Terima kasih banyak atas artikelnya, menarik dan informatif .

 Egi Arvian Firmansyah 
egimgt.blogspot.com   





________________________________
Dari: Muhammad Aldhira <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Senin, 7 September, 2009 09:35:47
Judul: {FoSSEI} Laporan kegiatan Seminar Ekonomi Syariah FE UNPAD-Prinsip 
Ekonomi Islam Utamakan Moral dan Etika dalam Berbisnis

  
Prinsip Ekonomi Islam Utamakan Moral dan Etika dalam Berbisnis
Laporan oleh: Ratih Anbarini  


[Unpad.ac.id, 2/09] Sistem ekonomi kapitalis yang dianut sebagian
besar negara di dunia dipercaya sebagai salah satu penyebab paling
dominan terjadinya krisis ekonomi global. Kapitalisme yang hanya
berorientasi pada pasar dan keuntungan tidak menerapkan sistem moral
dalam menjalankan praktik bisnisnya. Hal inilah yang menyebabkan
hancurnya perekonomian sejumlah negara dan maraknya pelaku bunuh diri
akibat tanggungan kerugian yang begitu besar.
Dr.
Phil Peter Schmiedel saat memaparkan materinya mengatakan, nilai-nilai
Islam dapat diterapkan ke seluruh dunia agar tercipta ekonomi yang
bermoral dan berkeadilan (Foto: Tedi Yusup)
Perbincangan mengenai perlunya sistem moral dan etika dalam berbisnis itu 
dibahas dalam Seminar dan Lokakarya “Sharia Economics” dengan tema “Economic 
and Business Ethnic in Islam and Western Civilization: Contribution to Global 
Business Governance After Crisis”.
Kegiatan yang digagas Pusat Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi (FE)
Unpad tersebut berlangsung Rabu (2/09) di Ruang Multimedia FE Unpad dan
dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai instansi.
“Penelitian yang dilakukan Jeffrey Seglin dalam artikelnya berjudul Do It Right 
pada November 2001 menyebutkan bahwa perusahaan yang mengedepankan
etika dan moral dalam berbisnis lebih berhasil dibanding perusahaan
yang hanya mengejar profit. Dari penelitian tersebut jelas bahwa etika
dalam melakukan kegiatan ekonomi harus menjadi suatu kebutuhan,” ungkap
salah satu pembicara, Yunizar, Ph.D. yang juga merupakan dosen FE Unpad.
Ia menyebut bahwa selama abad 20, tidak kurang dari 32 krisis
ekonomi global melanda dunia. Menurutnya, krisis ekonomi global yang
melanda dunia sangat dimungkinkan oleh praktik-praktik bisnis yang
tidak mengedepankan moral sebagai sistem nilai. “Dengan kata lain,
krisis yang terjadi lebih disebabkan semakin jauhnya praktik-praktik
bisnis dari nilai dan aturan Ilahi,” tuturnya.
Dalam paparannya berjudul “Relevansi Etika Bisnis dalam Bisnis
Global: Perspektif Islam”, Yunizar, Ph.D. mengungkapkan bahwa
pentingnya etika dalam berbisnis semakin meluas sebagai respon terhadap
gelombang skandal korporasi dari tahun 1980 hingga sekarang. “Islam
sebagai agama yang sempurna telah memberikan tuntunan dalam bermualamah
atau berbisnis. Tuntutan tersebut diperlihatkan oleh Nabi Muhammad SAW
sebagai suri tauladan dalam setiap aspek kehidupan,” kata Yunizar, Ph.D.
Ia mengungkapkan empat prinsip berbisnis yang pernah dilakukan oleh
Nabi Muhammad SAW. Prinsip pertama adalah mendapatkan penghasilan halal
dengan usaha sendiri. Prinsip kedua adalah tidak berbisnis barang dan
perdagangan yang terlarang, prinsip ketiga adalah selalu bersikap baik
dalam hubungan dagang, dan prinsip keempat adalah adanya persetujuan
antara pembeli dan pedagang.
Bukan Meng-Islamkan
Pengamat ekonomi asal Jerman,  mengungkapkan bahwa
diterapkannya prinsip ekonomi Islam yang bermoral dan beretika dalam
berbisnis bukan berarti meng-Islamkan dunia. Menurutnya, digunakannya
ekonomi Islam hanya untuk mengeneralisasikan nilai etika dan norma
objektif dalam Islam.
“Saya tidak menyebut bahwa dengan ekonomi Islam berarti membuat
semua orang di dunia memeluk agama Islam. Yang saya maksud adalah
nilai-nilai Islam dapat diambil oleh semua orang, sehingga menghasilkan
kehidupan ekonomi yang bermoral dan berkeadilan,” ungkap Dr. Peter yang
merupakan non-muslim.
Sementara itu, pembicara lainnya, Izzuddin Abdul Manaf, Lc. MA.
menilai bahwa sistem ekonomi yang berlandaskan Islam sangat minim
risiko dibanding sistem ekonomi konvensional. Hal tersebut, kata
Izzuddin, dikarenakan dalam Islam diterapkan sejumlah hukum dan
ketentuan yang tidak dimiliki dalam sistem ekonomi konvensional.
“Misalnya tidak menjual sesuatu yang belum ada dalam penguasaan atau
sesuatu yang tidak dimiliki,” lanjut Izzuddin yang juga dosen Sekolah
Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Sebi, Ciputat. (eh)* 

________________________________
 Berselancar lebih cepat. 
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman 
favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)
   


      Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih 
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. 
Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/

Kirim email ke