By Republika Newsroom
Sabtu, 05 Desember 2009
JAKARTA--Industri keuangan syariah dapat berkembang lebih pesat jika
ada kesamaan paradigma bahwa ekonomi syariah adalah sebagai suatu
solusi. Saat ini ekonomi syariah dipandang sebagai sebuah alternatif.

Menurut
Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia, Ahmad Riawan Amin kini
faktanya pelaku keuangan syariah, regulator dan pemerintah melihat
ekonomi syariah sebagai alternatif. 

“Saya melihat ekonomi
syariah sebagai solusi. Kalau terus melihatnya sebagai alternatif maka
pertumbuhannya pun tetap seperti sekarang. Misalnya pangsa pasar
perbankan syariah yang ditargetkan 5 persen tetapi di sisi lain aset
perbankan konvensional naik terus maka pangsa pasar tidak akan
tercapai,” kata Riawan di sela Islamic Economics and Finance Vaganza
Universitas Trisakti, Jumat malam (4/12). 

Di 2010 ia
mengungkapkan setidaknya ada potensi pertumbuhan industri sebesar 40
persen. Namun untuk mendorong pertumbuhan market share perbankan
syariah, ia menuturkan bahwa spin off unit usaha syariah (UUS) menjadi
bank umum syariah (BUS) belum berkontribusi besar bagi pertumbuhan
industri perbankan syariah Indonesia. 

Menurutnya, pangsa pasar
perbankan syariah tergantung pada bank konvensional, bukan kepada BUS
dan UUS. “Pangsa besar baru tercapai jika Gubernur BI menanyakan kepada
bank konvensional mengenai target konversi aset bank konvensional
menjadi syariah dalam 3-5 tahun ke depan,” tandas Riawan.

Untuk
mengejar perbankan konvensional diakuinya cukup sulit, karenanya untuk
mempercepat laju industri perbankan syariah adalah dengan mengonversi
bank konvensional menjadi syariah. “Dan hal itu tidak dapat dilakukan
jika tidak ada political will yang didasari kesadaran ekonomi syariah
dijadikan sebagai tonggak solusi perekonomian nasional jangka panjang,”
papar dia. gie/ahi

 http://zanikhan.multiply.com/profile



      

Kirim email ke