By Republika Newsroom Rabu, 09 Desember 2009 JAKARTA--Industri perbankan syariah Indonesia mendapat perhatian dari Bank Sentral Nigeria. Sejumlah delegasi bank sentral negara tersebut mengunjungi Bank Pembiayaan Rakyat SYariah (BPRS) Harta Insan Karimah, Bekasi pada Rabu (9/12). Pimpinan delegasi bank sentral Nigeria, Walter Ahrey menuturkan tujuan kunjungan Indonesia adalah untuk mempelajari microbanking yang diterapkan di Indonesia baik oleh bank syariah maupun bank konvensional.
"Kami melihat perbankan Indonesia baik syariah dan konvensional cukup baik di microbanking. Kami ingin mengetahui juga bagaimana Indonesia promote keuangan syariahnya terutama dukungannya kepada usaha mikro karena itu kami ingin mengunjungi langsung regulator dan operator perbankan Indonesia," kata Walter usai kunjungan ke kantor BPRS HIK Bekasi, Rabu (9/12). Sebelumnya delegasi Bank Sentral Nigeria telah berkunjung ke Bank Indonesia dan BRI. Walter menambahkan Nigeria belum memiliki lembaga keuangan syariah, padahal potensi pasar syariah di negaranya cukup besar. "Warga muslim di Nigeria cukup banyak tetapi mereka kurang percaya jika ke bank konvensional, karena itu kami tertarik untuk studi perbankan syariah di Indonesia, yang merupakan hal insidentil karena kedatangan ke Indonesia sebenarnya untuk mempelajari tentang microbanking," kata Walter yang merupakan Director Corporate Strategy Department Central Bank Nigeria. Sebelumnya bank sentral Nigeria telah mengunjungi Malaysia untuk studi perbankan syariah. Bank sentral Nigeria belum memiliki peraturan perbankan syariah. Namun kini sedang merintis pembuatan peraturan perizinan lembaga keuangan syariah. Ia melihat keuangan syariah berkontribusi cukup besar dalam menggerakkan sektor informal. Sementara itu, Direktur Utama BPRS HIK, Okta Prawisma Yepri mengatakan dengan kunjungan tersebut membuktikan industri keuangan syariah terutama BPRS dilirik oleh negara lain. "Kunjungan ini memacu pelaku untuk terus meningkatkan kinerja usaha secara berkelajutan dan meningkatkan performa, tidak hanya efisiensi operasional tetapi juga pelayanan transaksi yang akurat dan sesuai kebutuhan nasabah," kata Yepri. BPRS yang fokus ke komunitas memiliki kedekatan dengan masyarakat.Delegasi Nigeria sendiri tertarik akan pertumbuhan BPRS HIK yang cukup signifikan. Di awal pendiriannya di 2005 BPRS HIK memiliki aset Rp 3,1 miliar, namun kini asetnya telah mencapai Rp 39,9 miliar. Per nOvember BPRS HIK mencatat pembiayaan Rp 30,6 miliar, dana pihak ketiga Rp 21,3 miliar dan labaRp 1,6 miliar. gie/kpo http://zanikhan.multiply.com/profile

