Hidup Bahagia dengan Mengelola Kegagalan dan KeberhasilanLife Skill22/12/2009 |
05 Muharram 1431 H | Hits: 324Oleh: Dr. Setiawan Budi Utomo dakwatuna.com
– Penulis terkenal Doug Hooper pernah mengatakan “You are what you think” dalam
bukunya dengan judul yang sama dengan kesimpulan bahwa pendapat kita tentang
ihwal diri kita termasuk menyangkut masalah keberhasilan dan kegagalan dari
berbagai pencapaian hidup yang secara konsisten ada dalam benak kita itulah
yang menjadi kenyataan untuk diri kita. Hal senada diungkapkan pula oleh
Stephen R. Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People (1993)
bahwa kita melihat dunia, bukan sebagaimana dunia apa adanya, melainkan
sebagaimana kita adanya atau sebagaimana kita dikondisikan untuk
melihatnya.Seseorang dapat merasa selamanya hidup gagal dan mencap dirinya
sendiri seakan terlahir dan sepantasnya untuk menjadi manusia sial, pecundang
dan gagal. Demikian pula penilaian dan cara
pandangnya terhadap segala hasil usaha dan pencapaian orang lain akan selalu
gagal, negatif dan pokoknya mengecewakan. Hal itu lahir dari sikap diri negatif
yang mendorongnya untuk melihat diri dan dunia luar dengan kacamata kuda yang
gelap dan picik dari satu arah, sehingga hampir tak terlihat sisi pandang lain
secara jernih sekalipun sebenarnya yang ia pandang adalah positif ataupun
terdapat sisi dan unsur positif.Dalam konteks ini, patut kita hayati hadits
qudsi yang meriwayatkan titah Allah bahwa keputusan takdir-Nya terhadap garis
hidup manusia tergantung bagaimana ia berfikir dan berprasangka tentang-Nya.
John Maxwell dalam The Winning Attitude: Your Key to Personal Success (1993)
dalam salah satu dari 6 teori dan aksioma tentang sikap menyimpulkan bahwa
sikap sangat menentukan keberhasilan dan kegagalan mengacu para prinsip
“slight-edge” Menurutnya, sikap kita apakah tetap sabar untuk mencapai tujuan
atau cepat menyerah akan menentukan kita
untuk sukses atau gagal (berhenti usaha).Paul J Meyer pernah mengatakan bahwa
90 % orang-orang yang gagal sebetulnya belum tentu gagal, hanya saja mereka
cepat menyerah. Sebagai ilustrasi rahasia sunnatullah sukses dan gagal ini
dapat kita lihat pada fenomena air yang dimasak sampai mendidih. Air tidak akan
mendidih meskipun telah mencapai 99,9 derajat celsius sebab air hanya akan
mendidih pada 100 derajat celsius dan bukan pada 99,9 derajat meskipun hanya
kurang 0,01 derajat celsius saja.Dalam manajemen keberhasilan dan kegagalan,
diperlukan seni menetapkan pola keberhasilan melalui proses yang terdiri dari
lima langkah sebagaimana tips sukses yang ditawarkan Art Mortell dalam The
Courage to Fail(1993) yaitu;1. Tentukan atau kenali rasa takut yang melemahkan
diri kita;2. beritahu orang lain tentang sebab-sebab kebingungan Anda, yang
dapat membantu membebaskan diri Anda dari rasa takut;3. putuskan bagaimana kita
bisa berhenti bila upaya kita
menimbulkan kekecewaan yang sangat sampai kita yakin bahwa kita dapat
mengendalikan situasi;4. mulailah dengan perlahan-lahan sampai kita bisa
menghadapi tantangan dengan baik dan mengurangi bahaya timbulnya kepanikan;5.
bayangkan diri kita sedang berada di tempat yang menyenangkan, sehingga rasa
takut digantikan oleh emosi yang positif dan mampu menggunakannya untuk
mendorong kreativitas.Kalau kita memandang kegagalan diri dan orang lain di
dunia ini sebagai sesuatu yang ‘gatot’ (gagal total), kiamat dan tamat riwayat,
maka kita akan berhenti pada kegagalan dan tidak akan pernah melihat
keberhasilan. Dalam hidup, yang dikenang orang bahkan yang kita ingat
sebenarnya keberhasilan kita, dan bukannya pengalaman kegagalan kita. Mereka
yang berhasil adalah yang mampu membuat sebuah pondasi yang kokoh dari
batu-bata yang dilemparkan orang lain padanya. Jarang orang yang menyadari
bahwa Isaac Newton pernah lemah prestasi belajarnya ketika di sekolah
dasar, Henri Ford pernah gagal dalam bisnis dan bangkrut sebanyak 5 kali, Dale
Carnegie pernah depresi dahsyat dan sempat terlintas untuk bunuh diri, Winston
Churchill pernah tidak naik kelas enam, Abraham Lincoln pernah diturunkan
pangkatnya menjadi prajurit biasa sebagaimana Khalid bin Walid pernah
dilengserkan Umar bin Khathab dari posisi komandan menjadi prajurit biasa, Nabi
Yusuf sempat menjadi budak yang diperjualbelikan, dan Nabi Muhammad saw. pernah
tidak berjaya pada perang Uhud, pernah terusir, dihina, terlukai dan tidak
dihiraukan.Keberhasilan merupakan bola salju yang bermula dari ukuran kecil
yang terus bergulir untuk terus membesar. Cara kita menyikapi setiap
pencapaian, hasil dan anugerah (nikmat) hidup adalah pola kita memperlakukan
bola salju. Bila kita remehkan dan tidak kita hargai sehingga cenderung
mengabaikannya, maka tidak akan tumbuh besar, bahkan justru akan mencairkan dan
melenyapkannya. Itulah ekspresi jiwa dalam mensyukuri
dan menghargai hasil betapapun adanya. Bukankah Nabi saw bersabda bahwa orang
yang tidak pandai menghargai dan berterima kasih orang lain maka ia tidak akan
dapat bersyukur kepada Allah. Beliau juga berpesan agar kita tidak meremehkan
suatu kebaikan pun. (QS.An-Naml:19, 40, Ibrahim:7)Hargailah proses dan usaha
betapapun hasilnya untuk dapat meraih keberhasilan yang hakiki. Orang yang
pandai bersyukur adalah orang yang pandai berterimakasih, dan orang yang pandai
berterima kasih adalah orang yang pandai menghargai dan orang tidak akan dapat
menghargai apapun bila tidak memahami, menyadari dan menghargai proses serta
usaha. Karakter utama orang shalih adalah menggunakan akal pikiran untuk
memahami proses (Ulul Albab) termasuk segala ciptaan Allah di semesta alam,
sehingga segala ucapan, sikap dan komentarnya selalu positif, menyejukkan,
memotivasi, membersitkan inspirasi, dan penuh kearifan. Refleksi spontan
imani Ulul Albab berupa komentar “Rabana ma
khalaqta hadza bathilan” (Ya Tuhan Kami, tidaklah apapun yang Engkau ciptakan
ini sia-sia, Maha suci Engkau… QS. Ali Imran:191) sebagai bentuk apresiasi dan
penghargaan terhadap proses dan sumber kebaikan, apapun hasil takdir-Nya.Tipe
wanita yang pandai menghargai pencapaian suami bagaimanapun kondisinya sebagai
bagian dari manajemen keberhasilan adalah Ummul Mukminin Khadijah. Di saat-saat
Rasulullah merasa sangat cemas, kesepian, ketakutan, dan merasa ditinggalkan,
maka Khadijah justru mengungkit sisi-sisi kebaikan sosial dan pencapaian moral
Nabi saw yang begitu tinggi sehingga mampu membangkitkan kembali motivasi Nabi
saw. Demikian pula tipe suami yang pandai menghargai istri adalah Rasulullah
saw dimana beliau tidak pernah mencela makanan maupun masakan sebagai
penghargaan terhadap proses usaha dan sumbernya yang Maha Pemberi. Beliau juga
tidak mencela kondisi fisik istrinya Aisyah yang tidak langsing lagi sebagai
penghargaan beliau terhadap
usaha dan pengorbanan Aisyah untuk tetap setia menghibur dan mendampingi Nabi
saw, sehingga beliau cukup menyiratkan pentingnya pemeliharaan tubuh melalui
olahraga lari.Di saat sahabat merasa gagal mempertahankan kualitas iman dan
spiritualitas, Nabi saw memberikan penghargaan terhadap adanya kesadaran untuk
merawat spiritualitas dan beliau memberikan motivasi bahwa kondisi keimanan
seseorang memang fluktuatif sehingga dapat naik dan turun, naiknya dengan
ketaatan dan turunnya dengan ketidakpatuhan. Namun sebaliknya di saat para
sahabat merasa terlalu yakin dengan pencapaian dan prestasi amalnya, beliau
mengingatkan bahwa surga tidak ditentukan oleh amal, melainkan murni karena
rahmat Allah semata termasuk nasib beliau. Hal itu agar para sahabat tidak
berhenti beramal sehingga Allah meridhai dan merahmati mereka.Kata-kata bijak
dan prinsip-prinsip kearifan yang menumbuhkan motivasi dan memacu inspirasi
sangat diperlukan dalam seni manajemen keberhasilan
dan kegagalan bagi diri dan orang lain. Kung-fu-tze pernah ditanya tentang apa
yang akan dilakukan jika ia menjadi kaisar Cina. Tanpa ragu-ragu ia menjawab,
“Aku akan mendidik rakyatku dengan kata-kata yang penuh inspirasi, semoga
dengan menggunakan kata-kata itu mereka akan menjadi generasi bangsa yang gagah
perkasa.”Keberhasilan perlu disongsong, dibangun dan dijaga sebagaimana
kegagalan perlu diantisipasi, dihindari dan dilawan. Don Gabor dalam Big Things
Happen (1997) memberikan 7 daftar pemeriksaan hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam membangun sukses yaitu;1. tetap berusaha dan bekerja untuk membuat
kemampuan ada lebih menonjol dari sebelumnya;2. gunakan bakat Anda dalam banyak
cara sedapat mungkin;3. beri diri Anda kesan dan citra positif untuk mencapai
tujuan;4. cari manfaat dan hikmah dari keberhasilan Anda;5. periksalah arsip
tentang rencana dan program yang belum diselesaikan atau impian yang belum
kesampaian;6. masukkan sebanyak mungkin
pengetahuan dari keberhasilan dan kegagalan Anda sebisa Anda;7. dapatkan
orang-orang yang bisa Anda ajak berbagi pengalaman dan pengetahuan Anda.Orang
tidak akan dapat menghargai setiap pencapaian, prestasi dan hasil diri sendiri
maupun orang lain kalau tidak menyadari dan menghargai proses dan usaha serta
mengingat Allah sebagai sumber segala karunia.Wallahu A’lam Wa Billahit Taufiq
Wal Hidayah. []
Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman
ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/