“Dia (Ya’qub) berkata,
Sebenarnya hanya dirimu sendiri yang memandang baik urusan (yang buruk) itu.
Maka (kesabaranku) adalah kesabaran yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan
mereka semuanya kepadaku. Sungguh, Dialah yang Maha Mengetahui, Maha
Bijaksana.” (Q.S. 12: 83)

 

Betapa tidak pantasnya, bagi seorang
yang sering kali mengeluh, kemudian berkata-kata tentang kesabaran. Namun, ada
satu sketsa yang terkenang, mengalunkan kata-kata tentang kesabaran yang pernah
terdengar lembut dan sejuk. Suatu ketika, seorang pemuda yang mudah mengeluh
ini, tertohok oleh nasihat seorang saudaranya. Saking tertohoknya, hingga
nasihat itu seketika saja meresap dalam hatinya, sedalam-dalamnya. Saking
dalamnya, hingga ketika sempat hadir pilihan dalam perjalanan pemuda ini untuk
mengeluh, sejak awal kata-kata itu mengalun mengingatkannya, berulang-ulang,
dalam hatinya. Dan hingga berulang-ulang pula, pemuda itu memilih untuk tidak
jadi mengeluh. Jazakumullahu khairan katsiiraan, terungkap dalam senyum penuh
cinta untuk saudara yang senantiasa menjaga saya dengan nasihatnya.

 Saya yang begitu menikmati sastra –sampai
sering dibilang lebay, hehe, apakah sastra identik dengan lebay ya?, salahnya
saya, bukan salahnya sastra-, suatu ketika dipertemukan dengan kisah yang
begitu agung dalam sebaik-baik sastra yang pernah ada di muka bumi, surat Yusuf
dalam al-Qur’an. Sastra yang tiada pernah ada tandingannya baik dalam keindahan
maupun juga kedalaman maknanya. Begitulah, karena yang menulisnya adalah
pembuat sebaik-baik skenario, Allah swt. Membacanya, saya sempat beberapa kali
terhenti, mencoba memaknai lebih mendalam, ketika menjumpai pelajaran tentang
kesabaran.

Dalam surat Yusuf, cerita tentang sang
ayah, Ya’qub as, setidaknya telah dua kali mengajarkan saya –dan kita, antum
sekalian tentu saja- tentang kesabaran yang baik. “Maka kesabaranku”, kata
Ya’qub as yang diabadikan di dalamnya, “adalah kesabaran yang baik”. Ketika itu,
kita dapati bagaimana kesabarannya ketika ia kehilangan putra kesayangannya,
Yusuf as, yang dibuang saudara-saudaranya yang menyimpan iri dalam hatinya.
Juga di lain waktu jauh sesudahnya, kita temui bagaimana kesabarannya ketika ia
terus-menerus menangis dalam dukanya terhadap Yusuf as, hingga matanya tak
dapat melihat dengan baik. Kemudian, seperti diceritakan darinya, tahulah kita 
tentang
bagaimana kesabaran yang baik itu.

Kesabarannya, kesabaran yang baik, adalah
dengan mengadukan kesedihan dan kesusahan hanya kepada Allah. Kesabarannya, 
kesabaran
yang baik, adalah dengan tidak pernah berputus asa terhadap rahmat Allah.
Kesabarannya, kesabaran yang baik, adalah dengan memohon pertolongan kepada
Allah saja. Maka, sungguh begitu indah dan kokoh kesabaran yang baik itu. Ketika
kedukaan, kesusahan, dan kesedihan, tak sempat menggantikan senyum ridhanya,
dan tak sempat mengeluh dalam hati dan lakunya, kecuali hanya kepada Allah
saja. …ah, mungkin, seorang yang mencoba menceritakan kembali ini, masih sangat
jauh dari kesabaran itu. Hanya saja, betapa rindunya ia dan hatinya, untuk 
menjalani
kesabaran itu, seperti kesabaran Ya’qub as, menjalani kesabaran yang baik.

Masih membekas dalam ingatan saya,
kata-kata Ustadz Natsir Harits –siapa yang beliau? Kalau belum kenal, cari di
google aja, hehe-. “Kita ini,” kurang lebih demikian kata beliau, “akan terus
diuji..” Sejenak beliau menghela nafas. “Kalau Allah mencintai seseorang,”
lanjut beliau, “maka ia akan diuji. Semakin cinta Allah padanya, akan semakin
diuji. Dengan ujian itu, Allah telah menjanjikan kemuliaan baginya.” Oleh
karena itu, kesabaran yang baik adalah sebaik-baik bekal, yang menjaga
konsistensi kita bertahan dalam menempuh perjalanan yang dipenuhi ujian.

Maka, bersyukurlah kita, ketika ujian
selalu mempertemui kita di sepanjang perjalanan. Karena Allah telah menyiapkan
kemuliaan berlipat-lipat bagi mereka yang menjalaninya dengan kesabaran yang
baik. Maka, bersyukurlah kita, ketika ujian selalu membersamai kita di
sepanjang perjalanan. Karena mungkin saja kita sudah berada di jalur yang
benar, jalan yang lurus. “Jalan yang lurus itu,” masih kata Ustadz Natsir
Harits, “sebenarnya jalan yang banyak syaithan.” Yah, jalan yang lurus itu
adalah jalan yang penuh ujian. “Kita perlu curiga”, canda beliau bermekar
senyum, “kalau jalan kita gampang-gampang aja. Ini jalan lurus atau bukan??”
Hehe.

Alangkah indah ketika kita mencerap
dalam-dalam makna kesabaran yang baik dalam kontemplasi dan muhasabah –enaknya 
kalau
baca tulisan ini pada malam hari, tambah kerasa, karena tulisan ini juga saya
tulis pada malam hari, mungkin malah sudah dini hari, karena hampir jam 01:26,
hehe- Sudahkan kita memaknai kata-kata Asy Syafi’i yang secara implisit
disampaikan oleh Ustadz Natsir Harits tadi, bahwa di balik ujian, Allah telah
menyiapkan kemuliaan. Sudahkan kita, membekali diri dalam menempuh perjalanan
penuh ujian dengan kesabaran yang baik? Ukurannya, masihkan kita sering
mengeluh, pernahkan kita berputus asa dariNya, atau telah lelahkan kita untuk
terus memohon padaNya? …aaah, kali ini saya benar-benar ingin menohok diri saya
sendiri, tanpa menunggu engkau saudaraku, karena masih jauhnya diri ini dari
kesabaran yang baik.

Untuk saudaraku, yang telah
meyakinkan diri menempuh jalan yang lurus, jalan berlimpah ujian. Untuk
saudaraku, yang setiap kita adalah pemimpin, seperti kata Rasulullah, paling
tidak pemimpin bagi diri sendiri. Dan Allah akan meminta pertanggungjawaban. 
Inginlah
saya berbagi nasihat saudara saya yang lainnya. “Pemimpin itu,” katanya ketika
meminta saya waktu itu, “harus siap menangis paling akhir.” Ketika yang lainnya
menangis, ia tetap tersenyum, menguatkan yang lain bahwa harapan itu masih ada.
Ketika yang lainnya menangis, ia mengajak untuk kembali tersenyum, tidak
mengeluh, dan tidak berputus asa. Dan ketika ia akhirnya menangis, adalah di
tempat yang paling tersembunyi di mana tak seorang pun melihatnya. Di sana ia
menangis lebih dalam, setelah menahan kesakitan dan kesedihan di hadapan
manusia, hanya kepada Allah saja. Hanya kepada Allah saja. Begitulah, kesabaran
yang baik yang harus dimiliki setiap kita, seorang pemimpin. Kesabaran yang 
masih
begitu jauh dari saya, menjadikan kerinduan yang ada tak pernah berbatas dalam
saya…

 

“Sebab, pohon kebesaran
suatu ummat hanya dapat tumbuh di taman sejarah yang disirami air mata
kesedihan dan darah pengorbanan.” (M. Anis Matta)

 

Untuk saudaraku. Kita yang senantiasa merindukan kebesaran
ummat. Jangan pernah mengeluh dan berputus asa ketika dipaksa untuk bersedih
dan diminta untuk berkorban. Karena demikianlah tabiat jalan kita, yang membawa
pada resapan hati tak berbatas. Maka berteriaklah lantang mulai dari dalam
memenangkan hati, seperti kata-kata Ya’qub yang mengabadi dalam al-Qur’an, 
“Fashobrun jamiilun…” Maka kesabaranku
adalah kesabaran yang baik… Insya Allah. []

 

14 September 2009,
01:34

Kontemplasi, menasihati
diri sendiri, yang saat ini mulai dipertemukan dengan sekian banyak pilihan
untuk mengeluh dan berputus asa. Sepertinya sekaligus menanggapi  Mas Iqbal 
Faisol, saudara dan  teman becandaan, hehe.



_________________________________
ADITYA RANGGA YOGA :)
Presidium Nasional 4 FoSSEI
+62 813 2888 5856
[email protected]
Shariah Economics Forum (SEF)
UNIVERSITAS GADJAH MADA


--- On Sat, 9/12/09, iqbal faisol <[email protected]> wrote:

From: iqbal faisol <[email protected]>
Subject: {FoSSEI} NASIB MILIST SEKARANG, MENGENASKAN....
To: [email protected]
Date: Saturday, September 12, 2009, 1:54 AM






 




    
                  aslm,
TEMAN, DIMANAKAH ENGKAU...
KU CARI-CARI, KU SHERCHING-SHERCHING N KU TANYA-TANYA
KAU PUN TAK MUNCUL..
SUDAH LAMA KU NANTI DISKUSI KITA...
SEHINGGA SEKARANG INI KUHABISKAN WAKTUKU
DENGAN DISKUSI SESAMA DIRIKU SENDIRI..
TEMAN...
SUDAHKAH ENGKAU BERPINDAH KE LAIN HATI..
TERNYATA...
ENGKAU KU TEMUKAN DI PASBOOK, eh salah FACEBOOK
TERNYATA KAU MENDUA...
MILIST TAK SERAMAI DULU LAGI
TAPI MALANG NASIBKU
AKU PUN AKHIRNYA PINDAH KE FACEBOOK JUGA..
HATIKU PUN MENDUA..
KARENA KAU MENGAJAKKU PASBOOKAN TERUS...

(buat temen2 yang sudah lama tidak pernah ngisi milist, apalagi ngliat, apalagi 
lagi mampir hanya cuma sekedar melihat...)
JANGAN LUPAKAN MILIST, INGAT MILIST LAH YANG IKUT ANDIL TERHADAP INFORMASI KITA 
SELAMA INI.
bukan maksud menyindir,
 tapi mengingatkan. ..




      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke