Merubah Cara Komunikasi dengan Anak yuk!
by. Bunda Agnes Tri Harjaningrum,
"Udah diem! Jangan nakal dong! Jangan nangis terus! Dimarahin pak polisi lho
nanti! Sudahlah, kalo sekali ini aja kamu nggak bisa, ya pasti kamu nggak akan
pernah bisa. Makanya nurut ya sama Mama, berapa kali Mama bilang jangan
naik-naik pohon! Sekarang tahu rasa deh! Masa pake sepatu sendiri aja nggak
bisa? Bisanya apa dong Dek? Lihat tuh si Adek aja udah selesai makannya. Kamu
udah tujuh tahun makan nggak selesai-selesai! Mama bilang, bereskan kamarnya
sekarang! Disuntik nggak sakit koq, kaya digigit semut aja. Udah biarin aja,
nggak usah dipikirin, nanti juga hilang. Masa gitu aja nangis, katanya udah
besar!
Familiar dengan kalimat-kalimat diatas? Ya, tentu saja. Cara
berkomunikasi seperti itulah yang kerap kita dengar dari orangtua kita dulu.
Bahkan hingga sekarang cara berkomunikasi seperti itu masih sering kita lakukan
pada anak-anak kita bukan?. Memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan,
memberi cap, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengeritik,
menyindir, menganalisa, itulah dua belas gaya populer penghalang komunikasi.
Dua belas gaya komunikasi ini memang sangat populer dan rasanya sudah mendarah
daging dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa 12 gaya populer itu menjadi penghalang dalam komunikasi? Mengapa cara
berkomunikasi yang baik dan benar ternyata penting? Apa akibatnya bila cara
berkomunikasi kita dengan anak ternyata keliru? Dan bagaimana cara
berkomunikasi yang sehat itu sesungguhnya?
Dalam Training Parenting dengan tema “Meningkatkan Komunikasi dalam
Pengasuhan Anak tanggal 24 dan 25 November 2007 lalu, ibu Rustika Thamrin Psi.
membahasnya secara mendalam. Ibu Rustika merupakan psikolog dari
yayasan Kita dan Buah Hati Jakarta. PPME (Persatuan Pemuda Muslim Eropa)
Amsterdam bekerja sama dengan Salamaa (komunitas muslimah di Belanda), sengaja
memanfaatkan kedatangan ibu Rustika ke Eropa, untuk bicara di Amsterdam. Acara
training hari pertama dibuka oleh ketua PPME Amsterdam, bapak. yang menyambut
baik diadakannya training parenting ini. Selanjutnya, selama dua hari penuh, 21
orang peserta mengikuti dengan seksama materi-materi dan game-game yang
disajikan oleh Ibu Rustika.
Mengapa cara berkomunikasi masa lalu itu lebih banyak kelirunya? Ternyata,
komunikasi yang selama ini terbangun sejak turun temurun antara orangtua, anak,
pasangan hidup, teman dan sesama, kebanyakan cenderung mengabaikan perasaan
lawan bicara. Padahal komunikasi adalah dasar dari semua hubungan. Jika ada
masalah dalam komunikasi, yang pertama kali jadi korban adalah perasaan. Secara
alamiah, manusia butuh diterima perasaannya, sehingga dia merasa aman dan
nyaman sehingga bisa melanjutkan pembicaraan. Menidakkan perasaan, menasehati,
dan melakukan duabelas gaya populer penghalang komunikasi lainnya, bukan saja
membuat perasaan lawan bicara semakin tidak nyaman, tetapi juga merusak harga
dan kepercayaan diri mereka.
Kalau cara berkomunikasi yang kita lakukan masih banyak yang keliru, bagaimana
mungkin pesan-pesan yang ingin kita sampaikan dapat diterima oleh anak-anak
atau lawan bicara kita. Anak-anak akan menyerap pesan apapun dengan mudah bila
mereka dalam kondisi senang, saat sistem limbik dalam otak kita terbuka, papar
ibu Tika. Cara komunikasi model lampau mungkin memang tak masalah bagi sebagian
orang.Toh dulu aku dididik dengan duabelas gaya populer dan cara pengasuhan
model lama oleh orangtuaku tapi aku masih bisa jadi orang, begitu mungkin kata
sebagian orang. Ya, boleh-boleh saja berpendapat demikian. Tapi jaman
berkembang sedemikian pesat. Pengasuhan anak menghadapi tantangan yang luar
biasa yang membuat kita tidak dapat mengandalkan cara-cara pengasuhan yang
selama ini kita ketahui secara turun temurun. Dan yang paling mendasar harus
kita rubah adalah cara kita bicara atau berkomunikasi!
“Apa kelemahan orang-orang Indonesia pada umumnya? Tanya ibu Tika dalam
satu sesie materi.Orang Indonesia itu kebanyakan kesulitan menjadi problem
solver! Mengapa? Karena umumnya, pecutan kata seperti, Ayo makan! Cepetan
berangkat! Pake baju ini! Dan perintah-perintah lainnya seringkali menghiasi
masa kanak-kanak kita, orang Indonesia. Padahal, gaya komunikasi Ëœmemerintah
semacam ini lah yang umumnya menyebabkan anak jadi kesulitan dalam
menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan. Selain memaparkan akibat negatif
dari Ëœmemerintah", ibu Tika pun memaparkan akibat-akibat negatif dari 12 gaya
populer lainnya beserta solusinya.
Game-game yang dimainkan oleh peserta saat training berlangsung kian
menghangatkan acara. Dengan ekspresifnya, beberapa ibu-ibu memainkan peran
sebagai anak yang ngambek, ibu yang judes, ibu yang bawel, anak yang pasrah dan
lain-lain. Beberapa peserta yang tampil sangat menjiwai perannya mendapatkan
hadiah buku-buku mungil dari yayasan Kita dan Buah Hati. Acara pun tak lupa
diselingi dengan menyanyikan lagu, menggerakkan badan, bahkan menggambar. Tapi
semua kegiatan tersebut tentu tak terlepas dari materi yang disampaikan.
Di hari kedua acara, ibu Tika memberikan materi Menentukan Masalah Siapa ini,
ËœBekerjasama Memecahkan Masalah dan ËœPesan Saya. Dalam sesie-sesie materi
tersebut peserta dilatih untuk memilah masalah siapa. Setelah itu peserta
diberikan rumus untuk ËœMendengar Aktif" (MA) dan juga rumus ËœPesan Saya"
(PS). Pada pokoknya, ibu tak mungkin menjadi super problem solver. Karena itu
anak harus diajarkan untuk mandiri, ucap bu Tika. Caranya dengan menentukan
masalah siapa ini, dan yang punya masalah bertanggungjawab menyelesaikan
masalahnya.Jika masalah ada pada anak, kita gunakan cara MA. Tapi bila masalah
ada di orangtua, gunakan rumus ËœPesan Saya".
Jika kita menggunakan ËœMA" saat anak sedang bermasalah dengan perasaannya atau
saat kita ingin menolak permintaan anak, maka anak akan belajar untuk mengenali
perasaannya, memanage emosinya, dan belajar bahasa respek. Kunci saat melakukan
ËœMA", kita harus menghargai, mendengarkan, menerima anak dengan mata dan hati.
Kita juga perlu mengenali dan menamai perasaan yang muncul pada anak, serta
terbuka dengan bahasa tubuhnya. Dalam training kali ini, peserta diminta untuk
menjawab beberapa soal latihan bagaimana melakukan ËœMA. Contoh gampangnya
begini: Misalkan anak pulang sekolah dengan muka sedih dan menunjukkan hasil
ulangannya, biasanya orangtua akan berkata begini,Udah deh Bang nggak usah
sedih. Makanya abang jangan kebanyakan main ya, belajar yang bener. Mestinya
orangtua bisa melakukan ËœMA" dengan menggunakan kalimat berikut. Abang kecewa
ya karena nilai abang jelek? Lalu setelah anak mengeluarkan emosinya, arahkan
pembicaraan sehingga
anak mampu memberikan solusi terhadap permasalahannya sendiri. Orangtua tak
perlu banyak ikut campur dengan menasehati dan memberi jalan keluar, karena
nantinya anak tak akan pernah belajar.
Bagaimana dengan ËœPS"? ËœPS digunakan bila masalah ada pada orangtua.
Biasanya, kalimat yang sering terdengar dari orangtua adalah pesan kamuâ,
seperti ini: Kamu tuh ga ngerti aja mama lagi sibuk! Dengan kalimat ini,
orangtua tidak membedakan anak dengan perilakunya. Mestinya, ganti kalimatnya
dengan kalimat berikut,Mama kesal, mama terganggu kalau kamu teriak-teriak
begitu karena Mama jadi ga bisa kerja. Tentu saja kalimat tersebut tak perlu
diucapkan dengan amarah berlebihan, cukup dengan ketegasan. Kalimat PS ini akan
membuat anak merasa bahwa perilakunya yang salah bukan dirinya. Anak merasa
lebih dihargai dan juga belajar arti konsekuensi. Ternyata akibat perilaku
anak, ada efeknya bagi Mamanya.
Dengan menyeimbangkan disiplin dan kasih sayang melalui cara berkomunikasi
lewat PS dan MA serta menghindari 12 gaya populer penghalang komunikasi, insya
Allah anak akan menjadi mandiri dan bertanggungjawab. Anak juga akan
menjadi percaya diri, dan memiliki hubungan yang hangat dengan orangtuanya.
Dengan demikian bila godaan dari luar sana menggempur si anak, insya Allah,
anak tetap percaya diri, bisa memilih yang terbaik, mengambil keputusan dan
bertanggungjawab dengan keputusannya.
Karena itu, apakah kita masih ingin menerapkan 12 gaya populer dalam
berkomunikasi? Apakah kita tidak ingin berubah, menerapkan MA dan PS dalam
berkomunikasi dengan anak? Susah Bu, kalau disini sih ingat, nanti sampai
rumah, ga tau ya, begitu kata seorang peserta. Susah memang.Tapi harus dicoba!
Kalau kita coba, Bisa! Ucap bu Tika menutup materi terakhir. Yuk, mari kita
coba! Siapa tahu perubahan cara berkomunikasi kita dengan anak bisa merubah
masa depan bangsa kita!
Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka
dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!
http://id.messenger.yahoo.com/invite/