By Republika Newsroom
Jumat, 30 Oktober 2009
JAKARTA--Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto
mengatakan, frekuensi pasar ritel khusus untuk sukuk akan dikembangkan
pada tahun depan.

"Saat ini syariah investor baru sebesar 5-6
persen, kita akan mengintensifkan sosialisasi dan ke depannya juga
untuk meningkatkan komunikasi," ujarnya disela-sela pelaksanaan Temu
Nasional di Hotel Ritz Carlton Pacific Place Jakarta, Kamis malam.

Rahmat
menambahkan, pihaknya akan tetap menerbitkan sukuk setiap dua minggu
sekali hingga akhir tahun dan karena penerbitan melalui lelang
penyerapannya masih kurang, maka akan diterbitkan sukuk dengan cara
"private placement" atau "book building".

"Penyerapan melalui
lelang masih kurang walau dari sisi `pricing` lebih kompetitif maka
nanti kita akan menempuh semuanya lelang, `private placement` dan `book
building`," ujarnya.

Penentuan nilainya, menurut Rahmat, akan
tergantung dari daya serap pasar dan kekurangan yang terjadi pada sukuk
dapat dikompensasikan di Surat Utang Negara (SUN). Jadi target
penerbitan obligasi tetap pada Surat Berharga Negara, bukan target
individual.

"Kalau penerbitan sukuk kurang, kita tutupi dengan
SUN dan sekarang kita masih mempelajari instrumen yang bisa kita
terbitkan," ujarnya.

Menurut Rahmat, dengan model "private
placement", pihaknya akan meningkatkan komunikasi kepada pasar seperti
yang telah dilakukan kepada lelang SUN.

"Permintaan `yield` pada
lelang terakhir sangat tinggi bahkan lebih tinggi dari kuotasi pasar
bahkan pasar mengatakan sukuk masih likuid, jadi mereka minta tambahan
premi untuk resiko likuiditas," ujarnya.

Rahmat mengatakan ada
kemungkinan premi akan diberikan kepada investor syariah apalagi dengan
adanya instrumen penerbitan yang bervariasi dengan biaya yang efisien.

"Bisa
dikatakan kita akan mengutamakan penerbitan sukuk untuk `private
placement` dengan pengembangan instrumen ritel karena dalam pasar ritel
siapa pun bisa membeli dan itupun bila investor benar-benar
menginginkan instrumen syariah," ujarnya.

Rahmat menambahkan
dengan "private placement" atau "book building" nantinya akan lebih
mudah melakukan alokasi seperti pada global sukuk dan lebih banyak
kepada investor syariah.

Menurut Rahmat, komitmen pemerintah
dalam pengembangan pasar sukuk sangat kuat karena itu nanti sistem
keuangan dan lembaga akan diperkuat agar dapat mengamankan pembiayaan
dalam jangka panjang.

Dalam lelang sukuk terakhir, satu-satunya
seri yang dimenangkan pemerintah adalah IFR003 dengan masa jatuh tempo
paling pendek enam tahun senilai Rp200 miliar dari nilai penawaran
Rp1,421 triliun.

Imbal hasil rata-rata tertimbang yang
dimenangkan IFR003 adalah 9,59 persen dengan total penawaran yang masuk
nilainya mencapai Rp4,173 triliun. ant/ahi

 http://zanikhan.multiply.com/profile



      

Kirim email ke