Assalamu'alaikum Wr.Wb
Saya setuju dg tulisan mba risnandar. Walaupun saya belum menjadi ibu RT tp 
saya juga sudah merasakan dampak dari ibu yang bekerja, karena saya seorang 
pengajar di lembaga formal/non formal.
Saya mengamati selama ini anak2 yg ibunya wanita karir kebanyakan dari mereka 
agak susah diatur, dari segi akhlak kurang baik, dan prestasi belajar mereka 
juga kurang baik. Alasannya tentu saja  karena sang ibu ketika sampai di rumah 
sudah lelah fisik dan psikis, sehingga sudah kehabisan waktu dan tenaga untuk 
mencurahkan perhatian mereka untuk sang anak.
Bagi saya wanita tetap bisa produktif walaupun dia di rumah hanya menjadi ibu 
rumah tangga dan tidak bekerja di luar. Contohnya bisa berbisnis dari rumah 
atau membuka tempat les yang memang tidak telalu menguras tenaga, pikiran ,dan 
waktu.
Saya tidak menafikan kebutuhan rumah tangga saat ini lebih besar dibandingkan 
dahulu, apalagi usia anak sekolah saat ini lebih cepat daripada zaman saya 
dulu. Usia 3 tahun misalnya sudah masuk playgroup.  Jadi, jika para istri ingin 
membantu perekonomian suami mereka tetap bisa melakukannya dari rumah.
Tapi saya tidak menyalahkan para ibu yang bekerja karena terdesak kebutuhan 
ekonomi yang memaksa mereka harus bekerja di luar rumah. Seperti dalam kondisi 
suami tidak bekerja/ meninggal.
Terlepas dari itu semua saya rasa setiap wanita harus bisa mencari uang dan 
tidak selalu menggantungkan semua kebutuhan hidupnya kepada suami, dan semua 
itu bisa dilakukan tanpa harus bekerja di luar rumah, sehingga anak tetap 
terkontrol. Mengapa? ini untuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak 
diduga dan diharapkan. Seperti suami di phk/meninggal dunia/ berpisah. Sehingga 
para istri mempunyai kemampuan finansial untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan 
hidup anak-anaknya.
'Alla kulli haall. Semua pendapat sah-sah saja dan anda berhak untuk pro/kontra 
untuk masalh yang satu ini.
 Wallahu 'alam bishowab
Wassalamu'alaikum Wr.Wb

 Pada Sab, 12/12/09, risnandar <[email protected]> menulis:

Dari: risnandar <[email protected]>
Judul: {FoSSEI} Fw: OOT: [PCIA-KL] Fw: Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga
Kepada: 
Tanggal: Sabtu, 12 Desember, 2009, 10:47 PM







 



  


    
      
      
      

assalamu'alaikum guys..
 
kejadian.. udah banyak nelen komen, hehe.. anyway, any comments?










Dear teman, 
Saya dpt e-mail dari seorang sahabat, mudah2an menjadi penyemangat untuk 
melanjtkan perjuangan kita sebagai co-pilot alias pendamping suami :-). 
Semangat ya... 

Salaam,
Sandra Hakiem









 





Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga

Penulis: Ummu Ayyub
Muroja'ah: Ust Abu Ahmad



Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas 
ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah 
per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke 
luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan 
telah dia raih. Benar seperti itukah?

Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih 
dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai 
materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari 
wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah 
saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya 
wanita `menunjukkan eksistensi diri' di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal 
di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu
 rumah tangga ditanya teman lama "Sekarang kerja dimana?" rasanya terasa berat 
untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara 
lirih sambil tertunduk "Saya adalah ibu rumah tangga". Rasanya malu! Apalagi 
jika teman lama yang menanyakan itu "sukses" berkarir di sebuah perusahaan 
besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas 
ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak 
berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus 
berhadapan dengan "nasehat" dari bapak tercintanya: "Putriku! Kamu kan sudah 
sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak." 
Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu 
sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.

Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Syaikh Muhammad bin Shalih al `Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa
 perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara 
lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai 
urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena 
merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di 
balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar 
peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. 
Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta'ala yang artinya:

"Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan 
bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah 
sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah 
bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan 
kamu sebersih-bersihnya. " (QS. Al-Ahzab: 33)

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para
 ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam 
pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari 
mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, 
menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, 
kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana 
beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka 
akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak 
sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka 
arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang 
lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut 
banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan 
pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk 
kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal
 semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan 
kesabaran untuk membiasakannya.

Sebuah Tanggung Jawab

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api 
neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang 
kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang 
diperintahkan- Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. 
" (QS. At Tahrim: 6)

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang artinya: "Peliharalah dirimu dan 
keluargamu!" di atas menggunakan Fi'il Amr (kata kerja perintah) yang 
menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang 
mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.

Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu `anhu 
berkata, "Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan
 keluargamu." (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia 
mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun 
keduanya tidak mengeluarkannya)

Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus 
mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk 
mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu 
wa ta'ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada 
hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. 
Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun 
mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Kami 
wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya." (QS. Al 
Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, "Peliharalah dirimu dan 
keluargamu dari api
 neraka yang berbahan bakar manusia dan batu." (QS. At Tahrim: 6)

Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan 
pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan 
begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab 
kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, 
tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak 
ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak 
mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat 
bagi ayahnya.

Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala yang 
artinya:

"dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat." (QS asy Syu'ara': 214)

Abdullah bin Umar radhiyallahu `anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu 
`alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Kaum lelaki adalah pemimpin bagi
 keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun 
pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab 
atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, 
dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin 
dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. " (HR. Bukhari 2/91)

Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan 
keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut 
mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat 
membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak 
kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar 
yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih

Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh?
 Ketika tabungan anak kita yang
 usia 5 tahun mulai menumpuk, "Mau untuk apa nak, tabungannya? " Mata rasanya 
haru ketika seketika anak menjawab "Mau buat beli CD murotal, Mi!" padahal 
anak-anak lain kebanyakan akan menjawab "Mau buat beli PS!" Atau ketika ditanya 
tentang cita-cita, "Adek pengen jadi ulama!" Haru! mendengar jawaban ini dari 
seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi "pengen jadi Superman!"

Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan 
telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk 
setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan 
bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita 
begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu 
saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) 
Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon
 ibu-?

Setelah kita memahami besarnya peran
 dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang 
ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak 
dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana 
pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah 
terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat 
mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… 
Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim 
bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! 
sangat jauh perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga 
mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka 
dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu 
nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. 
Membesarkan
 anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!

Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya 
yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap 
kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak 
inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah 
kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli 
rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 
pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa 
memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan 
bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini 
hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. 
Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah
 mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang 
dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak 
mereka?

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, 
ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak 
mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan 
kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?

Lalu…

Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata `cuma'? dengan 
tertunduk dan suara lirih karena malu?

Wallahu a'lam

Maroji':

1. Dapatkan Hak-Hakmu, Wahai Muslimah oleh Ummu Salamah as Salafiyyah. Judul 
asli: Al-Intishaar li Huquuqil Mu'minaat
2. Mendidik Anak bersama Nabi oleh Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Judul 
Asli: Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl
3. Majalah Al Furqon Edisi: 8 Tahun
 V/Rabi'ul Awwal 1427/April
 2006

ps : Idealisme normatif atau realistiskah ditengah kejamnya fitnah dunia ini, 
bagai buah simalakama












-- 
visit www.sigitwahyu. net
ilmu dan hikmah
balancing mind and soul





































      

        Berselancar lebih cepat. 
 Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman 
favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)

    
     

    
    


 



  






      Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke 
Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

Kirim email ke