By Republika Newsroom
Rabu, 28 Oktober 2009
JAKARTA--Kondisi ekonomi makro yang telah pulih dan kepastian
kepemimpinan pemerintahan Indonesia menjadi faktor pemicu mulai
membaiknya kondisi pasar sukuk. 

Menurut Direktur Utama Karim
Business Consulting, Adiwarman A Karim, dalam lelang Surat Berharga
Syariah Negara (SBSN) lalu pemerintah tampaknya ingin memberi sinyal
pada pasar bahwa keadaaan sudah mulai membaik. 

“Pemerintah
ingin memberi sinyal pada pasar bahwa keadaan sudah jauh lebih baik
dengan krisis global sudah mulai pulih dan ketidakpastian pemerintahan
saat Pemilu juga sudah lewat, sehingga imbal hasil tidak setinggi
beberapa waktu lalu,” kata Adiwarman kepada Republika, Rabu (28/10). 

Ia
menambahkan pemerintah memberi imbal hasil tinggi beberapa waktu lalu
karena krisis ekonomi global terjadi, namun saat kondisi sudah mulai
pulih imbal hasil yang diberikan lebih murah. Apalagi, lanjutnya,
kebutuhan penutupan defisit anggaran pemerintah tak terlalu mendesak
sehingga pemerintah hanya menyerap Rp 200 miliar. Realisasi penerbitan
obligasi pemerintah sendiri telah mencapai 92 persen. 

Ketidakpastian
kondisi ekonomi dan pemerintahan Indonesia yang sudah berlalu juga
mendorong sejumlah emiten untuk menerbitkan sukuk. 

Adiwarman
mengatakan hal tersebut membuat emiten tertentu menjadi lebih yakin
untuk turut serta menerbitkan sukuk, selain obligasi konvensional. “Hal
itu memberi pesan bahwa di 2010 keadaan akan semakin lebih baik. Pasar
sukuk juga akan mulai ramai di tahun depan,” tandas Adiwarman. gie/ahi

 http://zanikhan.multiply.com/profile



      

Kirim email ke