By Republika Newsroom Sabtu, 05 Desember 2009 JAKARTA--Krisis Dubai menjadi suatu pelajaran bagi industri keuangan syariah untuk menciptakan tata kelola yang benar. Namun di sisi lain krisis tersebut pun menciptakan peluang bagi ekonomi syariah di Indonesia untuk berkembang.
Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia, Ahmad Riawan Amin, mengatakan bahwa berbicara mengenai Dubai maka akan dibahas pula mengenai ekonomi syariah. Namun, tambahnya, hal yang berbeda antara Dubai dan Indonesia adalah pasar modal Dubai yang overleverage. “Kalau di Indonesia price earning rationya 15 atau 20 kali, tetapi di Dubai bisa sampai 50 kali. Dubai juga mengalami overbuild untuk gedung bangunan sehingga sekarang banyak yang kosong,” kata Riawan di sela Islamic Economics and Finance Vaganza Trisakti di Hotel Sahid, Jumat malam (4/12). Terkait dengan krisis Dubai ia menambahkan, jika dibandingkan dengan ekonomi konvensional, ekonomi syariah akan lebih mampu bertahan jika dijalankan dengan tata kelola dan keuangan yang benar. Ia mengungkapkan, krisis Dubai pun dapat berdampak positif terhadap Indonesia. Bersama dengan Cina dan India yang mengalami pertumbuhan perekonomian positif, jelas Riawan, membuat peluang Indonesia sangat besar. “Sekarang saatnya fokus ke daerah dengan masyarakat muslim terbesar, yaitu Indonesia,” kata Riawan. gie/irf http://zanikhan.multiply.com/profile

