisa menggunakan mata uang emas, 
bahkan tidak memerlukan kesepakatan politik internasional sekalipun. Karena 
emas ini langsung bisa digunakan di sembarang tempat di berbagai negara. 
Terus bila dikatakan bahwa negara-negara tertentu saja yang menghasilkan emas 
atau mempunyai cadangan emas yang besar yang diuntungkan. Ya, memang seperti 
komoditas lainnya, seperti minyak misalnya. Kan negara yang mempunyai minyak 
terbesar memiliki keuntungan yang lebih besar. Jadi ada masalah apa? Yang 
memiliki minyak yang lebih banyak akan diuntungkan, yang memiliki emas lebih 
banyak akan lebih diuntungkan. Ya, itu hal yang wajar saja. Tidak menggunakan 
mata uang emas pun. Menggunakan dollar misalnya, tetap saja yang memiliki emas 
terbanyak akan lebih diuntungkan. 
Benarkah bila penemuan emas besar-besaran di sebuah negara akan terjadi inflasi 
secara global? 
Ooh, insya Allah, itu tidak akan mungkin terjadi. Kenapa? Karena emas itu 
komoditas. Emas tidak akan mengalir dengan sendirinya karena emas akan mengalir 
bila dipertukarkan dengan barang dan jasa. Bila emas itu ditemukan oleh sebuah 
negara tentu saja emas tersebut akan diamankan oleh negara tersebut. 
Beda dengan mata uang kertas. Bila di-back-up atau disandarkan pada emas 
berarti mata uang emas. Mata uang kertas kan dicetak tanpa disandarkan pada 
apa-apa. Itulah yang menyebabkan inflasi secara global seperti yang selalu 
terjadi pada mata uang kertas yang berlaku saat ini. Uang terus dicetak, harga 
barang terus naik. Kan begitu. 
Jadi kalau emas itu dibelikan barang ya itu sebenarnya pertukaran barang dengan 
barang. Jika harga barang naik, harga emas pun ikut naik. Jadi emas relatif 
jauh lebih stabil dibanding mata uang kertas, saham, atau lainnya. Dollar bisa 
tidak ada artinya apa-apa ketika Amerika bangkrut. Saham juga demikian, bila 
perusahaan yang mengeluarkan saham itu bangkrut. 
Hal itu tidak berlaku bagi emas. Satu contoh sederhana saja. Seribu empat ratus 
tahun lalu. pada zaman Nabi Muhammad SAW, harga seekor kambing gemuk adalah 1 
koin dinar, uang yang terbuat dari emas seberat 4,25 gram emas. Nah, zaman 
sekarang juga sama! Kambing yang bagus dan gemuk harganya sekitar 1,5 juta 
rupiah.
Coba tanya ke Antam atau penjual dinar, berapa harga 1 dinar sekarang, 
jawabannya mesti 1,5 juta rupiah. Padahal Khilafah Islam sudah lebih dari 80 
tahun runtuh, tapi dinarnya tetap stabilkan? Coba kalau pakai uang kertas. 
Pasti harus dikilo dulu baru laku. Seperti halnya menimbang koran bekas. Jadi 
kalau tidak emas mau mata uang apa yang ingin diajukan sebagai alat tukar yang 
berlaku secara internasional?
Kesimpulannya?
Jadi neolib itu tidak bisa dilihat dari kata-kata tetapi dapat dilihat dari 
rekam jejak. Artinya, neolib tidaknya Boediono itu tidak bisa diukur dengan 
setuju atau tidaknya dia dengan berdirinya perbankan syariah. Tapi neolib 
tidaknya dia itu bisa dilihat dari apakah dia menganut Mazhab Konsensus 
Washington atau tidak. Konsensus Washington itu kan intinya pencabutan subsidi, 
privatisasi, dan liberalisasi perdagangan. Boediono kan kental sekali dengan 
ketiga hal itu.[]

-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal- alboncelli. blogspot. com/
FS: [email protected]
mobile: 021 950 42948
















      Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke