Sesungguhnya anjuran berinfak dalam surah ini dilakukan berulang-ulang.
Sekarang, konteks ayat-ayatanya merumuskan aturan main Sedekah secara rinci
dan panjang. Aturan main tersebut melukiskan sbeuah naungan cinta dan kasih
sayang sambil menjelaskan adab-adab psikologis dan sosiologisnya. Adab-adab
yang mampu merubah Sedakah menjadi aktivitas edukatif kejiwaan/psikis para
pelakunya. Pada waktu yang sama menjadi sangat bermanfaat dan menguntungkan
bagi para penerimanya. Demikian juga, aktivitas Sedekah mampu merubah
masyarakat menjadi satu keluarga yang diliputi spirit ta’awun, takaful,
cinta dan kasih sayang, serta mengangkat kemanusiaan ke tingkat yang mulia,
baik sipemberi maupun sipenerimanya.

Kendati arahan-arahan yang terdapat dalam pelajaran kali ini merupakan
aturan main (Undang-Undang Dasar) yang berlaku tetap, tanpa terikat waktu
dan tempat dan tidak pula terpengaruh oleh situasi-siatuasi tertentu, namun
demikian perlu kita isyaratkan background (latar belakangya) bahwa aturan
main tersebut datang sebagai jawaban atas kondisi ril yang dihadapi oleh
Jama’ah Muslimah saat itu.

Situasi ril seperti itu bisa saja dihadapi oleh masyarakat Muslim setelah
itu. Sebuah fakta bahwa dahulu terdapat jiwa-jiwa yang kikir lagi pelit
terkait harta yang membutuhkan tekanan yang kuat dan inspirasi yang
mempengaruhinya dengan kuat. Demikian pula halnya memerlukan perumpamaan dan
visualisasi fakta-fakta yang berbicara agar sampai ke dalam lubuk hati.

Saat itu, ada orang-orang yang sangat pelit terkait harta sehingga mereka
tidak mau memberikannya kepada yang membutuhkannya kecuali hasil riba
(interest/bunga). Ada pula yang berinfak merasa terpaksa atau riya (ingin
mendapat pujian manusia). Dan ada lagi yang berinfak sambil mencerca yang
menerimanya dan ada pula yang menginfakkan harta yang rusak (buruk) dan
menyimpan yang baik-baik.

Semua golongan tersebut, terdapat mereka yang ikhlas berinfak di jalan
Allah; mereka yang sangat dermawan melalui kebaikan harta yang mereka
miliki, mereka menginfakkannya secara rahasia di tempat yang harus
dirahsiakan dan secara terang-terangan di tempat yang perlu terus terang
dengan semangat totalitas, ikhlas dan bersih.


Baik kelompok pertama maupun yag terakhir, semua mereka berada dalam Jamaah
Muslimah saat itu. Memahami fakta tersebut akan sangat banyak manfaatnya
bagi kita.

Manfaat pertama, memahami karakter Al-Qur’an ini dan fungsinya. Sebab itu,
Al-Qur’an itu sesuatu yang hidup dan bergerak. Kita menyaksikannya bekeraja
dalam naungan realitas ini, bergerak di tengah-tengah Jamah Muslimah,
mengarahkan kondisi-kondisi dan realitas-realitas. Sebab itu, kita melihat
Al-Qur’an menolak yang yang ini dan menetapkan yang itu, mendorong Jamaah
Muslimah dan mengarahkannya. Al-Qur’an bekerja terus menrus dan bergerak
terus dalam lapangan percaturan dan dalam lapangan kehidupan. Al-Qur’an
benar-benar usnsur pendorong, penggerak dan mengarah di lapangan percaturan
dan kehidupan tersebut.

Kita sangat membutuhkan merasakan Al-Qur’an seperti ini. Melihatnya sebagai
seuatu yang hidup, bergerak dan mendorong. Sungguh jauh jarak antara kita
dengan Gerakan Islam, kehidupan Islami dan realitas Islami tersebut. Di
dalam perasaan kita, Al-Qur’an telah terpisah dari fakta sejarah yang hidup.
Realitas kehidupan yang pernah terjadi di suatu masa dalam sejarah Jama’ah
Muslimah pertama tersebut tak kunjung hadir dalam persaaan kita. Kita sudah
tidak ingat lagi di tengah percaturan yang terus menerus – masalah harian –
yang dihadapi seorang prajurut Muslim dia menerima taujuh (arahan) Al-Qur’an
untuk diamalkan dan dilaksanakan.

Al-Qur’an telah mati dalam perasaan kita... atau peraan kita tidur lelap...
Gambaran kongkrit dalam persaan kaum Muslim saat ia turun tak kunjung
kemabali ke dalam perasaan kita. Tingkatan kita dalam menrimanya hanya
sebatas bacaan yang dilagu-lagukan atau hati kita terpengaruh secara kabur
dan tidak jelas. Atau kita baca sebagai wirid (kebiasaan). Puncak yang mampu
dicapai oleh orang-orang Mukmin Shadiqin di kalangan kita ialah sekedar
melahirkan kondisi ketenangan atau kepuasan jiwa yang kabur.

Memang, Al-Qur’an mampu melahirkan semua itu. Akan tetapi, yang dituntut
dari kita – di samping itu semua – bagaimana ia dapat melahirkan kesadaran
dan kehidupan dalam diri seorang Muslim. Ya, yang dituntut ialah melahirkan
kondisi sadar yang bergerak bersama Al-Qur’an, sebuah gerakan khidupaan yang
merupakan tujuan utama Al-Qur’an dihadirkan.

Yang dituntut ialah bahwa seorang Muslim memperhatikan Al-Qur’an dalam
mendan pertempuran yang diharunginya dan senetiasa siap mengharunginya dalam
kehidupan umat Islam. Yang dituntuntut ialah seorang Muslim datang kepada
Al-Qur’an untuk mengdengarkan apa yang sepantasnya ia lakukan – sebagaimana
generasi Muslim pertama dulu lakukan – dan agar mengetahui hakikat
arahan-arahan Al-Qur’an terkait situasi dan lingkungannya saat ini berupa
peristiwa-peristiwa, problem dan permsalahan-permasalahan pelik lainnya
dalam kehidupan. Hendaknya seorang Muslim melihat sejarah Jamaah Muslimah
pertama yang terepresentasikan dalam Al-Qur’an ini di mana Al-Qur’an itu
bergerak dalam kata-kata dan arahan-arahannya sehingga dia merasakan bahwa
sejarah tersebut bukanlah asing baginya.

Sejarah generasi Islam pertama itu adalah sejarahnya. Realitas yang
dihadapinya hari ini hanya perpanjangan dari sejarah masa lampau.
Peristiwa-peristiwa yang dihadapinya saat ini merupakan buah dari apa yang
dihadapi para pendahulunya. Al-Qur’an telah memberikan taujih (arahan) pada
mereka untuk bertindak dengan tindakan tertentu. Sebab itu, ia akan merasa
bahwa Al-Qur’an ini juga Al-Qur’annya. Al-Qur’annya yang dia jadikan
konsultan bagi setiap peristiwa dan persolan-persoalan pelik yang
dihadapinya. Karena sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah undang-undang
dasarnya, konsepnya, pemikirannya, kehidupannya dan pergerakannya sekarang
dan setelah sekarang tanpa terputus.

Manfaat kedua, melihat hakikat karakter masnusia yang tetap menolak dakwah
kepada Iman dan beban-bebanya. Pandangan yang realistik melalui realitas
yang diisyaratkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam kehidupan Jamah Muslimah
pertama. Jamaah ini yang Al-Qur’an diturunkan atasnya dan yang dibina
langsung oleh Rasul Saw, tetap memiliki titik-tik kelemahan dan kekurangan
yang mengharuskan pemeliharaan, arahan dan inspirasi yang terus menerus.
Masalah ini tidak menghambat mereka untuk menjadi generasi terbaik sepanjang
masa.

Memahami hakikat ini amat bermanfaat bagi kita. Bermanfaat bagi kita karena
Al-Qur’an telah memperlihatkan pada kita hakikat Jamaah manusia yang tidak
ghuluw (berlebihan), kagetan dan tidak pula memilki konsep-kosep bersayap.
Bermanfaat bagi kita, karena mampu membuang rasa putus asa dari dalam diri
kita saat kita melihat bahwa kita belum sampai pada ufuk (ketinggian) yang
dilukiskan Islam di mana Islam mengajak manusia untuk samapai pada
ketinggian tersebut. Cukup bagi kaita bahwa kita sedang menuju ke sana.
Usaha-usaha kita kea rah sana sepantasnya secara kontinu dan ikhlas.

Manfaat bagi kita untuk memahami hakikat lain… Yakni, dakwah menuju
kesempurnaan tersebut harus sampai kepada masnusia. Tidak boleh terputus dan
tidak boleh putus asa saat melihat sebagian kelemahan dan cacat. Jiwa memang
demikian… Ia akan naik sedikit demi sedikit dengan mengikuti seruan
kewajiban, ajakan kepada kemualian yang dicita-citakan, mengingatkan selalu
akan kebaikan, membuat kebaikan menjadi indah dan keburukan menjadi hal yang
menjijikkan, menjaukan dari kekurangan dan kelemahan dan menggandeng selalu
dengan kekuatan saat terjatuh di jalan dan saat menyebabkan perjalanan itu
menjadi panjang.

Manfaat yang ketiga, ketenangan akan hakikat yang sederhana yang seringkali
kita lupakan. Yakni, bahwa manusia adalah manusia. Dakwah adalah dakwah.
Pertempuran adalah pertempuran. Pertama-tama dan sebelum segala sesuatunya
dalah pertempuran dengan kelemahan, kekurangan, kekikiran, rakus yang ada
dalam diri. Kemudia baru pertempuran dengan kejahatan, kebatilan, kesesatan
dan tindakan melampaaui batas dalam realitas kehidupan. Pertempuran dengan
kedua sisnya haruslah ditempuh. Semua aktivis Jamaah Muslimah di atas muka
bumi ini harus menghadapi kedua bentuk pertempuran tersebut, sebagaiman yang
dihadapi Al-Qur’an dan Rasul Saw pertama kali. Kesalahan dan ketergelinciran
pasti terjadi. Kelemahan dan kekurangan dalam berbagai marhalah perjalanan
pasti muncul. Namun, yang sangat diperlukan ialah perawatan yang
terus-menerus terhadap kelemhan dan kekurangan yang muncul selama dalam
perjalanan yang dilahirkan peristiwa-peristiwa dan percobaan-percobaan.
Sebab itu, hati harus diarahkan kepada Allah dengan metode-metode yang
diterapkan Al-Qur’an dalam mentaujih (mengarahkan).

Di sisni, kita kembali kepada pembicaraan pertama. Kita kembali kepada
konsultasi Al-Qur’an dalam pergerekan kehidupan kita dan persoalan-persolan
peliknya. Kembali kita melihatanya bekerja dan bergerak dalam perasaan kita
dan dalam kehidupan kita sebagaiman Al-Qur’an itu bekerja dan dan bergerak
dalam kehidupan Jamaah Islam pertama.


Tafsir Fi Zhilal Al-Quran <http://eramuslim.com/syariah/tafsir-zhilal/>
eramuslim.com
-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/
FS: [email protected]
mobile: 021 950 42948

Kirim email ke