assalamu'alaikum guys..
kejadian.. udah banyak nelen komen, hehe.. anyway, any comments?
Dear teman,
Saya dpt e-mail dari seorang sahabat, mudah2an menjadi penyemangat untuk
melanjtkan perjuangan kita sebagai co-pilot alias pendamping suami :-).
Semangat ya...
Salaam,
Sandra Hakiem
Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga
Penulis: Ummu Ayyub
Muroja'ah: Ust Abu Ahmad
Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas
ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah
per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke
luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan
telah dia raih. Benar seperti itukah?
Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih
dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai
materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari
wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah
saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya
wanita `menunjukkan eksistensi diri' di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal
di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.
Kita bisa dapati ketika seorang ibu
rumah tangga ditanya teman lama "Sekarang kerja dimana?" rasanya terasa berat
untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara
lirih sambil tertunduk "Saya adalah ibu rumah tangga". Rasanya malu! Apalagi
jika teman lama yang menanyakan itu "sukses" berkarir di sebuah perusahaan
besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas
ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak
berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus
berhadapan dengan "nasehat" dari bapak tercintanya: "Putriku! Kamu kan sudah
sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak."
Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu
sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.
Ibu Sebagai Seorang Pendidik
Syaikh Muhammad bin Shalih al `Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa
perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara
lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai
urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena
merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di
balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar
peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah.
Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta'ala yang artinya:
"Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan
bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah
sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah
bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan
kamu sebersih-bersihnya. " (QS. Al-Ahzab: 33)
Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para
ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam
pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari
mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka,
menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup,
kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana
beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka
akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak
sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka
arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang
lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut
banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan
pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk
kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal
semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan
kesabaran untuk membiasakannya.
Sebuah Tanggung Jawab
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan- Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
" (QS. At Tahrim: 6)
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang artinya: "Peliharalah dirimu dan
keluargamu!" di atas menggunakan Fi'il Amr (kata kerja perintah) yang
menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang
mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.
Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu `anhu
berkata, "Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan
keluargamu." (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia
mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun
keduanya tidak mengeluarkannya)
Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus
mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk
mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.
Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu
wa ta'ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada
hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya.
Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun
mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Kami
wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya." (QS. Al
Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, "Peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api
neraka yang berbahan bakar manusia dan batu." (QS. At Tahrim: 6)
Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan
pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan
begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab
kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka,
tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak
ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak
mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat
bagi ayahnya.
Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala yang
artinya:
"dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat." (QS asy Syu'ara': 214)
Abdullah bin Umar radhiyallahu `anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu
`alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Kaum lelaki adalah pemimpin bagi
keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun
pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab
atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya,
dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin
dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. " (HR. Bukhari 2/91)
Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan
keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut
mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat
membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak
kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar
yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.
Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih
Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak
kita yang
usia 5 tahun mulai menumpuk, "Mau untuk apa nak, tabungannya? " Mata rasanya
haru ketika seketika anak menjawab "Mau buat beli CD murotal, Mi!" padahal
anak-anak lain kebanyakan akan menjawab "Mau buat beli PS!" Atau ketika ditanya
tentang cita-cita, "Adek pengen jadi ulama!" Haru! mendengar jawaban ini dari
seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi "pengen jadi Superman!"
Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan
telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk
setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan
bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita
begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu
saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…)
Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?
Setelah kita memahami besarnya peran
dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang
ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak
dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana
pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah
terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat
mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya…
Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim
bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh!
sangat jauh perbandingannya.
Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga
mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka
dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu
nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka.
Membesarkan
anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!
Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya
yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap
kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak
inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah
kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli
rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10
pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa
memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan
bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.
Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini
hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan.
Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah
mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang
dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak
mereka?
Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur,
ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak
mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan
kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?
Lalu…
Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata `cuma'? dengan
tertunduk dan suara lirih karena malu?
Wallahu a'lam
Maroji':
1. Dapatkan Hak-Hakmu, Wahai Muslimah oleh Ummu Salamah as Salafiyyah. Judul
asli: Al-Intishaar li Huquuqil Mu'minaat
2. Mendidik Anak bersama Nabi oleh Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Judul
Asli: Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl
3. Majalah Al Furqon Edisi: 8 Tahun V/Rabi'ul Awwal 1427/April
2006
ps : Idealisme normatif atau realistiskah ditengah kejamnya fitnah dunia ini,
bagai buah simalakama
--
visit www.sigitwahyu. net
ilmu dan hikmah
balancing mind and soul
Apa dia selingkuh? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers.
http://id.answers.yahoo.com