Yang inspiratif banget mah kisah Nabi Yusuf sama Siti Zulaikha.. ah..
menggugah....
saking keren-nya Nabi Yusuf, si Zulaikha sampe gak nyadar bahwa dia bukan
ngupas Apel... tapi ngiris2 jari-jari lentiknya...

Pada 14 September 2009 11:51, basil holmes <[email protected]> menulis:

>
>
>
> subhanallah..
> tengkyu bro..
>
> sungguh inspiratif memang surat Yusuf, terkadang tanpa sengaja kita
> meneteskan air mata ketika melantunkan atau mendengarkannya...apalagi ketika
> Nabi Yusuf berjumpa dengan keluarganya setelah sekian tahun lamanya mereka
> berpisah...sekian tahun tidak pernah memandang wajah kedua orang tuanya
> karena beliau terasingkan sejak masih usia belia...subhanallah, tidak ada
> novel atau karya sastra lainnya atau apapun juga yang pantas di sandingkan
> dengan Al Quran.
>
> syukron,
> Jazakallahu..
>
> dan untuk teman2 FoSSEI dimanapun berada...tetaplah bersemangat...tetaplah
> tegak dalam melangkah...
>
> AllahuAkbar..
>
>
>
> ps: bwt akh Yoga, kalo mau di posting di fesbuk, jangan lupa tag an juga
> y.. : )
> ------------------------------
> *Dari:* aditya rangga <[email protected]>
> *Kepada:* [email protected]
> *Terkirim:* Senin, 14 September, 2009 10:51:04
> *Judul:* {FoSSEI} Untuk saudara-saudaraku, yang berjuang bersama di
> FoSSEI... Sekedar kontemplasi... :)
>
>
>
> *“Dia (Ya’qub) berkata, Sebenarnya hanya dirimu sendiri yang memandang
> baik urusan (yang buruk) itu. Maka (kesabaranku) adalah kesabaran yang baik.
> Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sungguh, Dialah
> yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Q.S. 12: 83)*
>
> *  *
>
> Betapa tidak pantasnya, bagi seorang yang sering kali mengeluh, kemudian
> berkata-kata tentang kesabaran. Namun, ada satu sketsa yang terkenang,
> mengalunkan kata-kata tentang kesabaran yang pernah terdengar lembut dan
> sejuk. Suatu ketika, seorang pemuda yang mudah mengeluh ini, tertohok oleh
> nasihat seorang saudaranya. Saking tertohoknya, hingga nasihat itu seketika
> saja meresap dalam hatinya, sedalam-dalamnya. Saking dalamnya, hingga ketika
> sempat hadir pilihan dalam perjalanan pemuda ini untuk mengeluh, sejak awal
> kata-kata itu mengalun mengingatkannya, berulang-ulang, dalam hatinya. Dan
> hingga berulang-ulang pula, pemuda itu memilih untuk tidak jadi mengeluh.
> Jazakumullahu khairan katsiiraan, terungkap dalam senyum penuh cinta untuk
> saudara yang senantiasa menjaga saya dengan nasihatnya.
>
>  Saya yang begitu menikmati sastra –sampai sering dibilang lebay, hehe,
> apakah sastra identik dengan lebay ya?, salahnya saya, bukan salahnya
> sastra-, suatu ketika dipertemukan dengan kisah yang begitu agung dalam
> sebaik-baik sastra yang pernah ada di muka bumi, surat Yusuf dalam
> al-Qur’an. Sastra yang tiada pernah ada tandingannya baik dalam keindahan
> maupun juga kedalaman maknanya. Begitulah, karena yang menulisnya adalah
> pembuat sebaik-baik skenario, Allah swt. Membacanya, saya sempat beberapa
> kali terhenti, mencoba memaknai lebih mendalam, ketika menjumpai pelajaran
> tentang kesabaran.
>
> Dalam surat Yusuf, cerita tentang sang ayah, Ya’qub as, setidaknya telah
> dua kali mengajarkan saya –dan kita, antum sekalian tentu saja- tentang
> kesabaran yang baik. “Maka kesabaranku”, kata Ya’qub as yang diabadikan di
> dalamnya, “adalah kesabaran yang baik”. Ketika itu, kita dapati bagaimana
> kesabarannya ketika ia kehilangan putra kesayangannya, Yusuf as, yang
> dibuang saudara-saudaranya yang menyimpan iri dalam hatinya. Juga di lain
> waktu jauh sesudahnya, kita temui bagaimana kesabarannya ketika ia
> terus-menerus menangis dalam dukanya terhadap Yusuf as, hingga matanya tak
> dapat melihat dengan baik. Kemudian, seperti diceritakan darinya, tahulah
> kita tentang bagaimana kesabaran yang baik itu.
>
> Kesabarannya, kesabaran yang baik, adalah dengan mengadukan kesedihan dan
> kesusahan hanya kepada Allah. Kesabarannya, kesabaran yang baik, adalah
> dengan tidak pernah berputus asa terhadap rahmat Allah.. Kesabarannya,
> kesabaran yang baik, adalah dengan memohon pertolongan kepada Allah saja.
> Maka, sungguh begitu indah dan kokoh kesabaran yang baik itu. Ketika
> kedukaan, kesusahan, dan kesedihan, tak sempat menggantikan senyum ridhanya,
> dan tak sempat mengeluh dalam hati dan lakunya, kecuali hanya kepada Allah
> saja. …ah, mungkin, seorang yang mencoba menceritakan kembali ini, masih
> sangat jauh dari kesabaran itu. Hanya saja, betapa rindunya ia dan hatinya,
> untuk menjalani kesabaran itu, seperti kesabaran Ya’qub as, menjalani
> kesabaran yang baik.
>
> Masih membekas dalam ingatan saya, kata-kata Ustadz Natsir Harits –siapa
> yang beliau? Kalau belum kenal, cari di google aja, hehe-. “Kita ini,”
> kurang lebih demikian kata beliau, “akan terus diuji.” Sejenak beliau
> menghela nafas. “Kalau Allah mencintai seseorang,” lanjut beliau, “maka ia
> akan diuji. Semakin cinta Allah padanya, akan semakin diuji. Dengan ujian
> itu, Allah telah menjanjikan kemuliaan baginya.” Oleh karena itu, kesabaran
> yang baik adalah sebaik-baik bekal, yang menjaga konsistensi kita bertahan
> dalam menempuh perjalanan yang dipenuhi ujian.
>
> Maka, bersyukurlah kita, ketika ujian selalu mempertemui kita di sepanjang
> perjalanan. Karena Allah telah menyiapkan kemuliaan berlipat-lipat bagi
> mereka yang menjalaninya dengan kesabaran yang baik. Maka, bersyukurlah
> kita, ketika ujian selalu membersamai kita di sepanjang perjalanan. Karena
> mungkin saja kita sudah berada di jalur yang benar, jalan yang lurus. “Jalan
> yang lurus itu,” masih kata Ustadz Natsir Harits, “sebenarnya jalan yang
> banyak syaithan.” Yah, jalan yang lurus itu adalah jalan yang penuh ujian.
> “Kita perlu curiga”, canda beliau bermekar senyum, “kalau jalan kita
> gampang-gampang aja. Ini jalan lurus atau bukan??” Hehe.
>
> Alangkah indah ketika kita mencerap dalam-dalam makna kesabaran yang baik
> dalam kontemplasi dan muhasabah –enaknya kalau baca tulisan ini pada malam
> hari, tambah kerasa, karena tulisan ini juga saya tulis pada malam hari,
> mungkin malah sudah dini hari, karena hampir jam 01:26, hehe- Sudahkan kita
> memaknai kata-kata Asy Syafi’i yang secara implisit disampaikan oleh Ustadz
> Natsir Harits tadi, bahwa di balik ujian, Allah telah menyiapkan kemuliaan.
> Sudahkan kita, membekali diri dalam menempuh perjalanan penuh ujian dengan
> kesabaran yang baik? Ukurannya, masihkan kita sering mengeluh, pernahkan
> kita berputus asa dariNya, atau telah lelahkan kita untuk terus memohon
> padaNya? …aaah, kali ini saya benar-benar ingin menohok diri saya sendiri,
> tanpa menunggu engkau saudaraku, karena masih jauhnya diri ini dari
> kesabaran yang baik.
>
> Untuk saudaraku, yang telah meyakinkan diri menempuh jalan yang lurus,
> jalan berlimpah ujian. Untuk saudaraku, yang setiap kita adalah pemimpin,
> seperti kata Rasulullah, paling tidak pemimpin bagi diri sendiri. Dan Allah
> akan meminta pertanggungjawaban. Inginlah saya berbagi nasihat saudara saya
> yang lainnya. “Pemimpin itu,” katanya ketika meminta saya waktu itu, “harus
> siap menangis paling akhir.” Ketika yang lainnya menangis, ia tetap
> tersenyum, menguatkan yang lain bahwa harapan itu masih ada. Ketika yang
> lainnya menangis, ia mengajak untuk kembali tersenyum, tidak mengeluh, dan
> tidak berputus asa. Dan ketika ia akhirnya menangis, adalah di tempat yang
> paling tersembunyi di mana tak seorang pun melihatnya. Di sana ia menangis
> lebih dalam, setelah menahan kesakitan dan kesedihan di hadapan manusia,
> hanya kepada Allah saja. Hanya kepada Allah saja. Begitulah, kesabaran yang
> baik yang harus dimiliki setiap kita, seorang pemimpin. Kesabaran yang masih
> begitu jauh dari saya, menjadikan kerinduan yang ada tak pernah berbatas
> dalam saya…
>
>
>
> *“Sebab, pohon kebesaran suatu ummat hanya dapat tumbuh di taman sejarah
> yang disirami air mata kesedihan dan darah pengorbanan.” (M. Anis Matta)*
>
> *  *
>
> Untuk saudaraku. Kita yang senantiasa merindukan kebesaran ummat. Jangan
> pernah mengeluh dan berputus asa ketika dipaksa untuk bersedih dan diminta
> untuk berkorban. Karena demikianlah tabiat jalan kita, yang membawa pada
> resapan hati tak berbatas. Maka berteriaklah lantang mulai dari dalam
> memenangkan hati, seperti kata-kata Ya’qub yang mengabadi dalam al-Qur’an, “
> *Fashobrun jamiilun*…” Maka kesabaranku adalah kesabaran yang baik… Insya
> Allah. []
>
>
>
> *14 September 2009, 01:34*
>
> *Kontemplasi, menasihati diri sendiri, yang saat ini mulai dipertemukan
> dengan sekian banyak pilihan untuk mengeluh dan berputus asa. Sepertinya
> sekaligus menanggapi  Mas Iqbal Faisol, saudara dan  teman becandaan, hehe.
> *
>
>
> ____________ _________ _________ ___
> ADITYA RANGGA YOGA :)
> Presidium Nasional 4 FoSSEI
> +62 813 2888 5856
> ytc_y...@yahoo. com
> Shariah Economics Forum (SEF)
> UNIVERSITAS GADJAH MADA
>
>
> --- On *Sat, 9/12/09, iqbal faisol <faisol_iqbal@ yahoo.com>* wrote:
>
>
> From: iqbal faisol <faisol_iqbal@ yahoo.com>
> Subject: {FoSSEI} NASIB MILIST SEKARANG, MENGENASKAN. ...
> To: fos...@yahoogroups. com
> Date: Saturday, September 12, 2009, 1:54 AM
>
>
>
> aslm,
> TEMAN, DIMANAKAH ENGKAU....
> KU CARI-CARI, KU SHERCHING-SHERCHING N KU TANYA-TANYA
> KAU PUN TAK MUNCUL..
> SUDAH LAMA KU NANTI DISKUSI KITA...
> SEHINGGA SEKARANG INI KUHABISKAN WAKTUKU
> DENGAN DISKUSI SESAMA DIRIKU SENDIRI..
> TEMAN...
> SUDAHKAH ENGKAU BERPINDAH KE LAIN HATI..
> TERNYATA...
> ENGKAU KU TEMUKAN DI PASBOOK, eh salah FACEBOOK
> TERNYATA KAU MENDUA...
> MILIST TAK SERAMAI DULU LAGI
> TAPI MALANG NASIBKU
> AKU PUN AKHIRNYA PINDAH KE FACEBOOK JUGA..
> HATIKU PUN MENDUA..
> KARENA KAU MENGAJAKKU PASBOOKAN TERUS...
>
> (buat temen2 yang sudah lama tidak pernah ngisi milist, apalagi ngliat,
> apalagi lagi mampir hanya cuma sekedar melihat...)
> JANGAN LUPAKAN MILIST, INGAT MILIST LAH YANG IKUT ANDIL TERHADAP INFORMASI
> KITA SELAMA INI.
> bukan maksud menyindir, tapi mengingatkan. ..
>
>
>
>
> ------------------------------
>  Apakah wajar artis ikut Pemilu?
> Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!
> 
>



-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/
FS: [email protected]
mobile: 021 950 42948

Kirim email ke