By Republika Newsroom Kamis, 10 Desember 2009 JAKARTA--Bank syariah Indonesia harus mempersiapkan investasi yang cukup besar di 2010. Selain untuk terus mengembangkan industri perbankan syariah, hal itu dilakukan demi mempersiapkan diri jika bank syariah asing masuk ke Indonesia.
Sekretaris Umum Asosiasi Bank Syariah Seluruh Indonesia (Asbisindo), Bambang Sutrisno, mengatakan saat bank syariah asing masuk ke Indonesia, konsekuensinya bank syariah lokal harus siap berinvestasi. “Saya harapkan 2009 atau paling lambat 2010 bank syariah eksisting siapkan investasi lebih besar untuk menyongsong datangnya pemain baru dalam bisnis bank syariah. Kalau mereka tidak melakukan investasi besar-besaran di 2010 saya kira dalam 3-4 tahun kedepan posisi mereka bisa saja disalip oleh bank-bank asing,” kata Bambang, Kamis (10/12). Ia memaparkan hal yang perlu dipersiapkan adalah sistem dan teknologi, jaringan, dan SDM. Pasalnya, ungkap Bambang, jika perbankan syariah tidak menyediakan infrastruktur, SDM dan teknologi dengan baik, dikhawatirkan pelaku akan sulit berkompetisi. Namun ia yakin hal tersebut tentu akan menjadi tantangan bagi bank syariah eksisting untuk memperbaiki kualitas layanan dan outlet. “Saya melihat langkah itu juga sudah disadari oleh sejumlah bank dengan membuka banyak kantor cabang yang modern dan investasi sistem dan jaringan untuk memantapkan posisi mereka,” jelas Bambang. Bambang menuturkan masuknya sejumlah pelaku baru di industri perbankan syariah hendaknya dilihat sebagai perkembangan positif. Potensi perbankan syariah Indonesia yang besar menjadi peluang yang dibaca oleh para investor. Jika dibanding negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) lainnya, ujar Bambang, pangsa pasar perbankan syariah Indonesia masih kecil. “Masuknya investor akan semakin memperbesar kue perbankan syariah dan memperkuat likuiditas perekonomian Indonesia,” tutur Bambang. Selain itu, tambahnya, masuknya investor juga akan memperluas jaringan perbankan dan produk keuangan syariah. Adanya inovasi produk pun akan membuat layanan perbankan syariah semakin lengkap dan variatif. “ Dengan masuknya investor asing maka akan banyak produk yang ikut serta. Di timur tengah mungkin ada 100 lebih produk bank syariah yang belum kita implementasikan disini,” ungkap Bambang. Adanya persaingan, lanjutnya, dapat memberikan implikasi positif baik bagi industri maupun dunia usaha karena akan diperoleh layanan yang lebih baik kepada masyarakat. Sementara itu, Syariah Banking Group Head CIMB Niaga, Didik Hadi Sunaryo, tak menampik hadirnya sejumlah pelaku perbankan syariah baru di 2010 akan membuat persaingan kian ketat. “Kebanyakan bank syariah asing memiliki produk investasi dan kalau mereka bisa bentuk produk investasi bisa saja leading karena selama ini di Indonesia kebanyakan produk komersial,” kata Didik, kemarin. Namun produk investasi sendiri, jelas Didik, belum terlalu populer di Indonesia. Meski demikian menghadapi hal itu, pihaknya telah mempersiapkan sejumlah langkah di 2010, di antaranya adalah produk investasi di 2010. “Untuk di tahun depan kita akan mengembangkan produk investasi, mungkin seperti commodity murabahah atau L/C,” kata Didik. Di 2010 UUS CIMB Niaga juga akan mengembangkan syariah charge card. Selain itu, tambahnya, untuk teknologi UUS CIMB Niaga pun telah siap. Dengan konsep dual banking system yang diusung CIMB Niaga teknologi UUS CIMB Niaga pun telah masuk dalam core system CIMB Niaga. “Sebelum merger teknologinya sendiri tetapi sekarang teknologinya lebih bagus dengan sistem dual banking,” ujar Didik. CIMB Niaga merupakan hasil merger antara Bank Lippo dan Bank Niaga dengan mayoritas pemegang saham adalah CIMB Group. gie/taq http://zanikhan.multiply.com/profile

