assalaamu’alaikum wr. wb. Setiap kali Hari Raya Idul Adha menjelang, selalu terdengar sayup-sayup perdebatan tentang putra Nabi Ibrahim as. yang diperintahkan Allah SWT untuk disembelih; Nabi Isma’il as.-kah dia, atau Nabi Ishaq as.? Meskipun hanya sayup-sayup, namun tak ayal perdebatan ini juga menimbulkan rasa was-was dalam hati sebagian kaum Muslimin. Memang, “was-was” itu sendiri adalah serapan dari sebuah kata dalam bahasa Arab yang menggambarkan suara halus yang terdengar dalam jiwa dan membuatnya resah.
Ada yang mengungkit-ungkit lagi masalah yang sebenarnya sudah bulat disepakati oleh para ulama ini, hanya dengan alasan bahwa Al-Qur’an tidak secara tegas menyatakan siapa putra Nabi Ibrahim as. yang dimaksud itu. Bagi mereka, Al-Qur’an memang ‘serba tidak jelas’; tidak tegas mengharamkan rokok, tidak tegas melarang homoseksualitas, dan seterusnya. Herannya, mereka tak pernah mengangkat kajian tentang hukum menikah dengan anjing, padahal urusan yang satu ini juga tidak pernah secara eksplisit diharamkan di dalam Al-Qur’an. Tentu saja, bagi umat Muslim yang berakal sehat, tentu mereka tak mengharapkan segala sesuatunya akan dibahas secara eksplisit di dalam Al-Qur’an. Kalau demikian, tentu Al-Qur’an akan diturunkan hingga berjilid-jilid, lebih tebal dari ensiklopedia mana pun! Pengalaman mengajarkan kita untuk menyikapi setiap perdebatan tajam di kalangan umat mengenai masalah yang nampak dibuat-buat seperti ini dengan mengajukan sebuah pertanyaan: siapa yang memulainya? Kalau kita jeli melihat persoalan, kita akan memahami bahwa seorang Muslim sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan siapa yang akan disembelih. Baik Nabi Isma’il as. maupun Nabi Ishaq as. adalah sama-sama Rasul yang terpuji dan kita cintai dengan kecintaan yang sama, meskipun keterangan tentang keduanya sangat terbatas. Umat Muslim meyakini bahwa yang akan disembelih adalah Nabi Isma’il as., bukan Nabi Ishaq as., karena adanya bukti-bukti yang kuat. Satu diantaranya yang paling mudah untuk dipahami adalah bahwa ibadah qurban itu sendiri pada jaman Rasulullah saw. telah dirayakan oleh penduduk Mekkah, dan bukan oleh kalangan Ahli Kitab yang hidup di sekitar wilayah Al-Quds. Karena Nabi Isma’il as. adalah penduduk kota Mekkah, dan bukannya Nabi Ishaq as., maka patut kita mempercayai bahwa peristiwa qurban ini memang berkaitan dengan diri beliau. Berkebalikan dengan kondisi ini, kalangan Nasrani dan Yahudi justru tidak menjadikan peristiwa penyembelihan itu sebagai tonggak awal disyariatkannya suatu ibadah, melainkan sebagai alat doktrinasi khusus. Di masa lampau, kaum orientalis Barat biasa menyebut ajaran Islam sebagai “Mohammedanism” (karena menurut mereka Nabi Muhammad saw.-lah yang merumuskan seluruh ajaran Islam), bahkan “Hagarism” (“Hagar” adalah sebutan mereka untuk Hajar, istri Nabi Ibrahim as. yang melahirkan Nabi Isma’il as.). Sebutan yang terakhir ini sebenarnya dimaksudkan sebagai olok-olok. Dalam pandangan Ahli Kitab, keturunan Hajar memang lebih hina daripada keturunan Sarah (ibunda Nabi Ishaq as.). Sebab, Hajar dulunya adalah seorang budak. Maka di mata mereka, Islam adalah agama yang rendah, karena merupakan agamanya bangsa keturunan budak. Sebaliknya, Bani Israil merasa dirinya lebih mulia karena berasal dari keturunan seorang perempuan yang merdeka. Bagi kaum Bani Israil (yang kemudian melahirkan agama Nasrani dan Yahudi) ini, keterpilihan Nabi Ishaq as. (atau Isaac menurut dialek mereka) mengandung makna strategis, sebab ia melambangkan keutamaan Bani Israil di antara bangsa-bangsa lainnya. Marilah sekali lagi kita cermati betapa kontrasnya pandangan ini dengan perspektif umat Muslim. Dalam kacamata Islam, manusia menjadi lebih mulia daripada yang lain karena ketaqwaannya, bukan karena ia keturunan dari seorang Nabi yang pada masa mudanya akan disembelih berdasarkan perintah Allah SWT. Keturunan Nabi Ishaq as. tidak menjadi tercela hanya karena bukan ia yang akan disembelih. Sebaliknya, keturunan Nabi Isma’il as. pun tidak semuanya mulia (contoh: Abu Lahab). Buya Hamka sudah sejak lama mewanti-wanti agar umat Muslim tidak mencontoh kecongkakan Bani Israil. Menurut beliau, nama “Nasrani” dan “Yahudi” pun sudah kental aroma kesombongannya. Nama “Nasrani” terambil dari nama “Nashirah” (Nazareth), yaitu nama tempat kelahiran Nabi ‘Isa as. Oleh karena itu, “Nasrani” adalah nama agama-bangsa. Adapun nama “Yahudi” konon terambil dari nama Yehuda, yaitu salah seorang anak Nabi Ya’qub as., dan karenanya, Yahudi bisa dianggap sebagai nama agama-keluarga. Sampai sekarang pun, realitanya, masih terjadi ketidakadilan rasialis di kalangan umat Yahudi, karena penganut agama Yahudi yang berkulit hitam dari Afrika justru direndahkan oleh umat Yahudi yang lainnya. Sebab, dalam pandangan mereka, orang-orang Afrika bukanlah berasal dari garis keturunan Nabi Ya’qub as. Sebaliknya, Islam tidak mengambil namanya dari wilayah asalnya, sehingga ia tidak disebut sebagai agama ‘Arabiyyah atau Makkiyyah, misalnya. Ia tidak juga disebut sebagai agama Mohammedanism, kecuali oleh kalangan orientalis saja. Sejak awal Islam sudah dikenal sebagai Islam; yang tidak membedakan antara keturunan Ethiopia dengan keturunan Romawi. Jika sudah mengucap syahadatain, maka ukuran yang membedakannya hanyalah ketaqwaan, lainnya tidak. Buya Hamka berpesan agar Islam jangan sampai diarahkan untuk menjadi agama bagi bangsa atau penduduk wilayah tertentu saja, melainkan sebagai ajaran lurus yang memberi petunjuk kepada seluruh anak-cucu Nabi ‘Adam as. Setiap kali merayakan Idul Adha, umat Muslim menjadikan kisah penyembelihan putra Nabi Ibrahim as. sebagai cermin bagi dirinya masing-masing. Tak habis-habisnya hikmah digali dari kisah itu, dan tak lelah-lelahnya ulama menceritakannya kembali. Semua orang diseru untuk menyembelih hewan sebagai bentuk dari usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kita memuji Nabi Ibrahim as. dan Nabi Isma’il as., tanpa pernah sekali pun merendahkan Nabi Ishaq as. atau pun para Nabi lainnya. Kita memandang peristiwa penyembelihan tersebut dengan cara yang sama sekali berbeda, dan menyikapinya juga dengan cara yang sama sekali berlainan dengan yang telah dilakukan oleh umat Nasrani dan Yahudi. Kita tidak menyembah apa yang mereka sembah, dan kita tidak beribadah dengan cara sebagaimana mereka beribadah. Inilah agama kita, dan demikianlah agama mereka. wassalaamu’alaikum wr. wb. sumber :http://akmal.multiply.com/journal/item/766 Dari Atas Satu Tanah Tempat Kita Berpijak: Teruslah Bergerak dan Jemput Kemenangan Yang Allah T'lah Janjikan di Ujung Kegelapan Apapun yang Kita Terima !! www.telagaalkautsar.wordpress.com Mahasiswa Akuntansi Syariah, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser. Dapatkan IE8 di sini! http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

